Pemko Kecolongan, THM dan Pub Disulap Jadi Diskotek

Menyusul beredar video berdurasi pendek di grup whatsapp yang menayangkan meriahnya suasana diskotik pada akhir pekan lalu. 

BANJARMASIN, KP – Pengelola tempat hiburan malam (THM) telah membuat komitmen dengan Pemko Banjarmasin. Komitmen itu dibuat di atas surat perjanjian bermaterai. Isinya terkait penerapan protokol kesehatan CoVID-19 di lokasi THM.

Selain itu, dalam surat perjanjian tersebut pengelola THM juga berkomitmen untuk tetap menutup diskotek selama Banjarmasin masih berstatus zona merah. Alasanya karena di lokasi tersebut mobilitas manusia sulit diawasi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah komitmen ini betul-betul dijalankan? Menyusul beredar video berdurasi pendek di grup whatsapp yang menayangkan meriahnya suasana diskotik pada akhir pekan lalu. 

Bahkan dalam video berdurasi 42 detik dan lebih dari satu menit itu, tampak muda mudi sedang asik ajojing di ruang remang-remang, diiringi musik yang menghentak keras di bawah kerlap-kerlip lampo disko.

Diduga kuat aktifitas dunia malam dalam di salah satu video itu terjadi di Nashville Pub & Cafe, Hotel Banjarmasin Internasional (HBI) yang disulap pihak manajemen menjadi diskotek.  

Saat dikonfirmasi terkait hal itu, General Manager HBI, Eri Sudarisman membantah jika pihaknya sudah mengoperasionalkan diskotek. “Siapa yang bilang diskotek. Mana ada,” ucapnya saat di hubungi awak media melalui telepon, Senin (13/07/2020).

Meski mengakui sudah mengoperasionalkan pubnya sejak 1 Juli lalu, Eri menampik jika pihaknya sudah mengubah pub tersebut menjadi diskotek. “Bukan. Mana ada sulapan, ya nggak bisa. Formatnya pub. Kan pub sama diskotek kan beda-beda tipis,” tambah Eri.

Adapin Asisten II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi yang juga sudah mengetahui hal ini menegaskan, jika benar pengelola THM sudah melanggar perjanjian maka sesuai kesepakatan pihaknya akan memberikan sanksi penutupan.

Berita Lainnya
1 dari 1.383
Loading...

“Kalau bener, bisa kita tindak. Karena itu sudah kesepakatan rapat, kalau diskotik agar mereka menahan diri. Karena mobilitasnya dan gelap. Tidak dijamin protokol kesehatan dapat diterapkan,” ujar Doyo. 

Selain itu, Doyo juga mengaku sudah meneruskan informasi tersebut kepada Pelaksaan tugas (Plt) Satpol PP dan Damkar Banjarmasin agar segera ditindak lanjuti.

“Ya kalau demikian maka mereka tidak punya social responsibility atau tanggungjawab. Dan rawan CoVID- 19. Saya sudah teruskan ke Plt Satpol untuk ditindak lanjuti,” ketusnya.

Doyo juga mengingatkan kembali terkait adanya perjanjian. Yang apabila ke depan ditemukan pelanggaran perjanjian tersebut itu, maka Pemko bakal menjatuhkan sanksi keras dengan menutup tempat hiburan.

“Kami akan pantau melalui sidak (inspeksi mendadak). Bagi yang melanggar pernyataan, akan ditindak tegas, karena tidak konsisten dengan pernyataannya. Maka pemko memohon maaf bahwa THM yang melanggar harus ditutup,” pungkasnya.

Sebelumnya Pemko melarang diskotek untuk buka selama kota ini masih berstatus zona merah penularan CoVID-19. Alasanya sederhana, THM jenis ini sulit untuk diawasi. Doyo mengatakan, bahwa tak yang bisa menjamin diskotek bisa diawasi dan dipantau agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan CoVID-19. 

“Diskotik notabenenya adalah mobilitas pengunjung. Disana juga gelap. Secara nyata tak sanggup memantau dan menegur pengunjung. Maka kami minta agar tidak membuka kegiatan diskotik,” ucapnya.

Menurut Doyo, beda halnya dengan THM jenis pub, karaoke, ataupun cafe dan sejenisnya yang mobilitasnya masih kurang dan bisa diawasi kegiatannya. Sehingga mereka diberikan kelonggaran bersyarat.

“Saya tak ada mengatakan boleh atau tidak boleh buka. Dan yang sudah buka kami tidak memaksa untuk menutup atau tidak, tetapi kami hanya menekankan pada prinsip penegakan protokol kesehatan,” ujarnya. (sah/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya