Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan derasnya arus informasi, remaja hidup dalam dunia yang menawarkan peluang sekaligus tantangan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Pengetahuan dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, keterampilan dapat dipelajari melalui berbagai platform digital, dan komunikasi berlangsung tanpa batas ruang maupun waktu. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru: tidak semua informasi yang mudah diakses adalah informasi yang benar, dan tidak semua teknologi yang canggih mampu menjadikan seseorang lebih bijaksana.
Dalam situasi seperti ini, investasi terbaik yang dapat diberikan kepada remaja bukanlah sekadar perangkat digital terbaru atau akses internet yang semakin cepat. Investasi yang paling berharga justru adalah literasi. Literasi bukan hanya menjadi bekal untuk menghadapi perubahan zaman, tetapi juga fondasi untuk membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Tema Hari Remaja Internasional yang diperingati setiap 12 Agustus 2026, Different Contexts, Common Aspirations (Konteks yang Berbeda, Aspirasi yang Sama), menjadi pengingat bahwa meskipun remaja berasal dari latar belakang yang beragam, mereka memiliki harapan yang sama: memperoleh kesempatan belajar, mengembangkan potensi, dan meraih kehidupan yang lebih baik. Aspirasi tersebut tidak akan tercapai hanya dengan kemajuan teknologi, tetapi membutuhkan kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara cerdas. Di sinilah literasi menemukan makna yang sesungguhnya.
Selama ini, literasi sering dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, makna literasi telah berkembang jauh lebih luas. Literasi mencakup kemampuan mencari informasi, memahami isi, mengevaluasi kebenarannya, menghubungkan berbagai sumber pengetahuan, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab untuk mengambil keputusan. Dalam era digital, literasi juga berarti kemampuan memilah informasi yang valid di tengah maraknya hoaks, disinformasi, manipulasi visual, dan konten yang dihasilkan oleh AI.
Kita sedang memasuki masa ketika informasi bukan lagi sesuatu yang langka, melainkan melimpah. Ironisnya, kelimpahan informasi tidak selalu diikuti oleh kelimpahan pemahaman. Banyak remaja lebih akrab dengan budaya membaca cepat, menggulir layar tanpa henti, atau mempercayai informasi yang viral tanpa melakukan verifikasi. Algoritma media sosial cenderung menyajikan konten yang menarik perhatian, bukan yang paling akurat. Akibatnya, ruang digital dipenuhi opini yang bercampur dengan fakta, sehingga membingungkan pengguna, terutama generasi muda.
Perkembangan AI semakin mempertegas pentingnya literasi. Teknologi ini mampu menghasilkan tulisan, gambar, video, bahkan suara yang tampak meyakinkan. AI menjadi alat yang sangat membantu dalam proses belajar, riset, dan kreativitas. Namun, AI juga dapat menghasilkan informasi yang kurang tepat atau tidak didukung sumber yang valid. Karena itu, kemampuan menggunakan AI secara kritis jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mengoperasikannya.
Remaja yang memiliki literasi yang baik tidak akan menerima setiap informasi secara mentah. Mereka akan bertanya, memeriksa sumber, membandingkan referensi, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti. Sikap seperti inilah yang menjadi modal utama dalam membangun masyarakat yang cerdas dan demokratis. Sebaliknya, rendahnya literasi akan membuat remaja mudah terpengaruh hoaks, ujaran kebencian, penipuan digital, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi yang semakin canggih.
Di sinilah peran pendidikan dan perpustakaan menjadi sangat penting. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga perlu membangun budaya berpikir kritis, berdiskusi, dan menghargai proses pencarian ilmu. Demikian pula perpustakaan, yang kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan buku, melainkan pusat literasi, ruang kolaborasi, dan laboratorium pembelajaran sepanjang hayat.
Perpustakaan modern hadir dengan berbagai layanan digital, koleksi elektronik, ruang diskusi, pelatihan literasi informasi, hingga pendampingan penggunaan AI secara bijak. Lebih dari itu, perpustakaan menyediakan akses terhadap sumber informasi yang telah melalui proses seleksi dan pengelolaan secara profesional. Dalam konteks ini, perpustakaan menjadi ruang yang membantu remaja belajar membedakan antara informasi yang benar dan yang sekadar populer.
Peran pustakawan pun semakin strategis. Mereka tidak lagi hanya mengelola koleksi, tetapi juga menjadi fasilitator literasi informasi. Pustakawan membantu pengguna menemukan referensi yang kredibel, mengenalkan teknik penelusuran informasi, serta membimbing masyarakat menggunakan teknologi secara etis. Kehadiran pustakawan menjadi bukti bahwa di tengah kemajuan AI, sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk membangun pemahaman yang utuh.
Investasi pada literasi juga berarti investasi pada karakter. Kebiasaan membaca melatih kesabaran, ketelitian, empati, dan kemampuan memahami sudut pandang yang berbeda. Kemampuan berpikir kritis membentuk pribadi yang tidak mudah terprovokasi. Sementara kemampuan mengolah informasi secara etis akan melahirkan generasi yang bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Nilai-nilai inilah yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan mesin.
Indonesia sedang menuju visi Indonesia Emas 2045. Bonus demografi yang dimiliki bangsa ini akan menjadi kekuatan besar apabila diisi oleh generasi yang literat, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan. Namun, bonus tersebut dapat berubah menjadi beban apabila generasi muda tumbuh tanpa kemampuan menyaring informasi dan memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Oleh karena itu, investasi pada literasi harus menjadi agenda bersama, melibatkan keluarga, sekolah, perpustakaan, pemerintah, media, dan komunitas.
Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi juga oleh seberapa siap manusia menggunakannya secara bertanggung jawab. Di tengah dunia yang terus berubah, literasi menjadi bekal yang tidak lekang oleh waktu. Ia membuka pintu pengetahuan, memperluas wawasan, memperkuat karakter, dan membantu generasi muda mengambil keputusan yang tepat dalam setiap fase kehidupan.
Karena itu, jika kita ingin mewariskan sesuatu yang benar-benar bernilai kepada remaja, jangan hanya memberikan mereka gawai yang lebih canggih atau aplikasi yang lebih pintar. Berikan mereka kemampuan untuk membaca dengan kritis, berpikir dengan jernih, dan belajar sepanjang hayat. Sebab investasi terbaik untuk remaja bukanlah teknologi, melainkan literasi. Dari sanalah akan lahir generasi yang tidak hanya cakap menggunakan informasi, tetapi juga mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.













