Oleh: Ir, H. Sukhrowardi, MAP
WAKTU terus berjalan. Satu tahun mungkin terasa singkat dalam perjalanan sebuah
pemerintahan daerah.
Namun, satu tahun juga cukup untuk melihat ke mana sebuah
kepemimpinan hendak membawa kotanya.
Di Banjarbaru, perjalanan satu tahun kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby bersama
Wakil Wali Kota Wartono memperlihatkan satu hal yang patut diapresiasi: pemerintahan
tidak berhenti pada rutinitas birokrasi, tetapi berusaha menghadirkan berbagai
terobosan yang menyentuh banyak aspek kehidupan masyarakat.
Bukti paling mudah terlihat adalah sederet penghargaan yang berhasil diraih Pemerintah Kota Banjarbaru, baik di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan maupun nasional.
Namun, penghargaan sesungguhnya hanyalah angka yang terlihat di permukaan. Di balik setiap penghargaan terdapat proses, kerja birokrasi, koordinasi, kebijakan dan tentu saja kepemimpinan.
Karena itu, ketika Banjarbaru memperoleh Piagam Apresiasi Terbaik I atas capaian Rata-Rata Lama Sekolah, serta apresiasi terbaik atas capaian Standar Pelayanan Minimum pendidikan se-Kalimantan Selatan, capaian tersebut tidak semata-mata berbicara mengenai angka
pendidikan.
Ia berbicara tentang sebuah kota yang mempertahankan identitasnya sebagai kota
pendidikan.
Banjarbaru sejak lama dikenal sebagai kota pendidikan dan pemerintahan. Identitas tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga. Tantangannya adalah bagaimana identitas itu
terus dipelihara sekaligus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan zaman.
Di bawah kepemimpinan Lisa Halaby, pendidikan tetap menjadi salah satu perhatian penting.
Sebab membangun kota pada akhirnya bukan hanya membangun jalan dan gedung.
Membangun kota berarti membangun manusianya.
Prestasi yang Berbicara tentang Manusia
Hal serupa terlihat pada sektor kesehatan dan perlindungan anak.
Puskesmas Rawat Inap Cempaka meraih predikat terbaik dalam Penilaian Pelayanan Ramah
Anak.
Banjarbaru juga memperoleh predikat Madya Kabupaten/Kota Layak Anak Tahun
2025.
Kemudian hadir pula predikat Kota Sehat kategori Swasti Saba Wiwerda Tahun 2025 serta UHC Award 2026 kategori Madya.
Jika seluruh penghargaan tersebut dirangkai menjadi satu cerita, ada pesan yang cukup jelas, pembangunan Banjarbaru tidak hanya diarahkan pada bagaimana kota terlihat semakin maju,
tetapi juga bagaimana warganya memperoleh pelayanan dan kualitas hidup yang semakin baik.
Kota yang baik bukan hanya kota dengan jalan yang mulus.
Kota yang baik adalah kota yang membuat anak merasa terlindungi, keluarga memperoleh pelayanan kesehatan, masyarakat memperoleh akses pendidikan, dan warga mendapatkan
pelayanan pemerintah tanpa harus merasa dipersulit.
Di situlah sesungguhnya ukuran keberhasilan pemerintah daerah.
Dan di titik ini, capaian Lisa Halaby patut mendapatkan apresiasi.
Jalan Baru, Cara Pandang Baru
Menariknya, kepemimpinan Lisa Halaby juga memperlihatkan perhatian terhadap persoalan
konektivitas kota.
Banjarbaru berkembang. Penduduk bertambah. Aktivitas ekonomi bergerak. Kawasan baru tumbuh.
Konsekuensinya, persoalan lalu lintas dan kemacetan tidak mungkin diselesaikan hanya
dengan memperlebar atau memperbaiki jalan yang sudah ada.
Diperlukan cara berpikir yang lebih jauh ke depan.
Salah satunya melalui persiapan pembangunan Jalan Lingkar Selatan, yang dirancang menghubungkan Jalan Purnawirawan di Kelurahan Palam menuju Jalan Guntung Manggis
hingga jalan tembus Liang Anggang–Bati-Bati.
Jika terealisasi dengan baik, jalan ini bukan hanya menjadi infrastruktur baru.
Ia dapat menjadi instrumen untuk membuka konektivitas kawasan, memperlancar mobilitas masyarakat, mendukung distribusi barang dan jasa, sekaligus membuka peluang tumbuhnya
pusat-pusat ekonomi baru.
Inilah jenis pembangunan yang penting bagi sebuah kota yang sedang berkembang.
Jangan menunggu kemacetan menjadi parah baru membangun jalan.
Jangan menunggu kawasan tumbuh tanpa arah baru memikirkan konektivitas.
Pemimpin daerah harus mampu melihat beberapa langkah ke depan.
Dan pembangunan Jalan Lingkar Selatan menunjukkan adanya upaya untuk membaca
kebutuhan Banjarbaru bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.
Dari Penghargaan Infrastruktur hingga Tata Kelola
Di sektor infrastruktur, Banjarbaru juga memperoleh Sutami Award 2025.
Penghargaan tersebut semakin bermakna ketika dikaitkan dengan agenda pembangunan
infrastruktur yang sedang dipersiapkan Pemerintah Kota Banjarbaru.
Begitu pula dengan penghargaan Terbaik II atas kinerja penyerapan Transfer ke Daerah ( TKD) tertinggi Tahun Anggaran 2025.
Anggaran pemerintah pada hakikatnya bukan sekadar angka dalam dokumen APBD.
Di balik setiap rupiah terdapat kepentingan masyarakat.
Karena itu, kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola dan merealisasikan anggaran secara efektif menjadi bagian penting dari kualitas pemerintahan.
Masyarakat tentu berharap uang negara kembali kepada mereka dalam bentuk pelayanan, infrastruktur, program pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup.
Inilah yang disebut good government dalam pengertian yang paling sederhana, pemerintah bekerja, anggaran dikelola, pelayanan diperbaiki dan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Kartini Hebat dan Politik Pemberdayaan
Ada pula sisi lain dari kepemimpinan Lisa Halaby yang menarik untuk dicermati, yaitu upaya membangun komunikasi dan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan Kartini Hebat.
Program yang mendorong masyarakat, khususnya perempuan, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman seperti cabai dan terong memang terlihat sederhana.
Tetapi jangan meremehkan sesuatu hanya karena dimulai dari halaman rumah.
Dari tanaman cabai dan terong, pemerintah sebenarnya sedang membangun kesadaran
mengenai ketahanan pangan keluarga, pemanfaatan lahan dan pemberdayaan perempuan.
Perempuan tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan.
Mereka didorong menjadi bagian dari solusi.
Ketika ibu-ibu di rumah dapat menanam kebutuhan pangan sendiri, ada nilai ekonomi yang
muncul. Ketika kelompok masyarakat bergerak bersama, muncul pula modal sosial.
Di sinilah pembangunan menjadi lebih manusiawi.
Pembangunan bukan semata-mata dari atas ke bawah, tetapi juga tumbuh dari bawah melalui
partisipasi warga.
Dan ketika masyarakat mulai merasa ikut memiliki program pemerintah, sesungguhnya
pemerintah sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar
infrastruktur rasa memiliki terhadap kota.
Ketika Karhutla Menguji Kehadiran Pemimpin
Tentu Banjarbaru bukan tanpa persoalan.
Karhutla menjadi salah satu tantangan serius.
Di tengah kepungan persoalan tersebut, kehadiran pemimpin tidak cukup hanya melalui rapat
dan instruksi.
Masyarakat membutuhkan ketenangan. Mereka membutuhkan rasa bahwa pemerintah bersama mereka.
Dalam situasi seperti itu, Lisa Halaby mencoba menghadirkan pendekatan yang tidak semata-
mata administratif.
Di tengah persoalan karhutla, masyarakat diajak berdoa dan bersalawat bersama. Kehadiran
penyanyi Haddad Alwi dalam momen tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk
sejenak mendapatkan ketenangan di tengah situasi yang tidak mudah.
Tetapi tentu saja, pendekatan spiritual hanyalah salah satu sisi. Karhutla harus tetap ditempatkan sebagai persoalan serius yang membutuhkan penanganan clear and clean.
Persoalannya bukan sekadar siapa yang memadamkan api.
Lebih jauh harus ditelusuri: siapa pemilik lahannya, bagaimana status lahannya, mengapa lahan dibiarkan, bagaimana tata kelolanya, dan bagaimana mencegah persoalan serupa
berulang setiap musim kemarau.
Dengan demikian, karhutla tidak boleh hanya dilihat sebagai bencana musiman.
Ia harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola lahan dan lingkungan.
Di sinilah kepemimpinan Lisa Halaby akan terus diuji: bukan hanya mampu merespons api
ketika muncul, tetapi juga mampu mendorong penyelesaian persoalan dari hulunya.
Pelayanan Bahkan Sampai ke Tempat Peristirahatan Terakhir
Satu hal lain yang sering luput dari perhatian adalah kebijakan yang menyentuh pelayanan
pemakaman.
Pemberian dukungan kepada penjaga dan penggali tempat pemakaman bukanlah kebijakan yang selalu mendapatkan sorotan.
Tetapi justru dari kebijakan seperti ini kita dapat melihat bagaimana pemerintah
memperhatikan sektor pelayanan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pelayanan publik bukan hanya ketika seseorang mengurus KTP, izin usaha atau fasilitas
kesehatan.
Bahkan ketika seseorang meninggal dunia dan keluarga membutuhkan pelayanan pemakaman yang layak, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab menghadirkan pelayanan yang tertib
dan manusiawi.
Program dukungan bagi penjaga dan penggali tempat pemakaman umum menjadi bagian dari upaya memastikan pelayanan tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Ini memperlihatkan bahwa pemerintahan yang baik seharusnya hadir dalam seluruh siklus kehidupan masyarakat.
Dari pendidikan anak, kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, pembangunan jalan,
hingga pelayanan ketika warga menghadapi kedukaan.
Lisa Halaby dan Modal Menuju Banjarbaru EMAS
Karena itu, ketika Lisa Halaby menerima Antasari Award 2026 sebagai “Wali Kota
Perempuan Inspiratif”, penghargaan tersebut dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.
Bukan sekadar penghargaan pribadi. Tetapi sebagai pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan yang berusaha membawa
pemerintah daerah bekerja melalui berbagai sektor.
Prestasi Banjarbaru selama satu tahun terakhir memang belum berarti seluruh persoalan kota telah selesai.
Masih ada kemacetan yang harus diurai. Masih ada karhutla yang harus ditangani dari akarnya. Masih ada persoalan tata ruang, lingkungan, kemiskinan, pelayanan publik dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Namun, sebuah pemerintahan memang tidak dapat mengubah kota hanya dalam satu malam. Yang lebih penting adalah memastikan arah perjalanan benar.
Dan dari berbagai capaian yang telah diraih, arah itu mulai terlihat. Banjarbaru ingin tetap menjadi kota pendidikan dan pemerintahan, tetapi sekaligus
tumbuh menjadi kota yang semakin terkoneksi, sehat, inklusif, produktif dan berdaya
saing.
Itulah modal penting menuju Banjarbaru EMAS.
Sebab Banjarbaru EMAS tidak boleh hanya menjadi slogan.
Ia harus menjadi kota yang benar-benar dirasakan warganya. Kota yang infrastrukturnya semakin baik.
Pendidikannya semakin maju.
Pelayanannya semakin mudah.
Kesehatannya semakin terjamin. Perempuannya semakin berdaya.
Lingkungannya semakin terjaga. Dan masyarakatnya semakin merasa bahwa pemerintah bukan sesuatu yang jauh di balik
gedung kantor, tetapi bagian dari kehidupan mereka.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang wali kota tidak hanya diukur dari berapa banyak
penghargaan yang diterima.
Penghargaan bisa menjadi bukti kinerja.
Tetapi rasa percaya masyarakat adalah legitimasi yang jauh lebih besar. Jika satu tahun pertama kepemimpinan Lisa Halaby telah menghadirkan sederet capaian, maka pekerjaan berikutnya adalah menjaga konsistensi, memperbesar manfaat dan
memastikan setiap prestasi benar-benar diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat.
Karena Banjarbaru tidak membutuhkan sekadar pemerintahan yang memperoleh banyak
penghargaan.
Banjarbaru membutuhkan pemerintahan yang bekerja, hadir, mendengar dan bergerak
bersama rakyat.
Dan jika itu terus dijaga, maka perjalanan menuju Banjarbaru EMAS bukanlah sekadar
mimpi. Ia adalah sebuah ikhtiar yang sedang dikerjakan, langkah demi langkah, di bawah kepemimpinan Lisa Halaby dan Wartono.












