Banjarbaru, KP – Beberapa waktu terakhir kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalsel semakin menjadi. Luasan yang terbakar terus bertambah.
Tercatat hingg kini luasan yang terbakar mencapai 1.337 hektar.
Kebakaran paling luas terjadi di Banjarbaru mencapai 510 hektar.
Kemudian disusul Tanah Laut dengan luas 317 hektare dan Banjar seluas 267 hektare, sedangkan kabupaten dan kota lain tidak sampai 100 hektare.
Berdasarkan sistem informasi deteksi dini pengendalian kebakaran hutan dan lahan berbasis aplikasi dan web (SiPongi), hingga 10 Agustus di Kalsel sudah ada 3.787 hotspot.
Paling banyak di Balangan jumlahnya 863 titik.
Kemudian disusul Tanah Laut 677 titik, Hulu Sungai Selatan 551 titik, Tapin 449 titik, Banjar 471 titik, Kotabaru 180 titik dan Hulu Sungai Tengah 157 titik. Daerah lainnya kurang dari 100 titik.
Kabid Kesiapsiagaan dan Pencegahan pada BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi menyatakan, Satgas Karhutla sudah ekstra siap dalam menghadapi karhutla. “Perlengkapan dan personel terus siaga,” ucapnya.
Selain itu, dalam penanggulangan karhutla, Pemprov Kalsel juga akan mengusulkan perpanjangan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di langit Kalsel. “Surat usulan masih berproses,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Suria Fadliansyah menyampaikan, pesawat TMC fokus melakukan pembasahan di lahan gambut.
“Kawasan gambut perlu pembasahan, karena kalau terbakar sulit dipadamkan,” ucapnya.
TMC menurutnya sangat membantu dalam penanganan awal karhutla.
“Karena dengan hujan buatan, lahan gambut jadi basah. Serta waduk dan embung akan terisi,” ujarnya.
Selain TMC, upaya penanganan karhutla saat dibantu tiga helikopter patroli dan tiga helikopter waterbombing.
“Kita juga terus memperkuat satgas karhutla di darat,” pungkasnya. (mns/K-2)















