Oleh: AHMAD BARJIE B
SEKARANG istilah mangangarun (mengambil upah memanen padi) sudah jarang terdengar, dan kabarnya orang memanen padi sudah banyak menggunakan mesin. Sekadar pengingat, kisah berikut adalah potret mangangarun antara 50-30 tahun lewat.
Bi Inah tinggal di sebah kampung di hulu sungai. Pekerjaannya sebagai petani dan penyadap karet. Bertani dengan menanam padi dijadikan sebagai sumber pangan, sementara hasil menyadap karet untuk belanja sehari-hari.
Kali ini Bu Inah harus menyisakan uang perolehannya menyadap karet. Ia menabung untuk bekal berlabuh ke daerah Banjar, sebagai pengambil upah memanen padi. Ini merupakan pekerjaan rutinnya setiap tahun, sejak janda dengan dua anak ini ditinggal suaminya, yang menceraikannya secara tidak resmi. Tidak resmi dalam arti tidak lagi memberikan nafkah lahir dan batin, namun tidak pula memastikannya dengan sebuah surat talak.
Terpaksalah Bi Inah menguras keringatnya tiap hari untuk menghidupi kedua anaknya. Sebab orang tua tempatnya bergantung tidak pula bisa membantunya. Memasuki usia senja mereka lebih banyak bersiap untuk mati. Sebagai janda kembang yang memiliki paras lumayan, sebenarnya Bi Inah tak sulit mencari suami. Tetapi ia sudah memilih pasrah. Ia tak mau membebani suami baru dengan kedua anaknya itu. Sebab itulah ia lebih memilih hidup sendiri dan mandiri. Apa yang dikira wajar dan halal ia kerjakan untuk memperoleh uang. Masa remajanya sebagai kembang desa yang dipingit dan dimanja sudah hampir ia lupakan. Ia kini lebih realistis dalam menjalani hidup.
Untuk menemaninya, Bi Inah mengajak keluarganya Amat, seorang pemuda tanggung yang tinggal bersebelahan dengan desanya. Amat patuh saja dengan ajakan bibinya itu. Sebab tinggal di kampung juga tidak ada kerjaan pasti. Musim panen di kampung sudah lama lewat dan musim tanam pun belum tiba.
Sebenarnya Amat sudah menjual tiga ekor ayam jantan kesayangannya untuk biaya labuh kali ini . Namun karena beberapa kali niat labuh tertunda, karena mobilnya yang selalu penuh, maka uang itu pun hampir separoh terpakai. Di tengah pikirannya yang gamang, ia sempatkan pula membeli kupon SDSB beberapa lembar. Nyaris habislah uang jadinya. Sekali lagi ia harus menjual si manuk, ayam betina kepunyaan adiknya yang lagi mengeram. Telur eramannya dipindahkan ke ayam lain.
Selebihnya Amat minta uang dengan ayahnya, sisa berjualan pisang yang sejak beberapa tahun terakhir ini tak kunjung naik-naik harganya, karena harus dijual lewat perantara (pembelantik). Akhirnya, biaya untuk berlabuh ke ”Banjar” terpenuhi.
Ketika sampai di tempat tujuan uang itu pun ludes, sebab ia tak lupa makan di Pulau Pinang, Binuang, beli dodol dan rempe. Di dalam perjalanan Bi Inah dan Amat sempat bingung, mengenai tempat tujuan kali ini. Apakah ke Gambut, Jambu Burung, Handil Mangguruh, Paharangan, Bunipah, Tatah Balayung, Simpang Pipih, Anjir, Tamban, Palingkau atau Balawang. Sebab di semua tempat tersebut mereka punya kenalan, maklum setiap tahun mereka pergi ke tempat-tempat itu, secara bergiliran.
Tapi akhirnya mereka mantap memilih Gambut, daerah pertanian yang lebih dikenal dengan sebutan ”Kindai Limpuar”. Pemilihan tempat ini dirasa tepat, sebab padi tahun itu di sini lumayan baik. Tambahan pula kenalan mereka di sini, ada kaitan keluarga. Jadi lebih leluasa dalam bersikap, sebab masih ada semangat kekeluargaan. Apalagi Bi Inah juga membawa kedua anaknya yang masih kecil. Sedikit banyaknya tentu merepotkan, dan ini memerlukan toleransi yang tinggi dari tuan rumah.












