BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Tahun ini, SMPN 7 Banjarmasin resmi menjalankan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring penuh. Bukan sekadar formalitas digitalisasi, tapi sebuah pergeseran nyata dalam cara sekolah dan masyarakat berinteraksi dalam proses penerimaan siswa yang selama ini identik dengan antrean dan kerumunan.
“Harapan kami sederhana, orang tua bisa mendaftar dari rumah, diskusi dulu sama keluarga, pilih jalur dengan lebih santai, dan berhati-hati saat mengunggah data,” ujar Toni Maxitop, MPd, Kepala SMPN 7 Banjarmasin, saat ditemui di sela-sela proses verifikasi data, Kamis (11/6/2026).
SMPN 7 bukan sekolah sembarangan di kota ini. Tiap tahun, peminatnya selalu meluber jauh melampaui kuota. Tahun lalu, jarak terjauh pendaftar yang masih bisa diterima di jalur zonasi mencapai sekitar 600 meter dari sekolah. Artinya, siapa pun yang tinggal lebih jauh dari itu sudah bisa dipastikan tidak lolos, sesederhana itu.
Tahun ini, sekolah membuka 8 rombongan belajar dengan total kapasitas 256 siswa. Jumlah yang tampak cukup, tapi jauh dari memadai jika melihat angka pendaftar yang historisnya selalu menyentuh dua kali lipat kuota, sekitar 500 orang bersaing untuk kursi yang tersedia. Persaingan itu nyata, dan semua orang di kota ini.
Untuk menghadapi tekanan itu, sekolah mempersiapkan infrastruktur yang tidak main-main. Posko informasi didirikan, laptop disediakan dalam jumlah memadai, dan yang paling krusial: setiap jalur pendaftaran, baik jalur prestasi, afirmasi, maupun APK/disabilitas, memiliki operator khusus yang ditugaskan secara spesifik. Bukan satu operator untuk semua, melainkan satu operator per jalur, agar fokus dan tidak ada yang terlewat.
Ara mengaku awalnya ragu. Ia bukan orang yang terbiasa dengan urusan digital. Tapi kali ini berbeda. “Saya kira ribet, ternyata bisa dari rumah, santai, sambil nemenin anak,” katanya. Ia mendaftar melalui tautan resmi yang disediakan sekolah, mengunggah dokumen-dokumen yang diperlukan, dan menunggu konfirmasi.
Namun proses daring tidak berarti tanpa hambatan. Di sisi sekolah, tim verifikasi menemukan sejumlah kesalahan input data dari orang tua, mulai dari titik lokasi tempat tinggal yang tidak akurat hingga nilai rapor dan hasil TKA yang tercantum keliru. Kesalahan-kesalahan itu tidak dibiarkan begitu saja.
Proses verifikasi digelar serius di ruang multimedia sekolah. Setiap ketidaksesuaian dikonfirmasi langsung dengan orang tua yang bersangkutan. “Kami tidak mau ada anak yang dirugikan karena kesalahan input, kami hubungi orang tuanya, kami luruskan datanya bersama-sama, ini bukan hukuman, ini edukasi,” tegas Toni.
Hingga hari kedua pendaftaran, data menunjukkan progres yang cukup signifikan. Dari kuota 56 siswa di jalur rapor, sudah 31 siswa yang terverifikasi. Sementara di jalur afirmasi, 44 siswa sudah resmi terverifikasi, dan ini berarti kuota afirmasi sebesar 17 persen dari total siswa sudah terpenuhi sepenuhnya.
Penuhnya kuota afirmasi di hari kedua ini bukan kabar biasa. Ini sinyal bahwa persaingan di jalur-jalur lain akan semakin ketat, terutama zonasi yang kini bergantung pada jarak tempat tinggal ke sekolah. Semakin dekat rumah dari sekolah, semakin besar peluang. Dan seperti tahun lalu, jarak itu bisa jadi penentu segalanya.
Di sisi lain, ada fenomena menarik yang terpantau: banyak pendaftar yang sengaja menunggu hingga hari-hari terakhir untuk mendaftar. Strategi ini terutama umum di jalur prestasi, di mana calon siswa dan orang tua memantau skor terendah yang masih diterima, lalu memutuskan apakah tetap di jalur itu atau berpindah ke jalur lain yang lebih aman. Kalkulasinya sederhana: komposisi nilai jalur rapor adalah 70 persen dari rata-rata rapor dan 30 persen dari nilai TKA.
Sistem online ternyata ikut memfasilitasi strategi semacam ini. Karena data sementara bisa dipantau secara real-time, pendaftar punya informasi yang lebih lengkap dibanding tahun-tahun sebelumnya. Satu keunggulan yang tidak dimiliki sistem offline: transparansi yang bisa diakses dari mana saja, kapan saja.
Bagi Ara, prosesnya belum berakhir. Ia masih menunggu hasil akhir dengan sedikit harap-harap cemas. Tapi setidaknya kali ini ia tidak harus berdiri berjam-jam di bawah panas, tidak harus cuti kerja untuk antre, dan tidak harus membawa anak ikut berdesakan. “Mudah-mudahan lolos, tapi kalau pun belum, setidaknya prosesnya tidak bikin capek dulu,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Di penghujung proses panjang ini, Toni Maxitop menyampaikan satu hal yang ia pegang teguh sepanjang pelaksanaan SPMB tahun ini. “Sistem boleh berubah, teknologi boleh berganti, tapi tujuannya satu: hasil maksimal untuk semua, dan tidak ada anak yang dirugikan,”. (nug/KPO-3)















