Moderasi Islam Menguatkan Sekularisasi

Oleh : Adzkia Mufidah, S.Pd
Pengajar

Upaya moderasi Islam harus terus dilakukan. Setidaknya itu salah satu point yang dibahas pada Muktamar Tafsir Nasional 2020 yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Alqur’an dan Tafsir Universitas Nurul Jadid (Unuja) Probolinggo. Muktamar tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi. Diantaranya, ratusan pesertanya sepakat untuk mempromosikan moderasi Islam atau Islam moderat.

Selain itu, Prof Dr Abdul Mustaqim, saat menjadi pembicara dalam muktamar tersebut, menawarkan sebuah metodologi untuk memahami dan menafsirkan Alquran dan hadits secara moderat, yaitu Tafsir Maqashidi. Dia mengatakan, penafsiran terhadap Alquran dan hadits yang mengedepankan moderasi sangat penting dilakukan. Dia menilai tafsir Alquran yang moderat dapat mencegah menyebarnya ajaran radikalisme di Indonesia. Republika.co.id. (13/01/2020).

Fakta di atas menunjukan betapa kuatnya arusmoderasi Islam di negeri ini. Setelah berupaya mereduksi ajaran Islam jihad dan khilafah, dengan menghapusnya dari pelajaran Fiqh dan memindahkannya menjadi hanya pelajaran sejarah, para pegiat moderasi Islam sekarang juga berupaya menciptakan tafsir moderat pada Alqur’an dan hadits.

Lagi-lagi, alas an klise dari menguatnya arus moderasi tersebut yaitu menyebarnya radikalisme. Untuk mencegah hal itu dan memuluskan agenda moderasi yakni menghasilkan hukum-hukum dan pemikiran-pemikiran yang moderat, tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan membuat metodologi penafsiran baru terhadap Alqur’an dan hadits. Yaitu metodologi Tafsir Maqashidi. Metodologi tafsir untuk memahami dan menafsirkan Alquran dan hadist secara moderat.

Jika dicermati, tafsir maqasidi menjadikan moderasi Islam sebagai dasar penafsiran Alqur’an dan hadits, bukan akidah Islam. Sesuatu yang mereka sebut sebagai maqashid syar’iyah ini. Oleh para pengusungnya ditetapkan berdasarkan bacaan akal mereka yang telah tercekoki virus liberalisme. Maka yang muncul adalah kesimpulan bahwa intisari ajaran Islam adalah mewujudkan keadilan, kesetaraan, persamaan, kebebasan dan yang sejenisnya. Bukankah ini sangat kontekstual?

Menurut mereka, tujuan-tujuan yang kontekstual tersebut yang harus diperhatikan saat memutuskan perkara hukum, bukan fokus pada teksnya. Dari sini dapat dilihat betapa dengan metodologi tafsir seperti ini, akal manusia juga kepentingan-kepentingannya ikut mewarnai penafsiran Alquran dan hadits. Bukan hanya itu, jika ada teks (Alquran atau hadits) yang bertentangan dengan prinsip tadi maka teks itu akan ditinggalkan.

Maka boleh jadi nanti hasilnya hukum Islam yang jelas-jelas wajib dilaksanakan seperti mengangkat pemimpin muslim (larangan mengangkat pemimpin yang kafir), jihad, hijab, keharaman wanita muslimah menikah dengan orang kafir dan lain-lain menjadi tidak wajib atau malah ditolak, karena pertimbangan moderasi.

Hal ini jelas berbahaya. Sebab akan menyesatkan ummat dan menjauhkan mereka dari pemahaman yang benar tentang Alquran, hadits dan Islam itu sendiri.

Tidak itu saja, kelak hal ini akan berdampak diterapkannya Islam hanya pada urusan kehidupan akhirat saja. Dengan kata lain sebagian hukum yang berkaitan langsung dengan agama saja yang mereka ambil. Misalnya hukum yang berkaitan dengan shalat, puasa, zakat, haji, nikah dan mengurus jenazah. Sedangkan hukum Islam yang mengatur kehidupan dunia, seperti hukum Islam yang berkaitan dengan politik, ekonomi dan pemerintahan, ditetapkan berdasarkan kesepakatan manusia. Tanpa memperhatikan lagi apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak.

Upaya moderasi Islam dengan membuat tafsir moderat sejatinya merupakan bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam. Jika hal ini dibiarkan, akan semakin menguatkan proses sekularisasi di tengah-tengah umat. Hal ini akan berdampak pada polarisasi umat Islam dalam berbagai faksi pemikiran juga keyakinan dan menjadikan umat terpecah belah. Tentu saja itu akan berujung pada makin jauhnya umat Islam dari kebangkitan dan penerapan Islam secara kaffah. Jelas akan melanggengkan kekufuran.

Meski penafsiran moderat sangat berbahaya bagi umat, nyatanya hal ini tumbuh subur di negara yang menerapkan sistem kapitalis yang sekuler ini. Hal ini karena adanya kepentingan politik dan ketakutan akan bangkitnya Islam kaffah.

Dari itu, sudah selayaknya kaum muslimin waspada. Karena sejatinya, moderasi Islam adalah bagian dari upaya musuh-musuh Islam untuk menghadang penegakan syariah dan Khilafah. Musuh-musuh Islam sangat menyadari bahwa tegaknya kembali Khilafah di tengah-tengah kaum muslimin akan mengancam dominasi mereka. Karenanya mereka berupaya keras untuk menjauhkan umat Islam dari aturan dan sistem Islam dengan menerapkan system kufur yakni demokrasi kapitalis.

Sayangnya, sebagian kaum muslimin tidak menyadari hal ini. Bahwa sistem yang diterapkan hari ini jelas-jelas telah membawa umat Islam pada keterjajahan, kehinaan dan kehancuran. Sistem ini pula telah menjauhkan kaum muslimin dari karakternya sebagai sebaik-baik umat (khairuummah) dan sebagai pionir peradaban.

Maka, wahai kaum muslimin. Belum terlambat. Mari membendung segala upaya moderasi Islam dan sekularisasi. Mencabut pemikiran itu hingga akarnya serta membuangnya jauh-jauh.

Bukankah Allah SWT telah memerintahkan untuk mengamalkan Islam secara kaffah, sebagaimana firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 208). Wallahua’lam.

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...