Oleh : AHMAD BARJIE B
Jika kaji sejarah, banyak lelaki sukses dalam hidup dan karier karena jasa wanita di sampingnya, baik ibunya maupun istrinya. Nabi Muhammad saw sukses dalam mengemban risalah kenabian karena jasa istri beliau Sayyidatina Khadijah binti Khuwailid. Bangsawan Quraisy yang kaya raya itu telah mengorbankan jiwa raga dan harta bendanya untuk menyukseskan dakwah Nabi. Sulit dibayangkan bagaimana jadinya tugas kenabian dan kerasulan tanpa Khadijah yang selalu setia di masa-masa sulit. Itu sebabnya jauh sesudah istri pertamanya itu meninggal, Nabi saw selalu teringat akan jasa dan perannya yang tidak pernah tergantikan. Wajar Manaqib Siti Khadijah sering dibacakan orang, supaya menjadi teladan kaum wanita dari masa ke masa.
Begitu juga dengan istri beliau yang sangat muda dan satu-satunya istri yang perawan, Sayyidatina Aisyah ra. Orangnya cerdas, sehingga mampu menyerap dan menghafal ribuan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah, terutama yang terkait dengan kehidupan berumah tangga. Setelah Rasul wafat, Aisyah masih hdiup lama, sehingga dapat mengajarkan banyak hadits kepada para sahabat kemudian.
Agak berbanding terbalik dengan Khalifah Umar bin Khattab, beliau kebetulan memiliki istri yang agak judes dan cerewet. Suatu ketika ada sahabat datang kepada Umar minta tolong, agar khalifah berkenan menasihati istri sahabat tersebut yang cerewet. Begitu mau masuk ke rumah Umar, sang tamu sudah mendengar bahwa istri khalifah sedang mengomeli Umar tentang suatu masalah yang mungkin tidak disetujuinya.
Akhirnya sang tamu urung minta nasihat. Dan Umar pun mengatakan, dia tak bisa memberi nasihat bagaimana caranya mengatasi istri yang cerewet, sebab istrinya sendiri cerewet. Meski begitu Umar tetap menyayangi istrinya, dengan melihat sisi baik dari istrinya, misalnya dalam mengasuh anak, dan ternyata beliau sukses dalam rumah tangga dan dalam mengemban amanah kekhalifahan. Keberhasilan Umar sebagai khalifah yang sangat jujur, wara’ dan sangat hati-hati menjalankan tugas negara ini, tak terlepas dari jasa sang istri. Rupanya istri Umar cerewet tapi dalam urusan kebaikan.
Pemimpin perjuangan India Mahatma Gandhi ternyata juga memiliki kesan mendalam terhadap wanita yang paling dikaguminya, yaitu ibunya sendiri. Gandhi berkata: “Dari seorang ibu yang buta huruf saya menjadi Gandhi seperti yang orang kenal. Ibu saya adalah wanita hebat melebihi siapa pun”.
Lain lagi dengan Winstone Churchill, perdana menteri Inggris semasa Perang Dunia II. Kebetulan ia punya seorang istri yang pintar, cerdas dan kritis. Mulanya Churchill hanya tokoh biasa. Tapi kemudian ia menjelma menjadi tokoh besar yang pandai berpidato, berorasi, membangun semangat tempur tentaranya sehingga menjadi pemenang PD II bersama Sekutu lainnya. Ternyata istrinya adalah seorang kritikus ulung, ia selalu mengoreksi dan mengkritisi penampilan suaminya, dari pakaiannya sikapnya, gaya pidatonya dan sebagainya. Ia tak segan mencela dan mengeritik suaminya, tapi muaranya untuk kebaikan suami juga.
Di Indonesia juga banyak contoh peran istri di balik kesuksesan suami. Presiden Soeharto misalnya, tidak terlepas dari peran Ibu Hartini (Ibu Tien) yang selalu mendampingi dan menyemangatinya. Satu kali ketika pangkat Pak Harto masih rendah, dan gaji pun kecil karena negara masih serba sulit, Pak Harto ingin berhenti jadi tentara, dan ingin menjadi sopir taksi. Ibu Tien memberi semangat dan kesabaran seraya menegaskan pendiriannya, bahwa ia bersedia jadi istri Pak Harto yang tentara, bukan istri seorang sopir. Berkat dorongannya akhirnya Pak Harto bertahan sebagai tentara sampai pangkat tertinggi dan menjadi presiden terbaik, jujur dan mengutamakan rakyat, dengan tetap hidup sederhana sampai akhir hayat.
Ibu Hasrie Ainun Habibie juga demikian. Di mata Habibie, Ibu Ainun memiliki banyak kelebihan, cerdas, setia dan menjadi penyemangat. Itu sebabnya sepeninggal Ibu Ainun, Habibie tidak pernah ingin beristri lagi sampai tutup usia. Lebih lengkap dapat dilihat biografi mereka berdua sebagai pasangan abadi.
Tentu tidak semua pria beruntung memiliki ibu dan istri yang baik dan hebat. Maria Antoinette, istri Kaisar Perancis Louis XVI, sudah tahu sang suami diktator dan korup, ternyata tidak berbuat sesuatu untuk meluruskan suami. Ia malah ikut-ikutan korup dan menindas rakyat. Bahkan ia dijuluki Madame Deficit (Nyonya Defisit), karena menyebabkan kebangkrutan negara. Akhirnya bersama suami ia dihukum mati dengan guillotine.
Ny Imelda Marcos, istri Presiden Filipina mendiang Ferdinand F Marcos dikesankan juga seorang wanita glamour, sepatunya sampai seribu pasang. Walaupun suaminya, Marcos, tampak sederhana, tapi ia ditumbangkan oleh rakyatnya melalui people power, karena terindikasi korupsi. Kabarnya, istri mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi yang terguling, Farah Diba, juga seorang wanita glamor dan bergaya hidup Barat, dan tidak berjilbab padahal memimpin negara muslim Iran, akhirnya ikut tumbang bersama suaminya dan hidup di pengasingan.
Memang tidak jarang karier suami jatuh gara-gara digerogoti oleh istri dan anak-anaknya. Tak sedikit ulama dan dai tak lagi dihargai masyarakat, hanya karena kelakuan istri dan anak yang kurang sejalan dengan ajaran agama yang didakwahkan.
Meskipun begitu, kehadiran wanita umumnya selalu bermanfaat. Filosof Yunani terkenal, Socrates mengatakan, kalau anda memiliki istri yang baik dan menyenangkan, anda beruntung karena anda akan berbahagia. Tetapi kalau anda kebetulan memiliki istri yang ”kurang baik” dan menyebalkan, itu pun positif karena anda akan menjadi filosof, pemikir. Wallahu A’lam.











