Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Literasi di Tengah Kepungan Asap

×

Literasi di Tengah Kepungan Asap

Sebarkan artikel ini

(Momentum Hari Aksara Internasional 2026)

Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Ada masa ketika manusia harus membaca bukan dengan buku, melainkan dengan langit. Ketika udara berubah pekat, jarak pandang menurun, dan debu vulkanik menyelimuti lingkungan, alam seolah sedang mengirimkan pesan yang harus dipahami. Dalam situasi seperti itu, kemampuan membaca memperoleh makna yang jauh lebih luas: bukan sekadar mengenali huruf dan kata, tetapi membaca tanda, memahami informasi, mengenali risiko, dan mengambil keputusan yang tepat.

Kalimantan Post

Di tengah kepungan asap dan debu vulkanik yang belakangan menjadi perhatian masyarakat, pertanyaan tentang literasi menjadi semakin relevan. Sebab, dalam situasi bencana dan krisis lingkungan, keselamatan manusia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan masker, fasilitas kesehatan, atau kesiapan pemerintah. Keselamatan juga sangat bergantung pada kemampuan masyarakat memperoleh, memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara benar.

Inilah relevansi Hari Aksara Internasional 2026 yang mengusung tema “Literacy for people, the planet and prosperity”—literasi untuk masyarakat, planet, dan kemakmuran. Tema tersebut mengingatkan kita bahwa literasi tidak boleh dipersempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi kekuatan sosial yang membantu manusia menghadapi persoalan kehidupan, termasuk perubahan lingkungan dan bencana.

Dari Membaca Teks ke Membaca Risiko

Selama ini literasi sering dipahami dalam ruang kelas, perpustakaan, buku, atau kemampuan memahami bacaan. Pemahaman tersebut tentu benar, tetapi belum lengkap. Dalam kehidupan nyata, seseorang yang literat dituntut mampu membaca berbagai situasi dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.

Ketika abu vulkanik menyebar, misalnya, masyarakat harus mampu membaca informasi mengenai arah sebaran abu, kualitas udara, rekomendasi kesehatan, status gunung api, hingga kemungkinan perubahan aktivitas masyarakat. Ketika pemerintah mengeluarkan peringatan, masyarakat perlu memahami apa maknanya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Di sinilah literasi menjadi bagian dari mitigasi bencana.

Masyarakat yang memiliki literasi kebencanaan tidak mudah panik, tetapi juga tidak meremehkan ancaman. Mereka tidak serta-merta mempercayai pesan berantai di media sosial. Mereka mencari informasi dari sumber resmi, membandingkan informasi, memahami konteks, lalu menentukan tindakan.

Sebaliknya, rendahnya literasi dapat membuat bencana alam berkembang menjadi bencana informasi. Di tengah kepanikan, kabar yang belum terverifikasi dapat menyebar jauh lebih cepat daripada informasi resmi. Sebuah video lama dapat diklaim sebagai kejadian terbaru. Foto dari wilayah lain dapat dikaitkan dengan bencana yang sedang berlangsung. Pesan berantai yang tidak jelas sumbernya dapat menimbulkan kepanikan.

Baca Juga :  LGBT Ancaman Hidup Manusia

Karena itu, di era digital, kemampuan membaca harus berjalan bersama kemampuan memeriksa kebenaran.

Ketika Informasi Menjadi Penyelamat

Dalam situasi darurat, informasi dapat menjadi penyelamat. Satu informasi yang benar tentang tempat evakuasi dapat menyelamatkan keluarga. Satu peringatan yang dipahami dengan baik dapat mencegah seseorang memasuki kawasan berbahaya. Satu penjelasan kesehatan yang tepat dapat membantu masyarakat melindungi diri dari dampak buruk asap maupun abu vulkanik.

Karena itu, literasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan: “Apakah seseorang bisa membaca?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah seseorang mampu memahami apa yang dibacanya dan menggunakannya untuk mengambil keputusan yang benar?”

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika hampir setiap orang memiliki akses terhadap informasi melalui telepon pintar. Kita hidup dalam masyarakat yang bukan kekurangan informasi, tetapi justru menghadapi ledakan informasi. Masalahnya bukan lagi sekadar information scarcity, melainkan information overload.

