Banjarmasin, KalimantanPost.com – Bank Kalsel terus mengambil langkah konkret dalam
menjamin integritas internal pegawainya guna mencegah tindakan korupsi yang dapat merugikan
perusahaan dan pemerintah daerah sebagai pemegang saham. Sebagai bagian dari komitmen ini, Bank
Kalsel menggelar Pelatihan Internal Penceqahan Korupsi pada Badan Usaha.
Pelatihan tersebut berlangsung disebuah hotel di Banjarmasin, Rabu lalu.
Acara ini diikuti oleh Kepala Divisi dan Kepala Cabang se-Kalimantan Selatan dan Jakarta. Sebagai
penceramah, Bank Kalsel menghadirkan Prof. Dr. Haryono Umar, Ak, CA, M.Sc., yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) periode
2007-2011 dan Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia periode 2012-2015.
Dalam sambutannya, Direktur Utama Bank Kalsel, Fachruddin, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya internalisasi, edukasi, dan sosialisasi mengenai bahaya korupsi pada badan usaha, khususnya Bank Kalsel. Tujuan utama kegiatan ini adalah mewujudkan budaya kepatuhan
dan antikorupsi di setiap lapisan organisasi.
Fachruddin menyatakan harapannya agar para peserta dapat dan mampu mengimplementasikan serta mensosialisasikan arti bahaya korupsi
Yang bawahannya secara struktural. Hal ini diharapkan dapat menciptakan budaya kerja yang patuh dan anti-korupsi hingga di tingkat terendah, sehingga semua anggota organisasi turut aktif.
Acara dilanjutkan dengan sesi sosialisasi oleh Prof. Dr. Haryono Umar, Ak, CA, M.Sc., mengenai Pencegahan Korupsi pada Badan Usaha. Dalam konteks menyambut Hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember.
Prof. Haryono Umar menjelaskan mengapa penting untuk selalu menghadapi dan mencegah korupsi. la menyoroti pentingnya integritas dalam konteks pekerjaan di sektor perbankan dan cara menilai integritas seseorang.
“Sebagaimana dalam diri kita ada yang namanya kepala, di dalam kepala ada otak yang terdiri dari 4 bagian, yakni pertama, otak beta yang digunakan untuk bekerja, belajar, berdiskusi, dan melaksanakan tugas-tugas, atau bisa disebut otak yang sadar. Kemudian ada otak yang namanya
otak theta, di mana kita bisa terpengaruh oleh lingkungan sekitar, seperti halnya dalam sebuah perusahaan, yaitu bagaimana kita membuat semua pegawai merasa nyaman dengan lingkungan tersebut sehingga bisa dapat menciptakan lingkungan kerja yang bersih dari korupsi agar
memperkuat integritas, dan memastikan bahwa setiap pegawai memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kepatuhan dan menjauhi tindakan korupsi” ungkapnya.















