Festival Kesenian Kalsel Ditutup Cerita Waria Terasing

Martapura, KP – Marni nama samaran yang merupakan seorang waria meninggal dunia tanpa diterima oleh keluarganya, setelah meninggal dunia di rumah sakit karena sakit HIV yang dideritanya.

Akibatnya, jasad Marni dikuburkan oleh pihak rumah sakit tanpa didampingi keluarga.

Dalam kematiannya, Marni menjadi jiwa yang terasing. Tak ada orang atau keluarga yang mendoakannya.
Begitu pula, tak ada taburan bunga di atas pusaranya.

Dari itulah pesan moral yang disampaikan Babam, pemain teater dari Yogyakarta yang tampil pada penutupan South Borneo Art Festival (Festival Kesenian Kalsel) resmi ditutup, Senin (19/11) malam di teater mini Taman Kiram, Kecamatan Karang Intan.

Menurut pemain teater Kolektif Sudah Bekas Sakit Lagi ini, dulu ia memang mempunyai kenalan seorang waria yang meninggal tanpa diurus oleh keluarga.

Atas pengalaman itu, ia mengaku ingin menyampaikan pesan moral kemanusiaan.

“Saya ingin menitipkan pesan bahwa jangan biarkan seseorang meninggal dalam keterasingan,’’ ujarnya seraya mengaku materi yang dibawakan ini sudah sering ditampilkan sejak 2016 sehingga tidak perlu persiapan.

Pada pertunjukan itu, Babam tidak tampil sendiri. Ia dibantu empat orang pemain lokal.

“Pemain yang bantu saya dipilih dari sini, dari hasil workshop sudah yang saya gelar. Ada beberapa perlengkapan yang saya bawa dari Jogja dan sebagian lagi saya beli dari sini,’’ ujarnya.

Penampilan Babam yang berperan sebagai Marni si waria itu membuat penonton yang hadir kagum. Sebab, Babam memainkan peran sangat total.

Ketika ada adegan jatuh ia menjatuhkan diri ke lantai tanpa pelindung.

Berita Lainnya
1 dari 876
Loading...

“Saya tidak tau juga kenapa ditaruh di penutupan,’’ bebernya.

Sebelum penampilan Babam, Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor yang menutup kegiatan secara resmi juga sempat memainkan pertunjukan seni.

Ia membacakan puisi mengutip dari Surah Alkahfi.

Dikatakan gubernur, festival kesenian ini merupakan bentuk dari upaya Provinsi Kalsel untuk menasionalisasi bahkan dunia.

Sebab, katanya, selain diikuti oleh pelaku seni berbagai daerah di Indonesia, juga dihadiri perwakilan 13 negara.

“Ini untuk mengangkat berbagai budaya tradisional, bahwa seniman lokal tidak kalah dan mampu go internasional.
Kalsel mempunyai daya tarik yang luar biasa dalam dunia teater,’’ ujar Paman Birin, sapaan akrab Gubernur Kalsel itu.

Paman Burin menyebut, festival seni ini sebagai langkah awal membangkitkan kesenian daerah dan Indonesia.

Ke depan, ujarnya, akan dilaksanakan kembali kegiatan serupa.

“Kesenian itu sebagai upaya untuk melawan arus globalisasi, terutama anak-anak muda kita,’’ bebernya.

Sementara Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Akhmad Subakti menambahkan, festival kesenian ini sengaja dilaksanakan di Kiram.

Sebab, lanjutnya, sesuai dengan tema mendekatkan kesenian dengan alam.

“Kami berharap dari kegiatan ini akan menjadi cerita menarik bagi yang datang, terutama mereka yang dari luar negeri. Semoga dengar cerita itu mereka akan kembali lagi ke sini membawa teman dan keluarga,’’ harapnya.(mns/K-2)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya