Oleh : AHMAD BARJIE B
Bulan Ramadhan tahun ini dirasa cukup berat, adakalanya panas dan adakalanya dingin karena sering hujan, sehingga tidak sedikit orang yang tidak berpuasa, baik karena kurang terbiasa maupun karena merasa lapar dan dahaga akibat kepanasan, kelelahan atau karena bekerja keras. Sebenarnya merasa panas, lapar dan haus ketika berpuasa, merupakan hal yang sangat wajar, sebab makna Ramadhan itu sendiri artinya sangat panas. Hal ini karena melalui ibadah puasa Ramadhan inilah dosa-dosa kita dibakar, sehingga menjadi terhapus atau diampuni oleh Allah SWT. Ibarat penyakit, melalui ibadah puasa Ramadhan ini penyakit kita dioperasi, sehingga terasa sakit dan nyeri, namun setelah operasi itu selesai tentu badan akan kembali sehat, sebab penyakitnya sudah dikeluarkan.
Oleh karena itu seberat apa pun pekerjaan kita, sepanas apa pun cuaca yang kita jalani, dan seberapa pun lapar dan dahaga yang kita rasakan, hendaknya jangan sampai membatalkan puasa, sebab ibadah puasa Ramadhan hampir tidak tergantikan di bulan lain, kecuali bagi wanita haid dan nifas, serta orang sakit yang tidak ada harapan sembuh lagi..Sebuah hadits menegaskan: Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda; Barangsiapa tidak berpuasa di bulan Ramadhan walau hanya sehari, tanpa ada rukhsah (keringanan) atau sakit yang dibolehkan syariat, maka ia tidak akan dapat menggantinya walau ia berpuasa sampai akhir hayatnya (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah.)
Lapar dan haus yang kita rasakan ketika berpuasa sesungguhnya memiliki nilai utama dalam pandangan agama. Pertama, laparnya orang yang berpuasa, termasuk salah satu cara atau jalan menuju sorga. Rasulullah saw menyuruh istri beliau Sayyidatina Aisyah ra agar sering-sering mengetuk pintu sorga. Aisyah bertanya, bagaimana caranya mengetuk pintu sorga. Beliau menjawab, ketuklah pintu surga dengan rasa lapar.
Ketika Abu Umamah ra mendatangi Rasulullah dan minta amalan yang dapat mengantarkannya masuk sorga, kembali Rasulullah menyebut puasa, sebab puasa adalah amalan yang tidak ada tandingannya. Hal ini sejalan pula dengan hadits yang lain: Di dalam sorga terdapat delapan pintu, salah satunya bernama al-rayyan, tiada diperkenankan masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang berpuasa).
Kedua, lapar adalah salah satu jalan tarekat. Semua amalan tarekat muktabarah (sampai silsilah sanadnya kepada Rasulullah dan para sahabat) di dunia dan di Indonesia, seperti tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syatariyah, Alawiyah dan sebagainya, pada umumnya menjadikan lapar sebagai salah satu metode untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tokoh sufi Junaidi al-Baghdadi mengatakan, lapar adalah setengah dari tarekat, sebab dengan lapar kita akan menahan hawa nafsu. Tokoh sufi lainnya, Abu Sulaiman al-Darami mengatakan, kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar. Kalau kita kenyang, nafsu kita akan naik, berkobar dan manja, sehingga lupa kepada Allah dan malas dalam menjalankan ibadah kepadaNya. Sebaliknya kalau kita lapar karena puasa, tidak ada keinginan untuk berbuat makisiat, bahkan tumbuh rasa dekat dan ingin beribadah kepada Allah. Karena itu di bulan puasa nanti, meskipun di malam harinya kita dibolehkan makan, namun sebaiknya tidak berlebihan, sebab kalau berlebihan, apalagi sampai kekenyangan, maka kita akan malas beribadah, sebab badan kita akan kelelahan menanggung kantuk, ingin tidur, ingin buang air dan sebagainya, sehingga kesempatan beribadah bisa berkurang karenanya.
Ketiga, lapar menjadikan orang merasa betapa dirinya lemah, tidak kuat, karena baru sekian jam tidak makan, fisik kita, organ tubuh kita sudah begitu lemah. Bahkan tidak jarang, ketiadaan asupan makanan kita juga bisa sakit. Hal ini juga menjadikan kita tersadar betapa ketergantungan kita yang sangat besar kepada Allah yang telah memberi rezeki, khususnya rezeki makanan yang tidak ternilai harganya. Tokoh sufi Abu Yazid al-Bustami mengatakan, sekiranya Firaun pernah lapar dan sakit, tentu ia tidak akan mengaku sebagai Tuhan. Dan seandainya Qarun pernah lapar, tentu dia tidak akan sombong dan menentang Allah.
Keempat, dengan merasakan lapar juga ada keinginan untuk menolong orang lain, kalangan dhuafa, fakir miskin, anak yatim, keluarga tidak mampu dan sebagainya. Justru itu di bulan Sya’ban dan Ramadhan kita dianjurkan banyak bersedekah, meskipun mungkin kita juga membutuhkan uang dan dalam kesempitan. Kalau memungkinkan kita segerakan mengeluarkan zakat maal, supaya kalangan dhuafa bisa terbantu dan tidak terlalu dibebani masalah ekonomi. Tegasnya kita harus lebih memperbanyak bertaubat kepada Allah, menjauhkan diri dari perasaan marah dan kesal dan berbuat kebajikan dalam berbagai bentuknya.












