Tiga Jurus Pemko Tekan Ketinggian Banjir di Banjarmasin

Ibnu Sina membeberkan, cara tersebut antara lain dengan melakukan normalisasi sungai, kemudian pembuatan pintu air dan yang terakhir sistem pompanisasi

BANJARMASIN, KP – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin mengklaim memiliki 3 jurus atau strategi dalam upaya mengurangi ketinggian banjir yang saat ini menggenangi beberapa kawasan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ini.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina membeberkan, cara tersebut antara lain dengan melakukan normalisasi sungai, kemudian pembuatan pintu air dan yang terakhir sistem pompanisasi.

Ketiga strategi tersebut dianggap efektif dalam mengurangi sekaligus mencegah datangnya banjir dalam jangka panjang.

Terkait opsi atau strategi pertama, orang nomor satu di Kota Banjarmasin ini mengaku sudah memerintahkan Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) untuk melakukan normalisasi sungai, khususnya Sungai Veteran di wilayah Kecamatan Banjarmasin Timur dan Sungai Guring yang lokasinya tepat ada di samping Jalan A Yani Banjarmasin.

Menurutnya, Sungai Veteran ini merupakan alur sungai yang sangat vital fungsinya yakni mengalirkan air dari wilayah tersebut untuk menuju ke Sungai Martapura.

“Karena disini (Sungai Veteran) merupakan urat nadi bagi alur-alur sungai yang lain yang ada di sisi Kecamatan Banjarmasin Timur,” ucapnya pada awak media di sela pemantauannya saat menghancurkan bangunan kios Pasar Kuripan yang berada di atas alur Sungai Veteran, Sabtu (24/01) malam.

Kemudian, pria dengan sapaan Ibnu itu menambahkan, untuk di sisi Kecamatan Banjarmasin Selatan alur sungai yang vital terdapat di Sungai Pemurus yang terus sampai ke Sungai Kelayan dan Sungai Guring yang turun ke dua cabang yakni Sungai Kelayan dan Sungai Pekapuran.

“Diharapkan, proses normalisasi ini bisa berjalan dengan baik. Pihak Dinas PUPR juga kita perintahkan untuk selalu memantau ketinggian air dan wilayah mana saja yang terdampak jika terjadi genangan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Banjarmasin beserta anggota forkopimda lainnya untuk duduk bersama mencari skema penataan sungai, khususnya Sungai Veteran dan Sungai Guring yang bagus agar bisa berfungsi dengan baik.

“Pastikan kita membuat perencanaan yang bagus dan jangan sampai kejadian ini terulang kembali,” tukasnya.

Selain itu, cara kedua yang dilakukan Pemko Banjarmasin dalam mengurangi resiko air yang masuk ke pemukiman jika terjadi peluapan debit air sungai adalah dengan membangun pintu air.

Untuk hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Windiasti Kartika pernahe jelaskan, bahwa pihaknya akan membangun pintu air di beberapa titik.

Berita Lainnya
1 dari 3.243

Wanita dengan sapaan Windi itu mengungkapkan, bahwa pihaknya akan melakukan penambahan jumlah pintu air di beberapa titik tertentu.

“Kedepannya, seperti yang sudah disepakati dalam revisi RTRW Kota Banjarmasin, ada beberapa titik yang akan kita bangun pintu air,” imbuhnya, beberapa hari yang lalu usai menjalani rapat evaluasi penanganan bencana banjir di Aula Kayuh Baimbai, Gedung Balai Kota Banjarmasin.

Kendati demikian, Windi menuturkan bahwa penentuan titik pembangunan pintu air ini memerlukan kajian khusus yang lebih yang mendalam. Sebab Kota Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang tidak sedikit.

“Dengan kajian itulah kita bisa mencari dan hasilnya menjadi bahan pertimbangan untuk membangun pintu air di titik yang tepat,” katanya.

Ia mencontohkan seperti yang dilakukan oleh Pemprov Jakarta. Namun jumlah sungai yang ada di Ibu Kota Negara Indonesia itu jumlahnya hanya sekitar 13 saja. Sedangkan di Kota Banjarmasin terdapat ratusan sungai.

“Kalau Jakarta mudah saja mereka membangun pintu air di seluruh titik sungainya. Masa kita letakkan pintu air di seluruh sungai yang berdampak

Lalu. Sungai-sungai di Banjarmasin juga banyak yang masih aktif diantaranya digunakan warga sebagai sarana transportasi air.

“Artinya hal itu menjadi salah satu pertimbangan apakah di akan dibangunkan pintu air di sungai tersebut atau tidak. Karena kalau dibangun, masyarakat tidak akan bisa lagi lewat jika terdapat pintu air di setiap sungai,” paparnya.

Lantas titik sungai mana saja yang berpotensi untuk dibangunkan pintu air sebagai upaya mengurangi resiko terjadinya banjir?

“Ada beberapa titik yang potensial dibangun pintu air, misalnya di Muara Sungai Lulut. Karena sungai ini berhadapan langsung dengan Sungai Martapura,” bebernya.

Untuk diketahui, Kota Banjarmasin sudah mempunyai pintu air untuk menangani permasalahan jumlah debit air yang memasuki kawasan kota. Seperti yang ada di samping SPBU Masjid Raya Sabilal Muhtadin, kemudian di samping Kantor BPBD Kota Banjarmasin dan pintu air di aliran Sungai Tatas yang ada di Jalan Sutoyo S.

Kembali ke strategi dalam upaya pengurangan debit air oleh Pemko Banjarmasin. Strategi terakhir yakni dengan cara melakukan sistem pompanisasi.

Ibnu Sina tidak menampik bahwa masih ada kawasan tertentu yang posisinya berada di bawah permukaan laut atau lebih rendah dari permukaan air sungai.

“Jadi kalau ada air yang masuk maka akan terjebak di sana dan tidak tidak mengalir. Makanya harus dibantu dengan sistem pompa untuk mengurangi genangan di kawasan yang rendah itu. Yaa mirip seperti yang dilakukan oleh DKI Jakarta,” tutupnya. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya