Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Rudy Arifin Telah Pergi, Tetapi Jejak Pengabdiannya Tetap Tingga di banua

×

Rudy Arifin Telah Pergi, Tetapi Jejak Pengabdiannya Tetap Tingga di banua

Sebarkan artikel ini
IMG 20260623 114618 e1782186466808
Ir. H. Sukhrowardi, MAP

Oleh: Ir. H. Sukhrowardi, MAP

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kalimantan Selatan kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Kalimantan Post


Minggu, 6 September 2026, kabar duka itu datang. H. Rudy Ariffin, mantan Gubernur Kalimantan Selatan dua periode, telah berpulang ke Rahmatullah dalam usia 73 tahun.


Ada rasa kehilangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sebab bagi banyak orang di Banua, Rudy Ariffin bukan sekadar nama yang pernah tercatat dalam sejarah pemerintahan Kalimantan Selatan. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang pembangunan Banua,

seorang birokrat, pemimpin, sekaligus pribadi yang meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.


Rudy Ariffin memimpin Kalimantan Selatan selama dua periode, 2005–2010 dan 2010–2015. Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek. Dalam rentang itulah berbagai kebijakan pembangunan dijalankan dan berbagai fondasi pembangunan daerah diletakkan.

Pemimpin yang Meninggalkan Jejak
Setiap pemimpin tentu memiliki zamannya. Tetapi tidak semua pemimpin mampu meninggalkan jejak yang terus dikenang setelah masa jabatannya berakhir.


Rudy Ariffin adalah salah satunya.


Selama memimpin Kalimantan Selatan, pembangunan diarahkan pada berbagai sektor penting yang menyentuh kehidupan masyarakat, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan hingga pertanian. Jejak pengabdiannya menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Kalsel yang hari ini terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.


Sebelum menjadi gubernur, Rudy Ariffin juga telah memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan. Ia pernah menjadi Bupati Banjar selama dua periode. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal penting ketika kemudian dipercaya memimpin Kalimantan Selatan.


Karena itu, ketika kita mengenang Rudy Ariffin, kita sesungguhnya sedang mengenang perjalanan seorang anak Banua yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pemerintahan dan masyarakat.


Ada banyak pembangunan yang mungkin hari ini telah berubah, diperbaiki, bahkan digantikan oleh pembangunan baru. Tetapi nilai pengabdian tidak pernah kehilangan makna.
Sebab pembangunan bukan hanya tentang bangunan yang berdiri.


Pembangunan juga tentang apa yang diwariskan kepada generasi setelah kita.

Tidak Hanya Membangun, tetapi Juga Merawat Kehidupan Sosial dan Keagamaan
Salah satu hal yang menarik dari perjalanan Rudy Ariffin adalah perhatiannya terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Baca Juga :  Pengembangan Kasus Harus Dikawal


Jauh sebelum menjadi gubernur, ketika memimpin Kabupaten Banjar, Rudy Ariffin dikenal sebagai sosok yang memberikan perhatian terhadap kehidupan keagamaan. Salah satu warisan kebijakannya adalah Perda Ramadan yang kemudian menjadi bagian dari identitas kebijakan daerah pada masa itu.


Perhatian tersebut juga berlanjut ketika dirinya memimpin Provinsi Kalimantan Selatan.


Sejumlah bantuan untuk pembangunan fasilitas keagamaan dan sosial tercatat dalam perjalanan pengabdiannya, termasuk dukungan terhadap Masjid Al Jihad Banjarmasin dan akses menuju Rumah Sakit Islam Banjarmasin.


Bagi saya, hal tersebut menunjukkan satu hal penting: bahwa pembangunan daerah yang ideal tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga harus membangun manusia, kehidupan sosial dan nilai-nilai spiritual masyarakat.

