Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

BANJAR DAN MAKKAH

×

BANJAR DAN MAKKAH

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Kebanyakan ulama Banjar sesudah era Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, bahkan puluhan tahun kemudian, menuntut ilmu di Makkah dengan memilih belajar di Madrasah Shaulatiyah dan Darul Ulum al-Diniyah, selebihnya mengaji duduk dari ulama ke ulama, baik ulama orang Nusantara, Makkah, Madinah, Mesir, India dan sebagainya. Sebelum berdirinya Darul Ulum, kebanyakan mereka belajar di Shaulatiyyah. Madrasah Shaulatiyah Makkah didirikan tahun 1874, sumbangan seorang wanita dermawan asal India bernama Shaulatun-Nisa, sehingga nama madrasah ini dihubungkan dengan pendirinya. Madrasah ini dahulu dipimpin ulama militan asal India, Syekh Rahmatullah bin Khalil al-Utsmani.

Kalimantan Post

Menurut kajian antropolog Belanda Martin van Bruinessen (1995: 36-7), suatu ketika di awal abad XX, jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928, sejumlah ulama muda asal Nusantara (Indonesia) yang belajar di Madrasah Shaulatiyah asyik membaca koran berbahasa Indonesia (Melayu). Kemudian datang seorang guru berkebangsaan Arab, lantas merobek koran tersebut, karena ingin mahasiswa fokus berbicara, membaca dan belajar kitab-kitab berbahasa Arab saja.

Riwayat lain mengatakan, guru tersebut selain merobek koran berbahasa Melayu, juga mengejek aspirasi nasionalisme bangsa Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa yang bodoh seperti itu (maksudnya orang Indonesia) tidak akan pernah bisa meraih kemerdekaan. Guru itu mencemooh orang Indonesia yang kurang berani tegas berhadapan dengan penjajah Belanda. Demikian dikatakan oleh Syekh Yasin al-Fadani ketika diwawancarai wartawan di Jakarta tanggal 6 Maret 1988 saat kedatangan beliau menjenguk tanah air. Versi lain mengatakan masalah itu terjadi karena para siswa/mahasiswa asal Indonesia ingin bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia kepada gurunya lebih daripada bahasa Arab sebagai bahasa resmi di sana.

Menyikapi hal yang menyinggung harga diri bangsa tersebut, para mahasiswa asal Indonesia melakukan aksi protes. Diprakarsai Syekh Yassin al-Fadani (ulama berdarah Padang Sumatra Barat), mereka meninggalkan Madrasah Shaulatiyah dan kemudian mendirikan Madrasah Darul Ulum al-Diniyah Makkah tahun 1934, di mana mereka bebas berbicara dan/atau membaca buku/koran berbahasa Indonesia tanpa mengabaikan bahasa Arab. Ketika itu orang-orang Indonesia di Makkah juga mengumpulkan uang untuk membangun sekolah sendiri (Darul Ulum), dan lebih dari 100 siswa/mahasiswa Indonesia yang ada di Madrasah Shaulatiyah beramai-ramai pindah ke Darul Ulum. Syekh Yasin al-Fadani kemudian menjadi rektornya yang pertama.

Baca Juga :  RUPIAH MELEMAH, MEMBERATKAN MASYARAKAT

Sikap ini tentu hanya ungkapan nasionalisme saja. Yang pasti semua guru dan murid di kedua madrasah tersebut menjadi ulama besar. Di antara ulama asal Banjar yang belajar di Darul Ulum dan berguru dengan Syekh Yasin Padang adalah al-Habib Hamid bin Alwi bin Salim bin Abu Bakar al-Kaff, kelahiran Banjarmasin 1927 dan wafat di Makkah 2015. Beliau termasuk murid Darul Ulum yang pertama, sangat dekat dengan Syekh Yasin al-Fadani dan ikut mengajar di sana. Ulama lainnya yang menuntut ilmu di Darul Ulum adalah KH Abdullah Majroel (Barabai), Syekh Muhammad Husni Thamrin (pulang ke tanah air tahun 2008 dan wafat di Banjarbaru 2014 berkubur Hamparaya Kandangan), Syekh Ahmad Syarwani Zuhri (asal Barito Kuala, wafat dan berkubur di Balikpapan 2019), Syekh Ahmad Fahmi Zamzam (Pesantren Yasin, wafat 2021), KH Asfiani Norhasani ulama di Banjarmasin dan banyak lagi. Tetapi kebanyakan ulama Banjar memang belajar di Shaulatiyah atau berguru dari satu ulama ke ulama lainnya.

Selain Shaulatiyah dan Darul Ulum, para calon ulama Indonesia juga belajar di madrasah yang lebih khusus dimasuki oleh kalangan orang Indonesia (Nusantara), namanya adalah Madrasah Indunisiyyah bi Makkah, didirikan oleh Syekh Muhammad Janan Thaib. Sejak pertengahan abad ke-20, dua madrasah ini (Darul Ulum dan Madrasah Indunisiyyah) masih eksis. Hanya saja di kalangan orang Banjar, nama yang disebut terakhir kurang populer.

Menurut Bruinessen, kebanyakan ulama asal Nusantara, termasuk Banjar tentunya (penulis), di masa-masa lalu memang lebih cenderung menuntut ilmu ke Makkah dan Madinah, daripada ke Mesir misalnya. Hal ini karena Makkah dan Madinah sudah menjadi sentral dan simbol spiritualitas bagi umat Islam dunia, sementara Mesir dianggap dipengaruhi oleh barat (westerned). Seiring dengan makin populernya Habib Umar dan lain-lain, dan di Kalimantan Selatan juga dikenal banyak muridnya di antaranya KH Ilham Humaidi, belakangan banyak juga anak-anak muda yang menuntut ilmu di Tarim-Yaman.

Baca Juga :  Calon Dokter Tersingkir?

Begitu juga sikap ulama asal Nusantara terhadap negeri lain, berjalan bersama dengan dinamika politik yang terjadi. Ketika Hijaz (terutama Makkah dan Madinah) masih dalam kekuasaan Turki Utsmani, banyak orang Nusantara juga terpengaruh dengan Turki, termasuk semangat Pan-Islamisme yang diusung Turki. Tidak diketahui pasti, adakah ulama Banjar juga bergaul dengan orang Turki di kota suci tersebut atau sempat menuntut ilmu di Turki. Namun beberapa ulama Nusantara berdarah Arab-Hadrami yang tinggal di Betawi ada yang menuntut ilmu di Turki. Tetapi melihat banyaknya orang Banjar yang bernama Effendi di awal atau ujung namanya, maka besar kemungkinan mereka juga bergaul atau terpengaruh dengan orang-orang Turki, sebab Effendi merupakan bahasa Turki yang berarti tokoh atau pemuka agama atau tokoh masyarakat.

Iklan
Iklan