Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Muharam, Momentum Hijrah

×

Muharam, Momentum Hijrah

Sebarkan artikel ini

Editorial Kalimantan Post, 15 Juni 2026

DATANGNYA 1 Muharam 1448 Hijriah bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam.

Bagi masyarakat Banua yg Selatan, Muharam selalu menjadi momentum refleksi, memperkuat nilai keimanan, mempererat kebersamaan sosial, sekaligus meneguhkan arah perjalanan generasi muda di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Kalimantan Post

Karena itu, tema yang diangkat dalam Festival Muharram Cempaka tahun ini, “Hijrah dari Ketergantungan Gadget, Menuju Pribadi yang Berilmu dan Berakhlak”, patut mendapat perhatian lebih. Tema tersebut bukan hanya relevan bagi warga Banjarbaru, tetapi juga menjadi cermin persoalan yang sedang dihadapi hampir seluruh keluarga di Kalimantan Selatan.

Di era digital, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Teknologi membawa banyak manfaat, mulai dari akses informasi hingga kemudahan belajar. Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang berlebihan mulai memunculkan persoalan serius.

Anak-anak semakin banyak menghabiskan waktu di depan layar dibanding berinteraksi dengan lingkungan, membaca buku, mengaji, atau beraktivitas sosial. Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan berkurangnya kedisiplinan, konsentrasi belajar, hingga lunturnya etika pergaulan akibat paparan dunia digital yang tidak terkendali.

Karena itu, pesan hijrah yang dibawa Festival Muharram Cempaka sesungguhnya memiliki makna yang sangat luas. Hijrah bukan berarti meninggalkan teknologi, melainkan mengubah cara memanfaatkannya. Dari penggunaan yang tidak produktif menjadi sarana menambah ilmu. Dari konsumsi hiburan tanpa batas menjadi media pembelajaran. Dari ketergantungan menjadi pengendalian diri.

Kalimantan Selatan selama ini dikenal sebagai daerah yang kuat dengan tradisi keislaman. Ribuan langgar, masjid, majelis taklim, pondok pesantren, serta budaya religius masyarakat menjadi modal sosial yang sangat berharga. Nilai-nilai tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus arus budaya digital yang sering kali menawarkan kehidupan instan dan serba cepat.

Baca Juga :  BBM Naik, Apa Tanggung Jawab Pemerintah?

Festival Muharram yang diisi lomba mengaji, kaligrafi, tilawah, santunan anak yatim, hingga tradisi Bubur Asyura menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat justru menjadi ruang pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai kepedulian, kebersamaan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Yang tak kalah penting, kegiatan semacam ini perlu mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga keluarga. Tantangan membentuk generasi berakhlak tidak bisa dibebankan kepada pesantren atau sekolah semata. Dibutuhkan gerakan bersama agar anak-anak Banua mampu menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi.

Tahun Baru Islam seharusnya menjadi titik awal evaluasi bersama. Sudah sejauh mana keluarga memberikan pendampingan digital kepada anak-anak? Sudahkah sekolah mengajarkan literasi digital yang sehat? Sudahkah masyarakat menghadirkan ruang-ruang kegiatan positif yang mampu mengalihkan generasi muda dari kecanduan layar?

Muharam mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah kecil. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW yang mengubah peradaban, hijrah generasi Banua hari ini dapat dimulai dari hal sederhana: mengurangi waktu bermain gadget, memperbanyak membaca, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, menghormati orang tua, serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.

Semarak Muharam di Banua hendaknya tidak berhenti pada pawai dan perlombaan. Yang lebih penting adalah lahirnya kesadaran kolektif untuk membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat religius.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Saatnya Banua berhijrah, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari kelalaian menuju kepedulian, dan dari sekadar menjadi pengguna teknologi menjadi generasi yang mampu menguasai teknologi dengan akhlak dan ilmu pengetahuan sebagai penuntunnya.

Iklan
Iklan