Pribadi yang Terbuka terhadap Kritik
Ada satu sisi lain dari Rudy Ariffin yang patut dikenang.
Sebagai seorang pemimpin, ia tidak menempatkan kritik sebagai sesuatu yang harus ditakuti.
Dalam sebuah kesempatan, Rudy pernah menyampaikan bahwa kritik wartawan terhadap pemerintah justru merupakan saran dalam melaksanakan pembangunan Kalimantan Selatan.


Ini adalah sikap yang penting.


Sebab pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu ingin dipuji. Pemimpin yang baik justru membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan kekurangan agar kekuasaan tidak kehilangan arah.
Di situlah saya melihat salah satu karakter positif Rudy Ariffin.


Ia memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan, tetapi tetap berusaha menjaga komunikasi dengan banyak kalangan. Ia dikenal mudah bergaul, menjaga silaturahmi dan mampu membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat.
Tidak mengherankan jika setelah kepergiannya, muncul kesaksian dari banyak tokoh yang mengenang dirinya sebagai sosok panutan dan pemersatu Banua.

Warisan Terbesar Seorang Pemimpin Adalah Keteladanan
Kita sering mengukur keberhasilan seorang kepala daerah melalui angka pertumbuhan ekonomi, panjang jalan yang dibangun, jumlah gedung yang berdiri atau banyaknya penghargaan yang diterima.
Semua itu penting.


Tetapi ada satu ukuran yang jauh lebih dalam: bagaimana masyarakat mengenang pemimpinnya setelah ia tidak lagi memegang kekuasaan.


Hari ini Rudy Ariffin sudah tidak memiliki jabatan.
Tidak ada lagi kekuasaan yang melekat pada dirinya.
Tidak ada lagi ruang kerja gubernur.
Tidak ada lagi fasilitas protokoler.
Yang tersisa hanyalah nama, karya, kenangan, hubungan persaudaraan dan doa orang-orang yang pernah mengenalnya.
Dan di situlah sesungguhnya ukuran seorang pemimpin diuji.

Baca Juga :  Mencegah LGBTQ di Sekolah: Cukupkah dengan Insersi Kurikulum?


Apabila setelah seseorang meninggalkan dunia ini masih banyak orang yang mengenang kebaikannya, mendoakannya, dan merasakan bahwa pernah ada manfaat yang diberikan selama hidupnya, maka sesungguhnya ia telah meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar jabatan.


Rudy Ariffin telah menyelesaikan satu fase panjang pengabdiannya.
Kini estafet pembangunan Banua berada di tangan generasi berikutnya.
Tugas kita bukan hanya mengenang beliau, tetapi juga melanjutkan nilai-nilai baik yang pernah ditanamkannya: pengabdian, silaturahmi, kepedulian terhadap masyarakat, keterbukaan terhadap kritik, serta komitmen membangun daerah.

Selamat Jalan, Ayahanda Rudy Ariffin
Bagi saya pribadi dan bagi banyak masyarakat Kalimantan Selatan, kepergian Rudy Ariffin tentu meninggalkan ruang kosong.
Namun setiap perjumpaan dengan kehidupan pasti memiliki akhir.
Setiap pemimpin akan meninggalkan jabatannya.
Dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Hari ini, kita tidak lagi berbicara tentang kekuasaan beliau.
Kita berbicara tentang amal dan pengabdian.
Tentang kebaikan yang pernah diberikan.
Tentang pembangunan yang pernah diperjuangkan.
Tentang persaudaraan yang pernah dirawat.
Tentang senyum, keramahan dan hubungan baik yang pernah terjalin.
Semoga seluruh pengabdian beliau untuk masyarakat dan Banua menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahan beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi Allah SWT.


Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.


Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, muliakanlah tempat kembalinya dan tempatkanlah beliau bersama orang-orang yang Engkau cintai.


Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, ketabahan dan keikhlasan.
Selamat jalan, Ayahanda H. Rudy Ariffin.


Jabatan boleh berakhir. Kekuasaan boleh berlalu. Tetapi pengabdian dan kebaikan akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Semoga almarhum memperoleh husnul khatimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Al-Fatihah.

Iklan
Iklan