Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

PENGHARGAAN

×

PENGHARGAAN

Sebarkan artikel ini

Oleh : ADE HERMAWAN

Penghargaan adalah sebuah bentuk pengakuan, imbalan, atau penghormatan yang diberikan kepada seseorang atau kelompok atas pencapaian, jasa, perilaku baik, atau prestasi yang telah mereka tunjukkan.

Kalimantan Post

Berdasarkan wujudnya, penghargaan terbagi menjadi penghargaan materiil dan penghargaan imateriil. Penghargaan Materiil berupa sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, atau bernilai ekonomi. Contohnya piala, piagam, uang bonus, sertifikat, medali, atau promosi jabatan. Dan Penghargaan Imateriil berupa kepuasan psikologis atau emosional. Contohnya ucapan terima kasih, pujian, rasa hormat dari orang sekitar, atau perasaan puas dan bangga atas pencapaian diri sendiri.

Berdasarkan fungsi dan tujuannya, penghargaan berfungsi sebagai bentuk validasi, sebagai motivator, dan sebagai bentuk penguatan. Sebagai Bentuk Validasi, artinya ia menjadi bukti sahih bahwa kerja keras atau karya seseorang diakui kualitasnya oleh pihak lain (masyarakat, institusi, atau negara). Sebagai Motivator, artinya ia memancing semangat penerima dan orang di sekitarnya untuk mempertahankan atau meningkatkan performa dan kebaikan yang sudah dilakukan. Dan Sebagai Bentuk Penguatan, artinya penghargaan berfungsi memperkuat perilaku positif agar perilaku tersebut diulangi kembali di masa depan.

Penghargaan bukan sekadar transaksi sosial antara manusia yang memberi dan menerima pujian, melainkan bentuk titipan amanah dan ujian atas keikhlasan. Penghargaan tertinggi tidak diukur dari seberapa besar piala yang didapat di dunia, melainkan dari sejauh mana perbuatan tersebut bernilai pahala dan mendatangkan rida Allah SWT di akhirat kelak.

Penghargaan adalah jembatan apresiasi. Ia mengubah keringat, ide, dan kerja keras seseorang menjadi sebuah kehormatan yang diakui, yang jika disikapi dengan bijak, akan melahirkan motivasi untuk berbuat lebih baik lagi.

Penghargaan baik yang diberikan oleh sesama manusia (apresiasi duniawi) maupun yang dijanjikan oleh Allah (pahala dan rida) memiliki kedudukan yang sangat penting. Islam bukanlah agama yang kaku, ia sangat memanusiakan manusia yang secara fitrah memang senang ketika kebaikannya diakui.

Baca Juga :  Urbanisasi Meningkat, Ancam Perekonomian Desa

Menghargai sesama manusia adalah bagian tak terpisahkan dari bersyukur kepada Pencipta. Kita tidak bisa dikatakan benar-benar bersyukur kepada Allah jika kita menutup mata terhadap kebaikan orang lain yang menjadi perantara datangnya nikmat tersebut. Rasulullah SAW menegaskan hubungan erat ini :

“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud)

Islam sangat mendorong umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Pemberian penghargaan berfungsi sebagai stimulus atau motivasi agar seseorang mempertahankan performa terbaiknya dan memicu orang lain untuk meniru kebaikan tersebut. Ketika seseorang diberikan penghargaan atas kejujurannya, kerja kerasnya, atau kedermawanannya, hal itu akan memperkuat perilaku positif tersebut di tengah masyarakat.

Menghargai keringat dan usaha orang lain adalah bagian dari menunaikan hak mereka. Islam melarang keras meremehkan atau memotong hak orang lain. Salah satu bentuk penghargaan paling mendasar dalam Islam diwujudkan dalam sabda Rasulullah SAW mengenai pekerja, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Upah di sini tidak hanya bermakna materi, tetapi juga ketepatan waktu dan pengakuan atas tenaga yang telah mereka korbankan.

Meskipun penghargaan itu penting untuk membangun ekosistem sosial yang positif, Islam memberikan rambu-rambu yang sangat ketat bagi penerima penghargaan.

Bagi seorang Muslim, penghargaan dari manusia harus disikapi sebagai ujian amanah, bukan sebagai validasi mutlak atas kehebatannya. Pujian manusia bersifat fana, sedangkan esensi dari pentingnya penghargaan dalam Islam adalah bagaimana apresiasi tersebut bisa mengantarkan kita pada penghargaan tertinggi dan abadi, yaitu rida Allah SWT.

Menerima penghargaan baik berupa piala, sertifikat, pujian, maupun peningkatan status sosial adalah sebuah pencapaian yang membahagiakan. Ia menjadi simbol bahwa kerja keras kita diakui oleh manusia. Namun, sebagai seorang Muslim, ruang refleksi kita tidak boleh berhenti di atas panggung penyerahan penghargaan. Kita perlu melihat lebih dalam bagaimana Islam memandang sebuah penghargaan?

Baca Juga :  KISAH TERBAIK

Memberikan dan menerima apresiasi adalah bagian dari akhlak yang mulia. Penghargaan dari sesama manusia bisa menjadi wasilah (perantara) untuk menyebarkan syiar, memotivasi orang lain untuk berbuat kebaikan, dan memperluas dampak positif dari karya yang kita hasilkan. Ketika seorang Muslim berprestasi, hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa Islam mendorong umatnya untuk mencapai ihsan, yaitu melakukan segala sesuatu dengan kualitas terbaik.

Islam selalu mengajak kita bersikap proporsional. Di balik kilau sebuah penghargaan, ada ruang ujian yang sangat tipis batasnya dengan kehancuran spiritual. Ujian tersebut bernama niat. Ketika pujian dan penghargaan mulai mengalir, penyakit hati seperti ria (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar), dan ujub (bangga diri yang berlebihan) kerap mengintai. Di sinilah letak perbedaan mendasar pandangan Islam dengan pandangan sekuler tentang pencapaian.

Iklan
Iklan