Dalam kepungan asap, masyarakat membutuhkan informasi yang jernih. Dalam kepungan hoaks, masyarakat membutuhkan nalar yang kritis.

Maka, literasi informasi dan literasi digital harus menjadi bagian penting dari pendidikan masyarakat. Anak-anak, orang dewasa, keluarga, komunitas, hingga kelompok rentan perlu dibekali kemampuan untuk mengenali sumber informasi yang kredibel, memeriksa fakta, memahami data, serta tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Perpustakaan di Tengah Krisis

Dalam konteks inilah perpustakaan memiliki peran yang strategis. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang publik untuk membangun masyarakat yang memiliki kemampuan mengakses dan mengelola pengetahuan.

Pustakawan pun tidak lagi cukup hanya menjadi penjaga koleksi. Di tengah derasnya arus informasi, pustakawan dapat tampil sebagai pendamping literasi masyarakat: membantu menemukan sumber yang kredibel, mengajarkan cara mengevaluasi informasi, serta menghubungkan masyarakat dengan pengetahuan yang dibutuhkan.

Dalam situasi bencana, perpustakaan bahkan dapat menjadi salah satu simpul informasi masyarakat. Informasi mengenai kebencanaan, kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan layanan publik dapat dikemas dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Baca Juga :  Prinsip-prinsip Al-Quran dalam Menjalani Kehidupan

Di sinilah profesi pustakawan memperoleh makna sosial yang semakin luas. Pustakawan bukan sekadar mengelola buku, tetapi ikut menjaga ekosistem pengetahuan agar masyarakat tidak tersesat di tengah banjir informasi.

Literasi untuk Manusia dan Planet

Tema Hari Aksara Internasional tahun ini juga mengandung pesan ekologis yang penting. Literasi tidak hanya berbicara tentang manusia, tetapi juga tentang planet.

Masyarakat yang literat seharusnya mampu memahami hubungan antara aktivitas manusia dan keberlanjutan lingkungan. Kita perlu membaca perubahan alam, memahami risiko lingkungan, mengenali ancaman perubahan iklim, serta membangun perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi.

Literasi lingkungan menjadi semakin penting karena bencana ekologis tidak selalu hadir secara tiba-tiba. Sebagian merupakan akumulasi dari cara manusia memperlakukan alam.

Karena itu, literasi harus melahirkan kesadaran. Membaca tentang lingkungan tidak cukup jika tidak mengubah perilaku. Mengetahui bahaya pencemaran tidak cukup jika kita masih membuang sampah sembarangan. Memahami perubahan iklim tidak cukup jika kita tidak bersedia mengubah pola konsumsi yang merusak lingkungan. Literasi pada akhirnya harus menghasilkan tindakan.

Jangan Hanya Melek Huruf

Kepungan asap dan debu vulkanik memberikan pelajaran sederhana tetapi mendalam: manusia tidak cukup hanya melek huruf. Kita harus melek informasi, melek risiko, melek lingkungan, dan melek teknologi.

Sebab, pada saat tertentu, sebuah informasi yang benar bisa lebih berharga daripada banyak informasi yang tidak jelas sumbernya.

Hari Aksara Internasional seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan kemampuan membaca dan menulis. Ia harus menjadi pengingat bahwa aksara memiliki tujuan yang lebih besar: membuat manusia mampu memahami dunia dan memperbaikinya.

Di tengah langit yang tertutup asap, kita sesungguhnya sedang diuji: apakah kita mampu membaca tanda-tanda alam, membaca informasi dengan kritis, dan membaca kebutuhan sesama? Sebab literasi yang sesungguhnya bukan hanya kemampuan membaca dunia.

Literasi adalah kemampuan memahami dunia, merawat planet, dan mengambil tindakan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Dari aksara kita membangun pengetahuan. Dari pengetahuan kita melahirkan kesadaran. Dan dari kesadaran itulah kita menemukan jalan menuju keselamatan, keberlanjutan, dan kemakmuran bersama.

Iklan
Iklan