Selamat Tinggal UN

215

Oleh : H. Adiat Gazali Rahman
Kepala SMAN 1 Amuntai

Ujian Nasional (UN) di sekolah sudah tidak ada lagi pada semua jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK), sejak keluarnya surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim pada Selasa (24/03/2020). Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus Corona. Surat edaran ini berisi kebijakan Mendikbud mengenai peniadaan pelaksanaan UN khusus tahun 2020, dikarenakan merebaknya virus Corona di Indonesia. Ditiadakan UN sekolah juga diwacanakan pada tahun 2021.

Wacana itu telah disampaikan pada jajaran Pendidikan di daerah, padahal semua sekolah ingin mengambil momen pelaksanaan UN tahun 2020 menjadi UN terbaik, namun rencana itu tinggal rencana, karena virus Corona, sehingga pemerintah mencari jalan pintas, hanya demi memutus mata rantai penyebaran virus. Padahal bagi peserta didik, UN seharusnya berlangsung pada akhir Maret hingga pertengahan April untuk semua jenjang pendidik terpaksa dibatalkan. Sebuah keputusan yang berani, walaupun masih bisa dianggap terburu-buru. Bukankah masih ada kesempatan menunda pelaksanaannya hingga waktu yang belum ditentukan, tetapi masih dalam tahun 2020, dengan memperpanjang tahun pelajaran 2020, menunda penerimaan siswa baru dan merubah tahun ajaran sama dengan tahun anggaran. Yang berarti tahun pelajaran 2020 akan berakir di bulan Desember sehingga ada waktu delapan bulan.

Sejarah UN di Indonesia

Sejak merdeka tahun 1945 hingga beberapa tahun kemudian, Indonesia masih berkutat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, belum banyak melakukan pembenahan terhadap pendidikan. Pembenahan baru dilakukan pada pada tahun 1950 dan UN saat itu dinamai ujian penghabisan. Hingga tahun 2020, macam-macam istilah yang digunakan oleh para penguasa lewat Menteri Pendidikan memberi nama UN sebagai berikut :

1. Tahun 1950–1965 Ujian Penghabisan. UN kala itu disebut dengan ujian penghabisan, dan materi ujian dibuat Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan;

2. Tahun 1965–1971 Ujian Negara. UN yang sebelumnya disebut ujian penghabisan berganti nama menjadi Ujian Negara, yang waktu dan materi ujiannya ditentukan pemerintah pusat.

Tujuan ujian ini untuk menentukan kelulusan, sehingga siswa dapat melanjutkan ke sekolah negeri atau perguruan tinggi negeri apabila telah lulus Ujian Negara;

3. Tahun 1972–1979 Ujian Sekolah. UN yang sebelumnya disebut Ujian Negara, menjadi Ujian Sekolah, karena sekolah yang membuat soa lnya sedangkan pemerintah pusat hanya menyusun pedoman dan panduan ujian nasional yang bersifat umum;

4. Tahun 1980–2001 EBTANAS. UN disebut dengan nama evaluasi belajar tahap akhir nasional (EBTANAS) dan EBTA (evaluasi belajar tahap akhir). EBTA sendiri mengujikan berbagai mata pelajaran non-ebtanas.

Tujuan EBTANAS adalah mengendalikan, mengevaluasi dan mengembangkan mutu pendidikan. Dalam melaksanakan EBTANAS, sekolah berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Sedangkan pada EBTA, koordinasi sekolah adalah dengan pemerintah provinsi. Kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi hasil EBTA dan EBTANAS, ditambah nilai ujian harian pada rapor. Siswa dinyatakan lulus EBTANAS, jika meraih nilai rata-rata untuk semua mata pelajaran yang diujikan minimal enam, meskipun ada nilai di bawah tiga;

5. Tahun 2002–2004 Ujian Akhir NAsional. Ujian nasional disebut dengan ujian akhir nasional (UAN) menggantikan EBTANAS;

Berita Lainnya

Ramadhan, Bulan Pertaubatan dan Ketaatan

Ramadhan Menuju Totalitas Ketakwaan

6. Tahun 2005–2012 Ujian Nasional. Ujian nasional disebut dengan ujian nasional (UN) menggantikan ujian akhir nasional (UAN) dan menjadi syarat kelulusan. Ini untuk pertama kalinya istilah ujian nasional diperkenalkan;

7. Tahun 2014-2020 Ujian Nasional Berbasis Komputer. Ujian Nasional diubah lagi menjadi Ujian nasional berbasis komputer (UNBK) kali pertama dilakukan. Pada masa ini ujian nasional tidak lagi menjadi syarat kelulusan. Ditetapkan saat itu bahwa lulus atau tidaknya seorang peserta didik, akan dinilai oleh sekolahnya. Jika sekolah menyatakan lulus, maka peserta didik tersebut akan mendapatkan sertifikat dari negara. Namun, jika seorang peserta didik dirasa kurang dalam pencapaiannya, maka bukan sekolahnya yang diulang, namun ujianya boleh diulang sesuai waktu, ujian dapat dperbaiki dengan kata “ujian perbaikan” yang ditentukan Kementerian Pendidikan. Sekolah pelaksana ujian harus menggunakan kompter.

Menfaat Ujian Nasional

Menurut M. David Miller dalam Measurement and Assessment in Teaching (2009) memaparkan sejumlah manfaat ujian nasional yaitu : a. Hasil ujian dapat digunakan oleh para pembuat kebijakan pendidikan untuk mendeteksi kelemahan yang dimiliki; b. Sebagai alat untuk melakukan perubahan dalam bidang pendidikan; c. Memberikan informasi mengenai kondisi terkini dan kemajuan peserta didik serta kualitas sekolah; d. Memberikan hasil ujian yang akuntabel guna memotivasi guru dan peserta didik untuk berusaha lebih baik.

Tujuan Ujian Nasional

Ujian Nasional bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan peserta didik pada jenjang satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah sebagai hasil dari proses pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menjadi salah satu tolak ukur pencapaian SNP dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan, meningkatkan standar pendidikan untuk menjawab kebutuhan lapangan kerja.

Mempertahankan standar pendidikan yang sudah dimiliki, memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan terkait dengan alokasi sumber daya pembelajaran untuk sistem pendidikan secara umum, karakteristik khusus dan sekolah berprestasi,memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk menetapkan akuntabilitas prestasi belajar peserta didik.gerakan modernisasi, mengubah keseimbangan pengawasan dalam sistem pendidikan,mengimbangi lemahnya praktek penilaian atau evaluasi yang dilakukan oleh para guru.

Jalan Tengah
Jika memperhatikan tujuan dan menfaat dari Ujian Nasional, sungguh sangat disanyangkan kenapa tiba-tiba UN kita harus dimembatalkan, apalagi jika berkaca pada sekolah lanjutan tingkat atas yang hampir 95 persen pelaksanaan UN telah siap, tinggal menunggu pelaksanaan, baik persyaratan prasana, hingga sumber daya manusia sudah siap semua, memang tidak dapat memprediksi kapan virus Corona hilang dari Indonesia, kapan virus bisa dtaklukan oleh para dokter, tapi dengan membatalkan UN juga akan memberikan sebuah keputusan yang akan tercatat dalam sejarah, untuk alumni tahun 2020 mereka tidak mendapat SKHU (surat Keterangan Hasil Ujian), karena memang mereka tidak mengikuti ujian. Apakah lembaga yang di luar pendidikan memahami itu, karena kebiasaan itu merupakan satu komponen yang menjadi pertimbangan dalam memasuki dunia kerja, pendidikan yang lebih tinggi.

Alangkah elok jika pemerintah lewat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hanya menunda pelaksanaan UN, dengan menambah jam pembelajaran. Jika sebelumnya hanya sampai dengan bulan Juni, diperjang sampai dengan Desember. Hal itu bukan suatu yang baru di negeri ini, karena di tahun 1978 pun pemerintah melakukan perpanjangan masa pembelajaran di sekolah selama enam bulan. Sehingga merubah kenaikan kelas, kelulusan menjadi seperti sekarang ini. Jika sebelumnya tahun ajaran dimulai pada bulan Januari dan berakhr sampai dengan Desember. Jika penundaan itu terjadi, maka mengulang sejarah dan mengembalikan pendidikan ke era sebelum tahun 1978, yang menurut penulis punya dampak positif UN tetap berlangsung cuma waktu yang bergeser, antara lain :

1. Mengulang sejarah tahun 1978;

2. Mengembalikan tahun ajaran seperti sebelum tahun 1978;

3. Semua siswa Sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas, sejak UN dimulai tahun 1950 mendapat hak yang sama;

4. Ada keselarasan antara tahun anggaran dengan tahun ajaran, sehingga diharapkan penyusunan RAKS, sejalan dengan APBD dan APBN, harapan terjadi keselarasan.

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya