Pengangguran dalam Prespektif Islam

Oleh : Athaya Anindya Fitzia
Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin

Pengangguran masih menjadi permasalahan yang terus-menerus ada hingga saat ini, bahkan di Negara berkembang pengangguran sudah menjadi hal yang lumrah bagi kebanyakan orang. Pengangguran ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara permintaan tenaga kerja dan penawaran tenaga kerja. Masalah pengangguran ini sangat penting untuk diperhatikan karena pengangguran itu sangat berpotensi menimbulkan kerawanan berbagai kriminal dan gejolak sosial, politik dan kemiskinan. Selain itu, pengangguran juga merupakan pemborosan yang luar biasa. Pengangguran berhubungan juga dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, ketersediaan lapangan kerja berhubungan dengan investasi, sedangkan investasi didapat dari akumulasi tabungan, tabungan adalah sisa dari pendapatan yang tidak dikomsumsi. Semakin tinggi pendapatan nasional, maka semakin rendah harapan untuk membuka kapasitas produksi baru yang tentu saja akan menyerap tenaga kerja baru. Dapat dikatakan tingkat pengangguran merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan kesejahteraan suatu Negara.

Dalam Islam definisi pengangguran sebagaimana yang ada dalam ekonomi konvensional yang membatasi penganggur hanya pada pencari kerja yang tidak mendapatkan pekerjaan, adalah definisi yang sangat sempit bila dilihat dari kaca mata Islam. Karena Islam memandang istilah kerja sangat umum, yakni menyangkut segala aktifitas kegiatan manusia baik yang bersifat badaniah maupun rohaniah yang dimaksudkan untuk mewujudkan atau menambah suatu manfaat yang dibolehkan secara Syar’i. Maka ketika seseorang tidak mau mempergunakan potensinya maka itulah pengangguran yang amat membahayakan diri dan masyarakatnya. Secara moral Islam orang yang demikian adalah menganggur yang memikul dosa. Sedangkan yang terus mengfungsikan potensinya baik modal, tenaga maupun pikirannya tidak termasuk kategori menganggur yang menyalahi ajaran Islam. Ketika seseorang tidak bekerja namun ia masih terus berfikir keras bagaimana bisa memproduktifitaskan dirinya sehingga bisa menghasilkan kerja yang produktif maka ia secara moral Islam memenuhi kewajiban kerja dalam Islam dan tidak menanggung dosa pengangguran.

Salah satu penyebab pengangguran adalah karena etos kerja di Negara-negara muslim sangat rendah dibandingkan di Negara-negara maju pada umumnya. Kondisi perilaku umat muslim umumnya, khusunya di bidang ekonomi sangat kontras dengan idealitas ajaran Islam di bidang ekonomi. Kondisi perilaku yang demikian tentu terkait dengan pemahaman ajaran Islam baik dibidang teologis, hukum atau ajaran Islam yang lain.

Berita Lainnya
1 dari 292

Dalam bidang teologis, aliran ahlussunnah wal jamaah yang dominan di kalangan kaum muslim lebih banyak didominasi Asy’ariah. Dimana yang menonjol adalah mentalitas pasrah dan pemahaman tawakkal yang kurang tepat, sehingga menimbulkan mental tidak mau berusaha atau masa bodoh dengan kerja yang dianggap duniawi dan merasa lebih mulia bila menfokuskan pada ibadah dan berkeyakian bahwa persoalan duniawi yang terjadi adalah sudah menjadi garis takdir Tuhan yang tidak bisa diubah. Pemahaman yang demikian meskipun ada di kalangan aliran ahlussunah pada dasarnya adalah paham jabariyah dan murji’ah, yang terkesan manusia hanyalah wayang dimainkan Tuhan dan semuanya terserah Tuhan dan dikembalikan kepada Tuhan.

Demikian juga pemahaman dan aplikasi di bidang fiqh (hukum Islam). Ternyata yang terjadi adalah memahami fiqh lebih harfiyah dan kaku. Fiqh yang terkait dengan zakat, infaq dan sedekah misalnya yang memuat ajaran penting untuk memberdayakan umat sering justru malah aplikasinya kurang memberdayakan umat. Orang yang mengamalkan zakat lebih sekedar memenuhi kewajiban rukun Islam tanpa memperhatikan filosofinya untuk menyejahterakan.

Maka untuk mengatasi pengangguran dari sisi ajaran Islam ini perlu diluruskan kembali pemahaman dan aplikasi perilaku umat. Juga berbagai institusi tentang ajaran Islam yang terkait dengan ekonomi. Dakwah dan pendidikan Islam perlu ditekankan untuk memahami ajaran Islam secara komprehensif dan tidak harfiah tetapi yang mampu menyelami gagasan Islaminya. Mentalitas pengangguran jangan sampai memakai baju iman dan tawakkal. Demikian juga pengamalan infaq dan zakat yang sesuai filosofinya dan tepat sasaran dengan pemberdayaannya akan dapat menanggulangi pengangguran. Nabi sendiri melarang keras memberi sedekah kepada orang kaya atau orang memiliki potensi kerja tapi tidak mau menggunakannya. Ini jelas tindakan antisipatif yang sudah diperingatkan Nabi agar sedekah jangan sampai malah justru menyuburkan pengangguran. Demikian juga institusi perbankan Syari’ah masih membutuhkan kajian intensif dan kritis di tengah proses menuju kesempurnaannya yang dapat mengemban misi Islam di bidang pemberdayaan usaha kecil.

Maka untuk mengatasi pengangguran dari sisi ajaran Islam ini perlu diluruskan kembali pemahaman dan aplikasi perilaku umat. Juga berbagai institusi tentang ajaran Islam yang terkait dengan ekonomi. Dakwah dan pendidikan Islam perlu ditekankan untuk memahami ajaran Islam secara komprehensif dan tidak harfiah tetapi yang mampu menyelami gagasan Islaminya. Mentalitas pengangguran jangan sampai memakai baju iman dan tawakkal. Demikian juga pengamalan infaq dan zakat yang sesuai filosofinya dan tepat sasaran dengan pemberdaayaaannya akan dapat menanggulangi pengangguran. Nabi sendiri melarang keras memberi sedekah kepada orang kaya atau orang memiliki potensi kerja tapi tidak mau menggunakannya. Ini jelas tindakan antisipatif yang sudah diperingatkan Nabi agar sedekah jangan sampai malah justru menyuburkan pengangguran. Demikian juga institusi perbankan Syari’ah masih membutuhkan kajian intensif dan kritis di tengah proses menuju kesempurnaannya yang dapat mengemban misi Islam di bidang pemberdayaan usaha kecil.

Institusi-institusi Islam yang lain pun perlu dikembangberdayakan seperti wakaf yang sangat potensial menanggulangi pengangguran.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya