Oleh: Noorhalis Majid
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Kalimantan itu lumbung energi, tapi kenapa listrik mati? PLN tentu sudah memberikan penjelasan, matinya listrik karena persoalan teknis. Anehnya, mati menyeluruh secara bergantian.
Sebelum listik mati bergilir di wilayah Kalimantan, hal yang sama dialami warga di Sumatera. Kalau demikian adanya, benarkah karena permasalahan teknis pembangkit listrik?
Logikanya, mati listrik karena adanya kerusakan, perawatan atau apapun namanya, pada satu pembangkit, hanya berpengaruh pada wilayah dimana pembangkit tersebut beroperasi. Kalau padamnya menyeluruh, tentu menjadi tanda tanya, ada apa dan bagaimana kondisi sebenarnya yang sedang dialami PLN?
Sebagai institusi pelayanan publik, tentu PLN tidak ingin mati lampu, apalagi rutin secara bergiliran. Mati lampu, cermin buruknya kinerja PLN. Terkecuali ada maksud-maksud tertentu yang tersembunyi, sehingga mati lampu boleh jadi bagian dari strategi PLN untuk mencapai sesuatu. Kalau tidak ada maksud apapun, mati lampu hanya menurunkan citra PLN.
Isu Liar dan Berbagai Kecurigaan
Penting bagi PLN menjelaskan kepada publik secara jujur. Sekali lagi secara jujur dan transparan, sehingga bukan hanya dengan data yang tidak mudah diklarifikasi masyarakat, namun juga dengan basis logika yang masuk akal.
Bukankah perbaikan teknis, namun padamnya merata “seru sekalian alam”, meliputi seluruh provinsi di Kalimantan, adalah hal yang tidak logis? Kok bisa menyeluruh? Padahal kalau benar rusak, tentu tidak serempak di semua pembangkit.
Benarkah karena kehabisan bahan bakar? Benarkah karena PLN membeli dengan harga murah, sedangkan harga batubara dunia sedang naik dan memenuhi permintaan luar negeri akan beroleh dollar yang nilainya melambung tinggi? Akibatnya, tidak ada batubara untuk PLN. Sebagian besar batubara, dikirim ke luar untuk memenuhi permintaan ekspor.
Apakah PLN juga mengalami efisiensi, sehingga berpengaruh terhadap kemampuannya dalam, membeli batubara? Karena dananya terbatas, maka dibelilah batubaru sebanyak yang mampu dibeli, akhirnya jumlah batubara yang dimiliki tidak cukup untuk menggerakkan mesin pembangkit.
Muncul kecurigaan lain, bahwa mati bergilir ini bagian dari strategi untuk menegosiasikan anggaran PLN? Agar negara dan pemilih serta kuasa anggaran tahu, bahwa efisiensi terhadap PLN, tidak hanya berpengaruh pada PLN saja, namun juga berdampak bagi segenap Indonesia Raya. Menekan anggaran PLN, berarti memadamkan sebagian dan bahkan seluruh Indonesia.
Kenapa dinyatakan pemadaman bergilir terjadi hingga bulan September? Kalau disebabkan karena kerusakan, selama itukah perbaikan dilakukan? Tidak bisakan dipercepat dengan mendatangkan ahli atau menambah orang untuk memperbaiki? Bukankah September itu turunya Anggaran Biaya Tambahan atau Anggaran Perubahan? Apakah menunggu tambahan anggaran, hingga listrik dapat menyala dengan normal kembali?
Penjelasan yang jujur dan logis, sangat diperlukan. Memang di tengah krisis kepercayaan, Sekali pun disampaikan oleh lembaga-lembaga otoritatif, tetap saja sulit menyakinkan publik, karena sudah sering lembaga-lembaga yang mengaku memiliki otoritatif tersebut, ternyata berkata bohong, tidak jujur, bahkan korup, sehingga apapun alasan dan penjelasan yang disampaikan, sangat sulit mendapat kepercayaan dari publik.
