Bangun Masyarakat Berkarakter Anang Dianugerahi Kebudayaan PWI Pusat

Tanjung, KP – Untuk yang kedua kalinya menerima anugerah dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yaitu pena Emas, di Hari Pers Nasional (HPN sebelumnya, kali ini Bupati Tabalong Drs H Anang Syakhfiani M.Si, kembali menerima anugerah kebudayaan dari insan pers, lantaran dinilai berhasil membawa daerah yang ia pimpin miliki karakter tersendiri.

Dewan Juri juga Ketua Umum PWI Pusat, sekaligus Penanggungjawab HPN 2020 Atal S Depari, menjelaskan nominator yang terpilih dalan anugerah kebudayaan PWI Pusat karena dinila berhasil membangun daerahnya dengan pendekatan kebudayaan lokal, “Para Bupati/Walikota yang mendapat penghargaan ini, dalam membangun daerahnya menggunakan pendekatan kebudayaan lokal dalam perspektif nasional dan global. Sehingga daerah-daerah tersebut tampil dengan karakternya masing-masing,” ujar belum lama tadi.

“Meskipun kesepuluh bupati/walikota sama-sama menempuh jalan kebudayaan dalam membangun kebudayaan dan memodernisasi daerahnya, namun masing-masing dengan program, inovasi dan cara eksekusi, yang berbeda-beda. Sesuai dengan warisan alam, warisan budaya, kultur masyarakat SDM, anggaran, infra struktur, even, keterampilan memanfaatkan media massa atau sosial yang berbeda-beda, sesuai dengan warisan alam, warisan budaya, kultur masyarakat, sumber daya manusia, dan lain-lain. Dari sanalah keberagaman terjadi, menarik, dan unik-unik,” tambah Panitia pelaksana Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono.

Bupati Tabalong, Anang Syakhfiani menerima penghargaan Anugrah Kebudayaan PWI Pusat pada Puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2020, di Halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Banjarbaru, Sabtu (8/2).

“Penghargaan ini kami raih atas kerjasama dan kerja keras terlebih ikhtiar semua pihak di Tabalong dalam menjaga kearifan budaya lokal daerah,” kata bupati Anang.

Selain Anang Syakhfiani, terdapat sembilan kepala daerah lainnya yang juga di menerima penghargaan serupa yakni, Walikota Tanggerang Selatan, Walikota Banjarmasin, Walikota Ambon, Walikota Baubau, Bupati Tubaba, Bupati Halmahera Barat, Bupati Serdang Bedagai, Bupati Luwu Utara dan Bupati Gunung Kidul.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK RI) Muhadjir Effendi Presiden dan disaksikan Presiden RI Joko Widodo.

Berita Lainnya
1 dari 1.123
Loading...

Muhadjir Effendi memberikan apresiasinya kepada kepala daerah yang menerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat.

Dirinya mengatakan, pembangunan kebudayaan merupakan cermin kepribadian bangsa yang mana setiap daerah di Indonesia memiliki budaya masing-masing. Namun meski berbeda, semua budaya dapat disatukan dengan berlandaskan nilai Pancasila. “Kuncinya adalah toleransi, dengan toleransi maka kita akan melahirkan rasa saling menghormati dan menghargai,” demikian ujar Menko PMK RI ini.

Nominator tersebut dipilih oleh dewan Juri yang terdiri dari Nungki Kusumastuti (Ketua), Ninok Leksono, Agus Dermawan T, Atal S. Depari dan Yusuf Susilo Hartono. Melalui babak proposal dan presentasi langsung, selama Desember 2019 dan awal Januari 2020 yang lalu. Dewan Juri memilih 10 dari 30 bupati/walikota mewakili tiga zona. Pertama, daerah/kota yang berada di dalam, dekat Ibu Kota Negara RI. Kedua, daerah/kota yang berada di dalam atau dekat dekat ibu kota provinsi. Ketiga, daerah/kota yang jauh dari ibu kota provinsi.

Sementara itu, Bupati Tabalong Drs H Anang Syakhfiani M.Si, menjelaskan terkait dialog kebudayaan ia mengaku sudah mempelajari tema dari dialog kebudayaan ini, “10 orang kepala daerah yang menyampaikan paparan beberapa waktu yang lalu di Jakarta yang pada intinya adalah, pertama budaya menunjukkan tingkat peradaban, makin berkembang budaya di suatu daerah, bisa dipastikan tingkat peradaban masyarakat disana juga berkembang, oleh karena itu, kita tidak pernah berfikir untuk mendapatkan penghargaan, ketika kita telah berfikir untuk mengembangkan budaya di Tabalong,” ujarnya.

“Ada beberapa poin yang menjadi pertimbangan tim juri, mengapa kita termasuk salah satu yang menerima anugerah kebudayan ini, pertama kita betul-betul memulai hal yang baru, misal kita mencanangkan kampung budaya di Upau, khusus untuk Dayak Deyah, Kampung Budaya di Warukin untuk Dayak Manyan, kemudian kita juga memfaslitasi berbagai kegiatan budaya di daerah, termasuk kita membangun panggung di Expo Center, dengan berkolaborasi dengan berbagai lembaga budaya, misal dengan Pusaka Tabalong, yang telah melaksanakan keenam kalinya Tabalong Etnik Festifal (TEF), kemudian yang dilakukan Pemkab Tabalong di Harjad menampilkan hal yang baru, tahun pertama menampilkan Tari Memuai Wanyi, tahun kedua tari Manaik Langsat dan sebagainya, itu dari segi pengembangan,” ujar Anang.

Adapun yang Kedua tahun 2016, lanjut Anang dengan memunculkan batik Tabalong,  karena motif dari batik Tabalong, ada langsat Tanjung, sarang wanyi yang merupakan kearifan lokal, kemudian ada Talabang Dayak, sasirangan dan ini diakui oleh tim juri sebagai suatu terobosan untuk menunjukan identitas, jika pertama dan kedua ini kita kaitkan dengan keberadaan Kerajaan Nam Sarunai yang terpusat antara HSU dan Tabalong sebelum Masehi. Ini ada nilai dasar ternyata kerajaan nam Sarunai ini adalah kerajaan terbesar di Kalimantan saat itu dan ternyata rutinitas warga Tabalong itu sudah sejak kerajaan Nam Sarunai. “Juga kenapa semua suku bangsa disana bisa berkembang dengan baik? rukun dan harmonis, Kerajaan Nam Sarunai itu menghargai segala perbedaan ini, maka prinsif dasar inilah yang hingga sekarang berkembang dengan baik di Tabalong.

Untuk itulah memajukan tabalong kedepan nilai dasar ini tetap kita pelihara, siapapun, suku apapun, agama apapun yang menetap di Tabalong itu merasa nyaman menjadi orang Tabalong. Inilah yang menjadikan kita mendapatkan anugerah kebudayaan ini,” ungkapnya.

“Saya juga mengucapkan terimakasih, karena saya melakukan ini dengan kiat Humas karena kita hidup di daerah paling ujung, jika kita tidak melakukan dengan kiat kehumasan orang tidak akan mengenal kita,” jelas Anang.

Adapun faktor ketiga, lanjut Anang, berkembangnya faktor budaya di Tabalong tidak terlepas dari peran media, oleh karena itu Pemkab Tabalong membantu sesuai kemampuan, dengan membangunkan Balai Wartawan. Selain itu Pemkab juga memediasi beberapa perusahaan untuk berperan meningkatkan wawasan pewarta di Tabalong,” demikian pungkas bupati dua priode ini. (ros/K-6)
 
 

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya