Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Hukum & Peristiwa

TNI AL Temukan Life Jacket pada Pencarian Jurnalis yang Hilang

×

TNI AL Temukan Life Jacket pada Pencarian Jurnalis yang Hilang

Sebarkan artikel ini
IMG 20260910 WA0059
Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani memberikan keterangan terkait temuan rompi pelampung dalam operasi pencarian jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda, Pandeglang, Banten, Kamis (10/9/2026). (Antara)

PANDEGLANG, Kalimantanpost.com – Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banten bersama tim SAR gabungan menemukan life jacket atau rompi pelampung tanpa identitas di perairan barat Anyer saat operasi pencarian jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda, Pandeglang sejak Senin (7/9/2026).

Komandan Lanal (Danlanal) Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani di Pandeglang, Kamis (10/9), mengatakan dari temuan itu pihaknya belum bisa memastikan bila hal tersebut bagian dari perlengkapan keselamatan speed boat yang saat ini dalam pencarian.

Kalimantan Post

Pasalnya, pihaknya masih melakukan penyisiran intensif dan pendalaman terkait temuan sejumlah barang di perairan barat Anyer tersebut.

“Untuk temuan tim KAL Anyer saat ini masih akan dilaksanakan identifikasi terlebih dahulu. Jadi, untuk kejelasannya mohon dari rekan-rekan menunggu, mengingat posisinya penemuan tersebut cukup jauh dari lokasi kejadian,” katanya.

Selain temuan jaket pelampung, tim di lapangan juga mendapati barang dengan mirip tabung atau botol yang lazim digunakan nelayan setempat.

“Di lokasi yang ditemukan itu baru satu buah life jacket tanpa identitas dan satu buah botol tabung putih yang sepertinya hal itu masih umum digunakan oleh nelayan. Jadi, kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang yang berkaitan dengan korban,” katanya.

Ia menjelaskan posisi penemuan life jacket tersebut berada di sisi barat wilayah Anyer dengan jarak sekitar 7,05 nautical mile di perairan, sedangkan jarak dari titik kontak terakhir (last known position) dengan lokasi penemuan berkisar 10 hingga 12 nautical mile.

Guna menghindari spekulasi dan informasi yang keliru di ruang publik, seluruh temuan di lapangan akan dikumpulkan terlebih dahulu di posko utama untuk melalui tahap identifikasi komprehensif.

“Kepastiannya kita akan kumpulkan seluruh temuan dari rekan-rekan di lapangan di posko untuk identifikasi terlebih dahulu, sebelum kita merilis apakah itu benar temuan berkaitan barang milik korban atau bukan. Jadi, kita tidak akan membuat statement yang memicu keraguan atau spekulasi yang bersifat liar,” ujarnya.

Untuk pencocokan barang bukti yang ditemukan, Lanal Banten juga berencana melakukan konfirmasi dan membandingkan karakteristik barang temuan tersebut dengan pihak penyewa kapal guna memastikan kepemilikan aslinya.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan hasil operasi pencarian melalui udara terhadap jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kamis, belum menghasilkan temuan.

Baca Juga :  Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Diperiksa Kejagung dengan 50 pertanyaan

“Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat. Tapi hasil operasi hari ini tentunya dari laporan enam sektor yang ada di lapangan dan itu nanti akan dilaporkan ke posko gabungan,” katanya.

Berdasarkan pantauan langsung dari udara dengan menggunakan sarana penerbangan, pihak Basarnas mengaku belum melihat secara langsung tanda-tanda keberadaan korban di daratan pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.

Namun demikian, tim SAR akan terus melanjutkan pencarian secara intensif selama tujuh hari ke depan sesuai standar pedoman internasional (IAMSAR Guidelines).

“Kami memastikan bahwa proses pencarian di lapangan masih terus berjalan dan belum dihentikan. Operasi ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang ketat dengan instansi terkait, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” katanya.

Dia menjelaskan pola operasi SAR bergantung pada pemutakhiran data ilmiah dari PVMBG dan BMKG. Tim di lapangan juga dihadapkan pada tantangan cuaca, termasuk jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap yang bersumber dari kebakaran maupun aktivitas vulkanik di bawah ketinggian 1.500 meter.

Meski abu vulkanik tingkat tinggi dilaporkan telah bergerak ke arah Samudra Hindia di atas ketinggian 50.000 kaki, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama sebelum tim darat diturunkan langsung ke pulau sasaran.

“Sesuai standar, pada hari ketujuh nanti kita akan melaksanakan rapat evaluasi yang melibatkan semuanya, baik itu PVMBG, teman-teman BMKG, hingga tim medis untuk membahas kelanjutan operasi ini,” katanya. (Ant/KPO-3)

Iklan
Iklan