Di sinilah pentingnya mengingat nasehat orang bijak, yang mengatakan bahwa “kepercayaan” adalah sesuatu yang sangat mahal dan berharga, tidak dapat diganti oleh apapun. Sebab tanpa kepercayaan, sehebat apapun seseorang atau suatu lembaga, maka dia tidak berguna sama sekali.
Kerugian Yang Ditanggung Warga
Mati bergilir, tentu sangat merugikan warga. Banyak warga mengeluh tidak dapat menjalankan aktivitas karena listrik padam. Pun para pengusaha, tidak bisa mengerjakan pesanan sesuai target, dan terhambat berproduksi, karena mati lampu maka mesin produksi juga mati. Pun alat produksi rawan rusak, dan jam kerja karyawan sangat terganggu.
Era sekarang tidak sama dengan saat era byar-pet zaman dahulu. Sekarang keadaannya berbeda jauh, sudah serba listrik. Segalanya tergantung pada listrik. Transaksi pembayaran, aplikasi pemesanan barang, serta berbagai informasi, alat pindai dan komunikasi, semuanya menggunakan kemajuan teknologi, segala saranan dan kemudahan tersebut sangat bergantung pada listrik.
Bahkan, seandainya listrik mati total dalam seminggu saja, mungkin akan terjadi blackout, kelumpuhan total yang memicu efek domino berbagai sektor. Sejumlah negara sudah merasakannya, walau hanya beberapa hari, sudah melumpuhkan segala hal, bahkan mematikan transaksi ekonomi.
Kerugian akibat listik mati, sudah tidak dapat dihitung dengan mudah, mengingat akibat dan dampaknya yang begitu luas.
Kalau pemadaman seperti ini terjadi 15 tahun yang lalu, mungkin tidak seberapa, akan tetapi sekarang, dimana ketergantungan teknologi sudah tak terhindarkan, maka ketersediaan listrik menjadi kebutuhan pokok.
Rekomendasi
Sudah selayaknya untuk membuat berbagai alternatif pembangkit listrik. Tidak sepenuhnya bergantung pada batubara atau pun bahan bakar minyak. Sudah mulai dirintis dan digalakkan berbagai alternatif pembangkit, seperti mengupayakan kembali pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listik tenaga surya, memanfatkan gelombang laut, teknologi kincir angin, dan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia.
Potensi-potensi tersebut, mestinya menjadi obyek penelitian Perguruan Tinggi, untuk dikembangkan dan diupayakan secara serius, sehingga akan ada temuan teknologi terbarukan, yang bukan saja bertumpu pada batubara dan minyak, namun juga potensi lainnya yang begitu banyak, terhampar di seluruh wilayah tanah air.
Kalau mau sedikit ekstrim, bolehlah kiranya PLN tidak menjadi pemain tunggal. Cukup negara menyediakan infrastrukturnya, sedangkan daya listrik dapat disediakan oleh siapa saja, oleh swasta, termasuk oleh PLN, sehingga terjadi persaingan yang sehat, termasuk persaingan pelayanan, agar tidak ada monopoli yang menyebabkan pelayanan dilakukan sekehendak hati.
Pada satu waktu, monopoli pelayanan yang hanya boleh diberikan oleh PLN, akan berakhir. Zaman dan perubahan tidak akan mampu dilawan, pada akhirnya, entah kapan, akan ada “pemain” lain yang bertugas menyediakan listrik. Hal itu akan dipercepat, bila PLN tidak kunjung memperbaiki kinerjanya.
Penting ada audit komprehensif terhadap PLN, sehingga semuanya akan jujur dan transparan, agar diketahui alasan sebenarnya dari pemadaman listrik. Bila disebabkan tata kelola yang buruk, menandakan keberadaan PLN dan seluruh kinernya, layak dievaluasi. Audit komprehensif, akan dapat mengikis dan memulihkan kepercayaan PLN di tengah warga, sambil memastikan pelayanan diupayakan semakin baik dan berkualitas. (nm)












