Petani Jeruk Batola Ingin Ada Nilai Tambah

Banjarmasin, KP – Hasil produksi panen jeruk di Kabupaten Barito Kuala (Batola) saat ini sedang berlimpah, yaitu bisa mencapai 5.000 ton per petani, sedangkan harganya di tingkat petani juga lumayan bagus, yaitu mencapai Rp5.000 per kilogram.

Namun demikian, para petani jeruk di daerah sentra perkebunan jeruk, yaitu di Desa Karang Indah, Puntik Dalam dan Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola masih berharap hasil panen jeruk mereka bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Hal itu terungkap saat anggota DPRD Kalsel, DR.H.Karli Hanafi Kalianda, SH.MH melakukan reses yaitu menggali aspirasi di daerah pemilihannya, di lima desa di Kabupaten Batola,  Rabu (28/10) sampai Jumat (30/10).

“Hasil pertanian jeruk saat ini memang sudah cukup bagus, tapi kami mengharapkan ada nilai tambah, seperti di Pulau Jawa,  banyak makanan atau minuman ringan yang dibuat dari bulah apel,” ujar M.Zaini Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Karang Indah.

Misalnya, katanya melanjutkan, produksi jeruk dari Desa Karang Indah ini bisa dibuat minuman kemasan, serbuk jeruk, keripik jeruk, dan sebagainya.

Menanggapi aspirasi yang dilontarkan dalam kegiatan reses yang digelar dengan menerapkan protokol Kesehatan itu, Karli Hanafi yang berasal  dari Fraksi Partai Golkar ini mengatakan, untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil jual produksi jeruk, bisa dengan mencontoh yang dilakukan di Pulau Jawa. “Masalah ini akan saya sampaikan kepada pihak yang berkompeten di tingkat provinsi maupun kabupaten untuk ditindaklanjuti, sehingga harapan masyarakat itu benar-benar bisa direalisasikan yaitu memberikan nilai tambah pada produksi jeruk yang saat in I pemasarannya sudah mencapai pulau Jawa,” ujarnya.

“Dengan memberikan nilai tambah pada hasil pertanian jeruk, pada gilirannya akan meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat petani di daerah itu,” ujarnya.

Berita Lainnya
1 dari 521

Selain jeruk, lima desa yang dikunjungi Karli dalam kegiatan resesnya yaitu Karang Indah, Puntik Dalam, Jejangkit Muara, Jejangkit Pasar, dan Karang Bunga, semuanya mengandalkan pertanian padi sebagai mata pencarian utama warganya.

“Masyarakt di lima desa yang saya kunjungi mengandalkan pertanian padi lokal dan padi unggul sebagai mata pencaharian,” katanya.

Hasil pertanian padi, mencukupi untuk kebutuhan pangan sehari-hari dan selebihnya untuk dijual. 

Untuk pertanian padi ini, masyarakat mengharapkan distribusi pupuk  tepat waktu. Sebab petani mengeluhkan distribusi sering tidak tetap waktu. “Artinya saat diperlukan yaitu saat musim tanam pupuk bersubsidi tidak tersedia. Justru disaat tidak diperlukan, yaitu saat panen justru pupuk tersedia,” ujarnya.

 Untuk masalah pupuk ini, Karli juga akan mencarikan solusi dengan mempertanyakan proses distribusinya ke instansi yang berwenang baik di tingkat provinsi maupun kecamatan.

Berbagai permasalahan lain juga terungkap dalam kegiatan reses tersebut seperti permohonan perbaikan jalan dan jembatan, masalah kamtibmas, kesenian, olahraga, dan lain-lain.

Kegiatan reses DR.H.Karli Hanafi Kalianda ini mendapat sambutan antusias dari warga di desa yang didatangi, namun mengingat protoko kesehatan, maka warga yang datang dibatasi sehingga tidak menimbulkan kerumunan, tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. (lia)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya