Hari Perempuan Internasional : Mampukah Memuliakan Perempuan?

Oleh : Muhandisa Al-Mustanir
Mahasiswi Kampus Swasta Banjarmasin

Dunia memperingati Hari Perempuan Internasional pada Minggu (8/3/2020). Kali ini PBB mengangkattema “Saya Generasi Kesetaraan: Menyadari Hak Perempuan”. Kampanye ini disinyalir adalah ajakan untuk generasi agar bisa membawa kesetaraan bersama orang dari setiap gender, usia, etnis, ras, agama dan negara. Dan kemudian mendorong mereka untuk melakukan aksi yang akan menciptakan kesetaraan gender dunia yang kepada semua yang mereka anggap layak mendapatkannya.

Tujuan kampanye tersebut untuk memobilisasi mengakhiri kekerasan berbasis gender, keadilan ekonomi dan hak untuk semuanya, otonomi tubuh, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, serta tindakan feminis untuk keadilan iklim. Selain itu, menginginkan teknologi dan inovasi untuk kesetaraan gender dan kepemimpinan feminis. Ada beberapa hal yang disoroti pada aksi di Hari Perempuan Internasional ini, yaitu terkait pelayanan kesehatan pada perempuan, peran perempuan di industri kerja dan juga terkait kekerasan serta pelecehan pada kaum perempuan dan juga anak.

Seperti yang dilansir pada Liputan6.com, Jakarta (08/03/2020) Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti masih sulitnya akses pelayanan kesehatan mendasar bagi perempuan di dunia menjelang Hari Perempuan Internasional. Tedros ingin menggunakan momen Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada Minggu, 8 Maret 2020 untuk mengingatkan bahwa di seluruh dunia, banyak wanita tidak dapat mengakses layanan kesehatan mendasar dan terus menderita dari penyakit yang seharusnya dapat dicegah dan diobati.

Pada portal berita ini juga disebutkan bahwa secara global, 70 persen tenaga kesehatan adalah perempuan tetapi hanya 25 persen di antara mereka mampu berperan hingga level manajemen. Oleh sebab itu WHO berkomitmen untuk mempromosikan kesetaraan gender terutama bagi tenaga kesehatan. Yang bisa kita simpulkan mereka menganggap bahwa tenaga kerja perempuan masih mendapatkan perlakuan yang belum menyamai tenaga kerja laki-laki, untuk itulah isu kesetaraan ini menjadi wadah mereka untuk menyampaikan hal tersebut.

Selain itu, hal yang tiap tahun selalu menjadi isu hangat yang tak pernah terlewat untuk dibahas di Hari Perempuan Internasional adalah terkait dengan kekerasan pada perempuan dan anak yang tiap tahun kian meningkat. Dilansir dari Jakarta, KOMPAS.com. Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mencatat kenaikan sebesar 300 persen dalam kasus kekerasan terhadap perempuan lewat dunia siber yang dilaporkan melalui Komnas Perempuan. Kenaikan tersebut cukup signifikan dari semula 97 kasus pada 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019.

Selain kekerasan pada perempuan dewasa, kekerasan kepada anak-anak pun mencapai peningkatan yang cukup memprihatinkan. Seperti yang dilansir pada Tempo.co, Jakarta (06/03/2020). Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat terjadi kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP). Sepanjang 2019, Komnas mencatat terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus.

Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin mengatakan kasus kekerasan terhadap anak perempuan yang paling banyak terjadi adalah inses, yakni sebanyak 770. Menyusul kasus kekerasan seksual sebanyak 571 kasus dan kekerasan fisik sebanyak 536 kasus.

Tentu kenaikan presentase pada kasus-kasus seperti ini adalah mimpi buruk bagi bangsa manapun dan sangat menyayat hati kita semua, oleh karena itulah berbagai gerakan seperti adanya Hari Perempuan Intenasional ini mengambil tempat di masyarakat untuk kemudian dijadikan sebagai tempat menaruh keprihatinan serta perjuangan untuk memuluskan hak-hak perempuan.

Tapi kemudian yang menjadi pertanyaan, sejak dimulainya peringatan Hari Perempuan ini atau kalau kita mau tarik lebih jauh, sejak dimulainya pergerakan yang menunjang terkait kesetaraan gender dan sebagainya, ternyata hal ini justru tidak memberikan dampak yang signifikan, malah membuat presentase terkait kekerasan dan pelecehan pada perempuan dan juga anak terus naik tiap tahunnya, kenapa hal ini bisa terjadi?

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Jawabannya bisa dibilang terlalu kompleks untuk sekedar di jabarkan ditulisan ini, tapi bisa dibilang adanya peringatan dan juga perjuangan hak perempuan atas dasar kesetaraan itulah menjadi salah satu penyebabnya, meski hal ini terdengar kontradiktif namun begitulah kenyataannya.

Kenapa bisa begitu? Mari kita lihat lagi terkait tujuan dari kampanye Hari Perempuan Internasional ini, yaitu mendorong kaum perempuan untuk bisa setara dengan laki-laki dalam berbagai hal, terutama dalam hal industri pekerjaan. Perempuan diharapkan bisa bekerja layaknya laki-laki dan memungkinkannya mendominasi dunia kerja dengan berbagai dalih ekonomi dan pandangan sosial terkait perempuan karir yang di pandang lebih terhormat. Yang mana akhirnya, secara tidak langsung membuat kaum perempuan mau tidak mau keluar dari peran sebenarnya untuk keluarga.

Ketiadaan sosok perempuan dalam keluarga inilah yang kemudian memicu banyak permasalahan, mulai dari tidak terjaganya tontonan anak, pergaulannya dan kurangnya kasih sayang. Membuat generasi kita pada hari ini kehilangan itu semua dan menjadikannya generasi yang bebas mengakses segalanya dan menghalalkan segalanya. Yang kemudian lahirlah para perusak moral, pecandu narkoba, pelaku seks bebas, LGBT, dll. Itulah kenapa kemudian kasus kekerasan pada orang dewasa maupun anak-anak tidak pernah ada habisnya.

Belum lagi tiadanya peran negara, yang dalam artian bahwa negara berserta perangkat hukumnya sama sekali lepas tangan akan masalah ini, terbukti dari mudahnya masyarakat dalam mengakses berbagai situs porno di internet maupun di berbagai media lainnya, yang artinya negara tidak melakukan penjagaan ketat terkiat masalah ini, padahal kita semua tahu bahwa virus pornografi dan pornoaksi adalah wabah yang mematikan mental generasi dan sayangnya hal itu masih menjadi PR besar bagi negara ini yang tidak kunjung juga punya penyelesaian.

Pun juga terkait buruknya jaminan-jaminan kesehatan, pendidikan dan sebagainya terhadap kaum perempuan, hal ini juga tidak lain adalah buah hasil dari sistem kapitalistik yang masih mengakar di pemerintahan kita, yang mana asas keuntungan tidak akan pernah bisa berpihak pada pemerataan jaminan kesejahteraan untuk seluruh lapisan masyarakatnya. Dan asas liberalisme yang menjadi ruh dalam sistem kapitalis jualah yang ikut menyuburkan segala kerusakan moral generasi dewasa ini.

Dalam hal ini kita bisa melihat, bahwa adanya Gerakan kesetaraan maupun peringatan akan Hari Perempuan Internasional ini sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan perempuan yang ada, namun sebaliknya malah menambah konflik, dan permasalahan disharmoni dalam keluarga dan masyarakat.

Di dalam Islam, fitrah perempuan itu adalah Ummu wa Rabbatul Bait, sebagai sosok ibu, sosok yang sangat penting eksistensinya dalam keluarga. Yang mana di dalam Islam, perempuan tidak punya kewajiban untuk mencari nafkah, tapi perempuan punya tanggungjawab mulia untuk mendidik dan mengasuh para penerus generasi dengan sebaik-baiknya. Itulah kenapa di dalam Islam bisa lahir pemimpin-pemimpin dan para ulama besar layaknya Umar bin Abdulaziz, Muhammad Al-Fatih, Imam Syafi’i, dll. Di balik luar biasanya sosok-sosok beliau itu, ada sesosok perempuan yang menempa dan mendidiknya dengan kehati-hatian dan kesabaran.

Di dalam Islam juga perempuan sangat terjaga hal ini terbukti dari adanya perintah untuk berhijab dan menjaga aurat, menjaga pergaulan dari laki-laki yang bukan mahram, menumbuhkan rasa malu, dan lain-lain membuat para Muslimah benar-benar tampak kemuliaannya luar dalam dan sangat terjaga.

Selain itu juga di dalam negara Islam, kehormatan perempuan itu sangat di junjung tinggi, hal ini terbukti dari sejarah Rasulullah semasa menjadi pemimpin daulah Islam yang mana memerangi kaum kafir dikarenakan melecehkan seorang Muslimah, hal yang sama juga dilakukan oleh khalifah Mu’tasim Billah yang mengirimkan beribu pasukan untuk menyerang kaum kafir dikarenakan menyingkap jilbab seorang Muslimah. Bandingkan dengan hari ini dimana negara tidak pernah memberikan hukuman yang setimpal atas segala kasus pelecehan dan kekerasan pada perempuan, menyebabkan kasus-kasus seperti ini bak disiram agar tumbuh subur.

Padahal jika kita mau belajar tentang bagaimana Islam memandang sosok perempuan dan segala permasalahannya, kita akan menemukan solusi sempurna dan paripurna untuk segala permasalahan tersebut tanpa menimbulkan masalah maupun konflik-konflik lainnya seperti yang terjadi sekarang ini dengan Gerakan Kesetaraan Gender. Wallahua’lam bishawab

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya