Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Prinsip-prinsip Al-Quran dalam Menjalani Kehidupan

×

Prinsip-prinsip Al-Quran dalam Menjalani Kehidupan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ahmad Supiannor, M.H.

(Alumni STDI Imam Syafi’i Jember
Prodi Ahwal Syakhshiyyah tahun 2022)

Kalimantan Post


Pembaca yang Budiman Hafizhakumullah.
Salah satu prinsip Al-Quran yang harus diingat oleh setiap mukmin agar hidup tetap tenang dan tentram adalah sebagaimana terkandung dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


{وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)


Ayat yang mengingatkan dan mengajarkan kita bahwa yang dibenci belum tentu buruk dan yang disuka belum tentu baik. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui yang terbaik untuk kita.

Manusua Ketika Mendapat Sesuatu yang Disuka
Sebagian manusia ketika mendapatkan apa yang ia suka, seperti harta berlimpah, jabatan, dan kenikmatan lainnya, tidak sedikit dari mereka yang kemudian terlalu senang sehingga membuatnya lupa bersyukur, lupa bahwa ia dapatkan itu atas karunia Allah Ta’ala. Bahkan bisa sampai jadi membuatnya bersikap angkuh dan sombong . Sebagaimana yang terjadi pada Qarun yang mendapatkan harta kekayaan yang melimpah, bukannya menjadi hamba yang beriman dan bersyukur kepada Allah, justru menjadi manusia yang congkak dan sombong. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan pernyataan Qarun:


{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي}


Qarun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku” (Al-Qashas: 78).


Kemudian akhirnya Allah binasakan ia atas keangkuhan dan kesombongannya. Allah Ta’ala berfirman:


{فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ}


Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (Al-Qashas: 81).


Bukankah semua kita suka harta? Tapi apakah harta tersebut justru pasti baik untuk kita? Jika pasti baik, lantas mengapa Qarun binasa? Maka apa yang kita suka belum tentu baik untuk kita.

Baca Juga :  Meminimalisir Kepungan Asap

Ketika Ditimpa Sesuatu yang dibenci
Sebaliknya, ketika ditimpa hal apa yang tidak ia sukai, berupa musibah, kehilangan harta, kematian orang terdekat, dan berbagai musibah lainnya, ada yang kemudian terlalu tenggelam dalam kesedihan, seakan-akan hidup berasa tidak ada artinya lagi. Sehingga putus asa dan tidak ada gairah untuk meneruskan hidup.

Padahal Ia memiliki Rabb Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui keadaannya. Maka ini juga merupakan musibah di atas musibah. Musibah ditimpa hal yang tidak ia sukai dan musibah lupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb alam semesta.


Padahal kalau ia mau bersabar dan beriman dengan Takdir Allah, tentu itu lebih baik baginya. Bahkan bisa jadi dibalik musibah tersebut, ada kebahagiaan besar yang Allah siapkan baginya. Sebagaimana dahulu pernah terjadi pada Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, yang ditinggal meninggal oleh suami yang sangat ia cintai Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu. Ketika suaminya meninggal ia teringat dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:


((ما مِن مُسلِمٍ تُصيبُه مُصيبةٌ، فيَقولُ ما أمَرَه اللهُ: {إنَّا للَّهِ وإنَّا إليه راجِعونَ}، اللهمَّ أْجُرني في مُصيبَتي، وأخلِفْ لي خَيرًا مِنها، إلَّا أخلَفَ اللهُ له خَيرًا مِنها))


Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali), kemudian berdoa: ‘Allāhumma’jurnī fī muṣībatī, wa akhlif lī khairan minhā’ (Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan menggantikan baginya dengan sesuatu yang lebih baik daripada musibah tersebut.” (HR. Muslim No. 918)


Lantas Ummu Salamah terbetik di dalam hatinya: “Siapa orang yang lebih baik daripada Abu Salamah?” Ternyata kemudian Allah gantikan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang kemudian melamar dan menjadi suaminya. Tentunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih baik dari Abu Salamah.

Baca Juga :  Istighfar (Memohon Ampun)


Bukankah kita tidak suka orang terdekat kita meninggalkan kita? Tapi apakah kematian tersebut justru pasti buruk untuk kita? Maka apa yang kita tidak sukai belum tentu buruk bagi kita. Bisa jadi dibalik itu ada banyak kebaikan yang Allah siapkan, sekiranya seorang hamba mau bersabar atas apapun yang menimpanya.

Kuncinya adalah Syukur, Sabar, dan Beriman dengan Takdir Allah.


Oleh karena itu, apapun yang dihadapi, baik hal yang disuka atau dibenci, hendaknya seorang hamba yang beriman bersyukur kepada Allah ketika mendapatkan hal yang ia suka, dan bersabar ketika ditimpa hal yang ia tidak suka. Karena selama ia bersyukur, bersabar, dan beriman dengan Takdir Allah niscaya kebaikanlah yang senantiasa ia dapatkan. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiqnya agar dimudahkan menjalankan agama ini dengan ikhlas dan benar sesuai tuntunan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Quotes:
Pilihan Allah untukmu pasti lebih baik daripada pilihanmu untuk dirimu sendiri, maka berprasangka baiklah kepada-Nya

Iklan
Iklan