Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, umat Muslim diingatkan pada sebuah peristiwa besar yang mengubah arah sejarah: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan cara berpikir, cara bertindak, dan cara membangun masa depan. Di dalamnya terkandung semangat meninggalkan kebiasaan lama menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Pertanyaannya, di Indonesia hari ini, hijrah seperti apa yang paling mendesak dilakukan?
Di tengah derasnya arus informasi, kecerdasan buatan, dan media sosial yang membentuk cara pandang masyarakat, bangsa ini membutuhkan satu bentuk hijrah yang sering luput dari perhatian: hijrah literasi.
Literasi tidak lagi dapat dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Dalam dunia yang dipenuhi algoritma, literasi berarti kemampuan memahami informasi, memilah fakta dari opini, membedakan kebenaran dari manipulasi, serta menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang bijak. Tanpa kemampuan itu, masyarakat mudah hanyut oleh hoaks, propaganda, dan polarisasi yang menggerus akal sehat.
Ironisnya, kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi pemahaman justru sering kali dangkal. Setiap hari jutaan konten melintas di layar gawai, namun tidak semuanya memperkaya wawasan. Banyak orang membaca judul tanpa isi, membagikan berita tanpa verifikasi, bahkan membentuk kesimpulan hanya dari potongan video beberapa detik. Kita menjadi masyarakat yang cepat bereaksi, tetapi lambat merenung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum tentu sejalan dengan kemajuan literasi. Akses informasi memang semakin mudah, tetapi kemampuan mengolah informasi justru menjadi tantangan baru. Di sinilah makna hijrah menemukan relevansinya. Hijrah literasi adalah keberanian berpindah dari budaya konsumsi informasi menuju budaya pemahaman, dari sekadar mengetahui menuju benar-benar mengerti.
Semangat itu sesungguhnya telah diajarkan Islam sejak awal. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah untuk membangun kekuatan ekonomi atau politik, melainkan perintah membaca: Iqra’. Pesan tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ilmu pengetahuan. Peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya bukan hanya karena kekuatan militernya, tetapi karena tradisi membaca, menulis, menerjemahkan, dan mengembangkan ilmu yang begitu kuat.
Sayangnya, di era digital, budaya membaca menghadapi tantangan serius. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memperkaya pengetahuan sering kali habis untuk menggulir media sosial tanpa tujuan. Layar gawai menjadi lebih menarik daripada halaman buku, sementara notifikasi lebih cepat menyita perhatian daripada gagasan-gagasan besar yang membutuhkan perenungan.
Padahal bangsa yang besar tidak dibangun oleh masyarakat yang sekadar sibuk, melainkan oleh masyarakat yang terus belajar. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan negara-negara maju lahir dari investasi panjang pada pendidikan, penelitian, perpustakaan, dan budaya membaca. Mereka memahami bahwa sumber daya alam dapat habis, tetapi sumber daya manusia yang cerdas akan terus menciptakan peluang baru.
Indonesia memiliki bonus demografi yang besar. Jutaan anak muda akan menjadi penentu masa depan bangsa. Namun bonus ini hanya akan menjadi keuntungan apabila diiringi dengan kualitas literasi yang memadai. Tanpa itu, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban sosial karena generasi produktif tidak memiliki kemampuan berpikir kritis dan adaptif terhadap perubahan.
Momentum Tahun Baru Islam menjadi kesempatan untuk mengubah paradigma tersebut. Hijrah literasi berarti menjadikan belajar sebagai gaya hidup, bukan sekadar kewajiban akademik. Membaca buku tidak lagi dipandang sebagai aktivitas kuno, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun daya saing bangsa. Diskusi yang sehat lebih dihargai daripada perdebatan yang hanya mengejar sensasi. Pengetahuan ditempatkan sebagai fondasi kemajuan, bukan sekadar pelengkap.
Dalam konteks ini, perpustakaan memiliki peran yang semakin strategis. Ia tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi harus bertransformasi menjadi ruang belajar, pusat inovasi, laboratorium gagasan, dan tempat masyarakat bertemu dengan berbagai sumber pengetahuan. Perpustakaan perlu menjadi simpul yang menghubungkan teknologi dengan kebijaksanaan, informasi dengan pemahaman, serta data dengan tindakan nyata.
Peran pustakawan pun mengalami perubahan yang tidak kalah penting. Di tengah banjir informasi, pustakawan bukan hanya penjaga rak buku, tetapi juga penuntun literasi yang membantu masyarakat menemukan sumber terpercaya, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan membangun budaya belajar sepanjang hayat. Dalam arti tertentu, pustakawan adalah agen hijrah intelektual yang mengajak masyarakat meninggalkan kebodohan menuju pencerahan.
Hijrah literasi juga harus dimulai dari lingkungan terkecil: keluarga. Orang tua yang membiasakan membaca bersama anak sedang menanam benih peradaban. Guru yang mengajak murid bertanya dan berpikir kritis sedang membangun masa depan. Komunitas yang mendiskusikan buku dan gagasan sedang menciptakan ruang publik yang sehat. Perubahan besar selalu lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Di tengah euforia Piala Dunia yang menyatukan perhatian miliaran manusia, kita dapat mengambil pelajaran penting. Tim yang menjadi juara bukanlah tim yang mengandalkan keberuntungan semata, melainkan mereka yang mempersiapkan diri melalui latihan panjang, analisis mendalam, strategi matang, dan disiplin tinggi. Tidak ada kemenangan instan. Begitu pula dengan bangsa. Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya karena kekayaan alam atau jumlah penduduknya, tetapi karena kualitas manusianya yang terus belajar dan berkembang.
Hijrah literasi adalah proses panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat. Ia tidak menghadirkan sorak-sorai layaknya pertandingan sepak bola, tetapi dampaknya dapat dirasakan lintas generasi. Satu buku yang dibaca dapat melahirkan satu ide. Satu ide dapat melahirkan satu inovasi. Satu inovasi dapat mengubah kehidupan ribuan orang. Dari halaman-halaman sederhana, lahir perubahan yang mampu menggerakkan bangsa.
Karena itu, makna hijrah pada 1 Muharram tidak cukup diwujudkan melalui seremonial atau ucapan selamat tahun baru. Hijrah sejati harus tercermin dalam keberanian memperbaiki cara berpikir dan membangun kebiasaan baru. Berhijrah dari budaya instan menuju budaya belajar. Berhijrah dari sekadar mengonsumsi informasi menuju kemampuan memproduksi pengetahuan. Berhijrah dari menjadi penonton perubahan menjadi pelaku perubahan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang rela membuka buku sebelum membuka prasangka, memeriksa fakta sebelum menyebarkan kabar, dan mencari ilmu sebelum mengambil keputusan. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara ekonomi atau paling canggih teknologinya, melainkan oleh siapa yang paling siap belajar menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, hijrah literasi bukan hanya agenda individu, melainkan proyek peradaban. Ia adalah jalan panjang untuk membangun Indonesia yang tidak sekadar melek huruf, tetapi juga melek makna; tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijaksana dalam bertindak. Jika semangat itu benar-benar tumbuh, maka Tahun Baru Islam bukan hanya menandai pergantian kalender, melainkan menjadi titik awal lahirnya generasi yang mampu membawa Indonesia melangkah lebih jauh dengan ilmu sebagai kompas dan literasi sebagai cahaya yang menerangi perjalanan menuju masa depan.













