Kadishut Kalsel ‘Tantang’ Para Pakar Kehutanan

Banjarbaru, KP –  Gerakan revolusi hijau (revjo), yang digagas Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor melalui Dinas Kehutanan (Dishut) Kalsel sudah berjalan di tahun ketiga sejak diluncurkan pada 2017 silam. 

Melalui revjo lahan kritis di Kalsel yang sebelumnya 640 ribu hektare posisi saat ini tersisa 511 ribu hektare. Luasan tersebut belum termasuk capaian penananam di tahun 2019.

Menurut Kepala Dishut Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, penyelesaian lahan kritis di Kalsel perlu kerjasama semua pihak. 

Dikataka, jika hanya mengandalkan kerja pemprov maka diperlukan kerjama maksimal.

Atas dasar itu, Hanif menantang para pakar kehutanan untuk sama-sama memberikan ide dan masukan dalam rangka membangun hutan lestari. 

Hal ini ia sampaikan pada peserta Seminar Nasional Kehutanan 2019, Senin (28/10), di salah satu hotel di Banjarbaru.

“Kami sadari saat ini revolusi hijau ini masih membangun semangatnya, tapi manajemen improve-nya perlu masukan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM)  dan para pakar lainnya.

Kami meminta para pakar yang ada untuk merumuskan dan membuat rekomendasi – rekomendasi yang bisa kami implementasikan,” kata Hanif.

Hanif menyambut baik setiap masukan dan sumbangsih para pakar untuk membangun kehutanan.

“Target tanam tahun ini seluas 32 ribu hektare, melalui kick off kemarin ditanam 20 ribu hektare. Masih ada PR yang harus dikerjakan hingga akhir tahun,” ucapnya.

Berita Lainnya
1 dari 890
Loading...

Sementara, Ketua Panitia Seminar Nasional, Dr Zainal Abidin, yang juga wakil dekan 3 Fakultas Kehutanan ULM, menjelaskan seminar ini bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan lagi keberhasilan gerakan revolusi hijau yang digagas pemerintah Kalimantan Selatan dalam rangka untuk pengelolaan hutan lestari menuju revolusi industri 4.0.

“Harapannya melalui forum ini ada masukan masukan konkrit dalam rangka perbaikan revolusi hijau.

Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dan memerlukan masukan yang lebih dalam dari semua pihak.

Baik dari akademisi dan berbagai pihak yang perduli dengan lingkungan,” katanya.

Pada Seminar Nasional Kehutanan 2019 dihadiri 103 peserta seminar, mulai dari kalangan akademisi dari Fakultas Kehutanan ULM, Fakultas MIPA ULM, Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, peneliti dan perwakilan dari BPHKH, BPSKL Wilayah Kalimantan, KPH di lingkungan Kalsel, mahasiswa, pemerhati lingkungan, dan pihak swasta.

Seminar Nasional ini dibuka Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ULM yaitu Dr Muhammad Fauzi.

Menurur Fauzi, seminar nasional tersebut cukup penting. 

Hasil penelitian para dosen harus diseminarkan, sehingga diketahui masyarakat. 

“Melalui seminar ini juga bisa terjadi interaksi antardosen atau antarpeneliti,  sehingga hasil penelitian lebih bermanfaat lagi. 

Kemudian, hasil penelitian juga nantinya bisa mengangkat nilai universitas itu sendiri,” kata Fauzi. (mns/K-2)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya