Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

MENELITI KEHIDUPAN

×

MENELITI KEHIDUPAN

Sebarkan artikel ini
AHDIAT GAZALI RAHMAN
H. AHDIAT GAZALI RAHMAN

Oleh : H AHDIAT GAZALI RAHMAN

Kehidupan, asal kata hidup yang menurut Kamus Besar Bahaasa Indonesia (KBBI) secara luas, hidup dimaknai sebagai sebuah proses, kesempatan, dan perjalanan untuk mencari arti serta memberi manfaat bagi sesama. Atau keadaan dimana manusia, hewan, atau tumbuhan masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Sebagaian memperhatikan diri manusia yang hidup, dimulai dari lahir, anak-anak, dewasa, tua hingga meninggalkan dunia ini.

Kalimantan Post

Karena terjadi hal seperti itu, maka beberapa ahli membagi hidup itu kepada masa kecil, remaja, dewasa, tua, dan meningeal dunia. Dalam dunia ekonomi, mereka membagai kehidupan manusia atas belajar, bekerja dan menikmati hasil pekerjaan hingga meninggal dunia, sehingga ada yang membagi menurut usia belajar dari 0 tahun hingga 25 tahun, masa kerja dari 25 tahun hingga 65 tahun dan terakhir itu meninggal dunia.

Mereka yang sukses ketika jadi pelajar akan mudah mendapatkan kerja, berlaku sebaliknya, mereka yang bekerja diharapkan dapat memberikan tabungan untuk hari tuanya. Sehingga mereka yang sukses pendidikan mudah mendapat kerja akan sejahtera hidupnya dan berlaku sebaliknya. Hal ini berdasarkan teori yang dikembangkan para ahli.

Sedangkan Islam membagi kehidupan itu kepada anak-anak dari usia 0 hingga balik (biasa 17 tahun), dalam usia itu, manusia mencari ilmu yang berhubungan dengan kewajiban dan larangan yang telah ditentukan oleh agama, apa yang boleh dan dianjurkan oleh untuk dikerjakan serta apa yang dilarang agama, tak boleh dikerjakan. Usia 17 tahun hingga meninggalkan dunia ini handaklah manusia selalu taat pada perintah agama dan jangan melakukan pelanggaran apapun.

Itu kehidupan yang seharusnya kita laksanakan agar hidup ini memiliki makna di hadapan Ilahi Rabby. Manusia yang bekerja pada umumnya telah dewasa, mereka yang dituntut oleh agama untuk mencari nafkah untuk kehidupannya, tentu dengan cara yang suci dan halal, tidak hanya mendapat harta yang sumbernya tak jelas apakah halal atau haram.

Baca Juga :  Membantu Anak-anak Pelosok Satui Menjemput Mimpi

Manusia yang meneliti kehidupan adalah manusia yang akan menghitung bagaimana kehidupan, apakah telah sesuai dengan petunjuk Ilahi Rabby, atau berlawananan dengan perintahNya, karena manusia yang meneliti kehidupannya pasti sadar bahwa kehidupan ini akan dipertanggungjawabkan kepada Allah, sebagaimana firmanNya, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. (QS. Al Mudatsir : 38). “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah :7-8).

Manusia beriman pasti akan selalu meneliti tentang kehidupannya, karena semua kehidupannya akan menjadi tanggungjawabnya, mereka yang melakukan kesalahan akan merubah perilakuknya agar tidak melakukan perbuatan yang salah lagi, dan berlaku sebaiknya jika mereka telah melakukan sebuah kebaikan pasti ingin melakukannya. Karena umat muslim akan menilai bahwa hidup dalam dunia hanya sementara, sedangkan yang benar-benar kehidupan itu di akhirat nanti.

Bahkan ada pemikiran yang kurang baik ditinjau dari sudut dunia, mereka rela hidup menderita dalam dunia namun akan mendapat kebahagian di akhirat nanti, sebuah yang menurut kacamata dalam dunia adalah pandangann yang kurang baik, apalagi jika dihubungkan dengan agama, bukan kita diharapkan sukses dalam dunia dan masuk surqa jika telah meninggal dunia. Di dunia menikmati nikmatnya dunia dan di akhirat akan masuk surqaNya Allah, karena taat perintahnya.

Iklan
Iklan