DITENGAH kehidupan masyarakat yang semakin sibuk dan individualistis, masih bertahannya tradisi Bubur Asyura di kawasan Jalan Seberang Mesjid, Banjarmasin, menjadi kabar yang patut disyukuri.
Tradisi yang digelar setiap 10 Muharram ini bukan sekadar kegiatan memasak bubur dalam jumlah besar, melainkan ruang yang mempertemukan warga dalam semangat gotong royong, silaturahmi, dan kepedulian sosial.
Pemandangan warga yang berkumpul sejak siang, membagi tugas tanpa sekat, menjadi gambaran bahwa nilai kebersamaan masih hidup di tengah masyarakat.
Kaum ibu menyiapkan bahan makanan, kaum bapak bergantian mengaduk bubur di atas tungku besar, sementara anak-anak menyaksikan dan ikut merasakan suasana kekeluargaan. Semua bekerja bukan karena kewajiban, melainkan karena kesadaran bahwa tradisi hanya akan tetap hidup jika dipelihara bersama.
Di balik semangkuk Bubur Asyura, tersimpan nilai yang jauh lebih berharga daripada cita rasa makanan itu sendiri. Ada semangat berbagi, pengorbanan, keikhlasan, dan kerja sama. Seluruh bahan berasal dari swadaya masyarakat, menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan kemewahan.
Dengan kontribusi yang sederhana dari banyak orang, lahirlah manfaat yang dapat dirasakan bersama.
Tradisi seperti ini sesungguhnya menjadi modal sosial yang sangat penting. Ketika masyarakat terbiasa berkumpul, berdialog, dan bekerja sama dalam kegiatan budaya maupun keagamaan, rasa saling percaya akan tumbuh semakin kuat. Modal sosial inilah yang menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari menjaga keamanan, membantu warga yang mengalami musibah, hingga mendukung program pembangunan.
Di sisi lain, tradisi Bubur Asyura juga memiliki nilai edukasi bagi generasi muda. Anak-anak yang menyaksikan bahkan ikut terlibat akan belajar bahwa gotong royong bukan hanya pelajaran dalam buku, melainkan budaya yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar menghargai kebersamaan, menghormati orang yang lebih tua, serta memahami pentingnya berbagi kepada sesama.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Arus modernisasi, perubahan gaya hidup, dan semakin padatnya aktivitas masyarakat berpotensi mengikis tradisi-tradisi lokal. Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya mengandalkan segelintir tokoh masyarakat. Dukungan seluruh warga, pemerintah, dan generasi muda menjadi kunci agar tradisi seperti Bubur Asyura tetap lestari.
Pada akhirnya, yang diwariskan bukan semata resep bubur, melainkan nilai-nilai luhur yang menyertainya. Selama masyarakat masih mau duduk bersama, bergotong royong, dan berbagi tanpa memandang latar belakang, tradisi Bubur Asyura akan terus menjadi simbol persatuan.
Di tengah berbagai tantangan sosial saat ini, semangat itulah yang sesungguhnya paling dibutuhkan untuk menjaga keharmonisan dan memperkuat jalinan persaudaraan di Kota Banjarmasin.












