Angka Perceraian Meninggi, Akibat Musim Pandemi?

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd

Anggota Komisi IV DPRD Kalsel yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST), Minggu (5/72020), menyampaikan tanggapan atas maraknya kasus perceraian yang terjadi di tengah pandemi Covid-19 di Kalsel, khususnya di Kabupaten HST. Ia mengatakan perceraian meningkat di tengah pandemi Covid-19 rata-rata dilatarbelakangi faktor ekonomi. Dampak pandemi Virus Corona memang tidak bisa dihindari dan sangat terasa di berbagai sektor kehidupan, terutama sektor perekonomian dan berimbas pada persoalan rumah tangga.

“Baik buruh atau karyawan ataupun pelaku usaha, semua merasakan dampaknya, bahkan menjadi faktor utama pemicu perceraian di musim pandemi ini,” katanya (https://m.bisnis.com/amp/read/20200706/54/1261909/wabah-corona-bikin-perceraian-marak-di-kalsel).

Selain itu, jelang tatanan normal baru karena pandemi covid-19, angka pengajuan perceraian di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, meningkat. Selama bulan Juni, tercatat 30 kasus perceraian terjadi, dan penggugat didominasi pihak istri. Sebelum pandemi covid-19, pada bulan Februari lalu, Pengadilan Agama Martapura Kelas I B, menangani rata-rata 60 perkara perceraian. Bahkan pada bilan Maret, April, dan Mei, angka perceraian rata-rata 5 kasus per bulan. Sepanjang Januari hingga Juni, Pengadilan Agama Martapura, menangani 267 kasus perceraian. Alasan perceraian didominasi perselisihan karena impitan ekonomi (https://www.kompas.tv/article/90420/pasca-psbb-kasus-perceraian-meningkat-didominasi-selisih-impitan-ekonomi).

Seiring dengan kehidupan normal baru yang digaungkan, ternyata banyak warga yang memenuhi pengadilan agama untuk memproses perceraiannya. Kondisi wabah yang menyebabkan ekonomi masyarakat goyah, ikut berimbas pada ketahanan keluarga. Faktor ekonomi menjadi pencetus besarnya kasus perceraian di Kalsel.

Di masa masyarakat kini tengah dilanda wabah Covid-19, yang nampaknya masih akan berlangsung cukup lama, banyak keluarga yang juga terdampak. Para suami dan ayah yang harus kehilangan pekerjaan tidak bisa lagi memberikan nafkah, untuk sementara karena terhentinya usaha maupun selamanya akibat terkena PHK. Sedangkan, pekerjaan lain untuk memperoleh nafkah tidak ada. Maka, masalah ekonomi cenderung memicu konflik di tengah keluarga.

Lemahnya keimanan menjadikan rapuhnya bangunan keluarga. Terbukti, saat ujian wabah penyakit datang yang berimbas pada ekonomi keluarga, perceraian menjadi pilihan solusi. Kapitalisme telah menggerus makna keluarga yang seutuhnya. Sebab, ukuran kebahagiaan dalam kapitalisme adalah terpenuhinya kebutuhan jasadiyah semata dan berlimpahnya materi.

Sejatinya, penyebab utama hancurnya keluarga Muslim bukanlah karena semata wabah, melainkan dampak akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sistem sekuler ini telah menjadi biang kerok tidak terpenuhinya seluruh hak-hak keluarga. Sebelum pandemik pun, angka perceraian sudah meningkat karena berbagai faktor yang diciptakan oleh sistem Kapitalisme. Seperti masalah minusnya ketakwaan, kemiskinan, pengangguran, sedikitnya lapangan kerja dan sebagainya.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Tata cara pendistribusian harta dan rusaknya pemeliharaan urusan masyarakat bersumber dari ideologi kapitalisme yang diterapkan. Kerusakan tatanan sosial pun diperparah dengan kondisi kehidupan sekuler yang memandang segala kebahagiaan hanya dari asas berlimpahnya materi, membuat sebagian pasangan memilih selingkuh atau berujung pada gugatan dan perceraian. Sistem kapitalisme terbukti gagal dalam membentengi keluarga Muslim.

Hanya dengan sistem kehidupan Islam sajalah bangunan keluarga akan kokoh. Sebab, keimanan individu terjaga. Kontrol masyarakat berjalan dengan baik. Dan negara bertanggung jawab penuh mengayomi seluruh rakyatnya. Sehingga, ketika terjadi wabah penyakit atau ujian apa pun, bisa dilewati dengan penuh kesabaran dan tawakkal.

Islam memerintahkan dalam kehidupan suami istri agar bergaul dengan cara yang baik. Serta mendorong mereka untuk bersabar dengan keadaan masing-masing pasangan. Mengedepankan sikap sabar dan penuh harap kepada Allah SWT dalam menjalani lika-liku dalam perjalanan kehidupan keluarga.

Allah SWT berfirman: “Bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah). Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. An-Nisa : 19).

Dalam hubungan pernikahan, mungkin konflik pasti akan ada. Pasangan suami istri pun bisa saling membantu dalam menyelesaikan masalah. Islam menganjurkan setiap pasangan keluarga Muslim berusaha untuk mencari jalan keluar lain, sehingga menghindarkan terjatuhnya keluarga pada jurang perceraian.

Suami istri di setiap keluarga Muslim akan selalu bergandengan tangan untuk mengatasi dampak Corona. Fakta tentang berkumpulnya anggota keluarga saat pendemi dengan stay at home sementara waktu akan meningkatkan pengeluaran membengkak secara drastis. Maka, suami dan istri dengan bekal ketakwaan, akan mampu menghadapi persoalan ekonomi ini. Bersama-sama memperjuangkan tetap kokohnya bangunan rumah tangga agar tidak kandas.

Selain itu, masyarakat dengan suasana Islami juga saling menolong terhadap sesama yang sedang kesusahan, dengan kelebihan yang mereka punya. Ditambah dengan tanggung jawab negara dalam memberikan bantuan dan membuat jalan keluar masalah Covid-19 ini agar rakyat bisa segara bekerja untuk mencari nafkah, dan terhindar dari ancaman wabah. Hal ini akan menjaga ketahanan keluarga-keluarga Muslim di tengah masyarakat.

Dalam sistem Islam, negara merupakan penjaga utama dalam membentengi kokohnya pondasi bangunan keluarga. Negara menjamin setiap keluarga di masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pokok, dan juga kebutuhan sekunder dan tersier. Sistem ekonomi Islam yang shahih, membuat masyarakat sejahtera dan tercukupi kebutuhan hidupnya. Tak ada beban keluarga dalam menanggung biaya pendidikan, kesehatan, keamanan dan layanan publik, sebab negara telah memberikannya secara cuma-cuma, sebagai bentuk dari pengurusan negara terhadap seluruh rakyatnya.

Oleh karena itu, kita pun berharap semoga arah kehidupan New Normal ini menuju tatanan kehidupan baru menuju kepada arah peradaban Islam. Yang menuju pada kehidupan yang sesuai fitrah manusia dan ideal bagi seluruh keluarga untuk meraih kebahagiaan dalam ridha Allah SWT.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya