Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mengembalikan Kesakralan Sungai

×

Mengembalikan Kesakralan Sungai

Sebarkan artikel ini
IMG 20260211 WA0001
Noorhalis Majid. (Kalimantanpost.com/Repro Pribadi)

Oleh: Noorhalis Majid
Pemerhati Lingkungan

Kenapa tidak ada yang peduli dengan kehancuran sungai dan kehidupannya? Karena tidak ada lagi yang percaya, bahwa sungai mengandung kesakralan. Sungai sudah mengerecut menjadi sesuatu yang biasa saja. Di dalam dan di balik dunia sungai, tidak ada lagi kepercayaan tentang makhluk tak kasat mata, atau tentang nilai yang dihormati dengan segala keyakinan. Padahal kesakralan itu sendiri, bentuk penghargaan hubungan antara manusia dengan sungai.

Kalimantan Post

Bukan tanpa alasan ketika dunia filsafat membagi kehidupan ini dalam dua ranah, yaitu sakral dan profan. Sakral, adalah sesuatu yang dianggap suci, memiliki kekuatan super, agung, dihormati, dan sering kali dipisahkan dari jangkauan umum untuk menjaga kesuciannya. Sakral, tentu tidak terbatas tentang Tuhan, tetapi bisa berupa benda, tempat, atau simbol. Sementara yang profan, adalah hal-hal biasa yang tidak memiliki nilai religius. Kehidupan sehari-hari yang bersifat keduniawian, bahkan bersifat umum. Terkait sakral dan profan ini, ahli filsafat, Emile Durkheim dan Mircea Eliade, membahasnya secara sangat mendalam, untuk menegaskan bahwa dunia benar-benar dipisahkan oleh dua bagian ini. Sehingga terbangun pemahaman tentang struktur, makna, dan batas-batas dalam masyarakat, menciptakan rasa solidaritas dan penghormatan pada hal-hal yang disepakati sebagai suci.

Betapa arifnya nenek moyang Banjar, guna menjaga sungai dari kerusakan, diciptakan berbagai mitologi, cerita, kisah-kisah, sosok dan tokoh, yang membuatnya menjadi sakral. Sungai bukan hal biasa, tapi tempat sakral yang harus dijaga dan dihormati. Ketika kesakralannya diberangus, pada saat itu pula hilang kepedulian untuk menjaga sungai. Jadilah sungai tak terawat, jadi tempat sampah. Segala jenis kotoran dibuang mencemari dan merusak sungai.

Kearifan nenek moyang Banjar yang melahirkan berbagai mitologi sungai seperti hantu banyu, tambun, naga balimbur, sanja kuning, buaya kuning, buaya putih, dan lain-lain, bukan tanpa alasan, justru bertumpu pada pengetahuan kosmologi dan sejarah alam yang hidup pada zaman itu. Boleh jadi dipengaruhi oleh pemikiran abad pertengahan. Ketika itu, sesuai pengetahuan abad pertengahan, dunia ini diyakini dihuni oleh berbagai makhluk mitologi. Salah satu ilmuan terkenal dan memengaruhi pemikiran masyarakat dunia kala itu, yang mampu menggabung antara sains + agama + mitologi, adalah Zakariya al-Qazwini, nama lengkapnya Abu Yahya Zakariya bin Muhammad bin Mahmud al-Qazwini, beliau lahir tahun 1203 M atau 600 H di Qazwin, Persia (sekarang Iran). Seorang ilmuan muslim, ahli geografi, sejarawan alam, dan hakim pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Dia bahkan disebut bapak Kosmografi Islam. Karyanya yang zaman sekarang dinilai aneh dan di luar nalar, zaman itu justru ramai dibicarakan, menjadi bahan pemikiran dan rujukan penelitian terkait ilmu alam.

Baca Juga :  Aset atau Komoditas di Era Kebocoran yang Dainggap Biasa

Ada dua karyanya yang sangat terkenal, yaitu ‘Aj?’ib al-Makhl?q?t wa Ghar?’ib al-Mawj?d?t, artinya: “Keajaiban Makhluk dan Keanehan Wujud”. Buku Ini merupakan ensiklopedia kosmologi. Isinya membahas tentang langit, bintang, malaikat, bumi, gunung, sungai, tumbuhan, hewan, sampai makhluk aneh-aneh seperti jin dan monster laut. Banyak ilustrasinya yang dilukiskan begitu indah. Naskahnya jadi rujukan pemikiran dan ilmu alam abad pertengahan.

Karya kedua, ?th?r al-Bil?d wa Akhb?r al-‘Ib?d. Artinya: “Monumen Negeri dan Kabar tentang Penduduknya”. Yang ini merupakan ensiklopedia geografi. Isinya deskripsi kota-kota dari Spanyol sampai ke Cina. Memuat hal-hal mengenai sejarahnya, bangunan-bangunan penting, tokohnya, produk unggulannya. Buku ini mirip Lonely Planet versi abad ke-13.

Jadi kalau membaca karya al-Qazwini dan membandingkan dengan berbagai cerita mitologi tentang sungai yang dibangun nenek moyang Banjar, sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada, tapi justru berbasis pengetahuan sesuai zamannya. Dimana para ahli pengetahuan waktu itu, piawai menggabungkan antara sains, agama, dan cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat. Bahkan yang demikian, menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu alam.

Memang belum ditemukan ada karya ilmuan Banjar terkait sungai yang merujuk pada karya al-Qazwini, namun cerita tentang berbagai makhluk yang dikisahkan menghuni sungai-sungai di tanah Banjar, selaras dengan ensiklopedia kosmologi yang ia tulis. Atau, boleh jadi karya al-qazwini yang terkenal ketika itu, justru dituturkan dari mulut ke mulut melalui para pedagang Persia yang menjelajah ke berbagai belahan dunia, hingga ke tanah Banjar.

Terlepas dari karya al-Qazwini, yang pasti kesakralan dan penghormatan kepada sungai, diceritakan oleh nenek moyang Banjar dari generasi ke generasi. Cerita tersebut bertahan beratus tahun, hingga pada akhirnya distigma dan dihakimi sebagai mitologi. Padahal ketika cerita tersebut dituturkan pada zamannya, semua makhluk yang dikisahkan, terbentuk nyata dalam pikiran masyarakat Banjar yang hidup dengan kebudayaan sungai. Sejumlah kasus dan pengalaman nyata, kemudian menguatkan cerita-cerita tersebut, sebagai satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.

Baca Juga :  Klik Ilmu: Mewujudkan Pendidikan Bermutu dari Ujung Jari

Sekarang, dengan tidak dipercayanya cerita dan mitologi tentang sungai, bukan saja mengakibatkan sungai kehilangan kesakralan, namun masyarakat Banjar juga kehilangan pengetahuan lokal yang berbasis pada sains dan ilmu pengetahuan ketika itu. Belum termasuk hilangnya berbagai pribahasa, nasehat dan ujaran-ujaran yang berbasis pada sungai.

Ketika sungai kehilangan kesakralannya, maka dia hanyalah obyek, diperlakukan sekehendak hati. Hubungan antara antara manusia dengan sungai, menjadi tidak setara lagi. Eksploitasi dan segala bentuk pengrusakan sungai, terjadi dari hulu hingga hilir, dampaknya meluas pada segala sendi kehidupan.

Mungkinkah mengembalikan kesakralan sungai? Rasanya sudah tidak mungkin. Kalau pun bisa, memerlukan waktu yang sangat panjang, sama seperti ketika nenek moyang Banjar menuturkan segala cerita tentang sungai dari generasi ke generasi, membutuhkan waktu beratus tahun.

Lantas dengan cara apa sungai diselamatkan? Harus ada pengganti yang mampu mensejajarkan kesakralan yang telah dibangun nenek moyang Banjar. Bentuknya bisa berupa kebijakan, peraturan, kesepakatan-kesepakatan baru berbasis komunitas, atau yang lebih modern berupa festival dan perayaan, yang menempatkan sungai sebagai mahkota dan kebanggaan warga. Syaratnya, segala kebijakan, peraturan, kesepakatan, festival dan perayaan tersebut, haruslah konsisten dan kontinyu dijalankan. Dengan begitu, perlahan-lahan kesakralan sungai akan terbangun secara alami. (nm)

Iklan
Iklan