Vaksinasi Sebuah Solusi Atau …

Oleh : H. Ahdiat Gazali Rahman
Pengamat Sosial tinggal di Amuntai

Banyaknya jumlah pasien Covid di Kalsel sampai minggu terakhir Januari 2021 berjumlah 17.822 orang, meninggal 642 orang, telah sembuh 15.849 dan masih dirawat 1.331. Jumlah cukup banyak dan baru terdata, belum lagi mereka yang tak terdata, apakah karena lokasi memang jauh atau pasien tidak melapor keadaan sebenarnya. Semoga jumlahnya tidak banyak. Untuk mengurangi jumlah penderita dan penyebaran virus Covid-19, semua elemen masyarakat sudah terlibat, baik pihak keamanan, pemerintah daerah, tokoh dan masyarakat, melakukan berbagai upaya, dimulai dengan cara santun menyosialisasi apa yang harus dilakukan masyarakat dengan tiga pesan ibu, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sampai memberikan sanksi, berupa hukuman ringan hingga agak berat. Semua itu demi berkurangnya jumlah penderita Covid 19. Namun, dari hari ke hari, jumlah pasien selalu bertambah. Jika terjadi penurunan, itupun tidak begitu signifikan. Upaya lain yang dilakukan adalah vaksinasi atau suntik vaksin, untuk memberikan kekebalan masyarakat terhadap serangan virus Covid-19.

Lika Liku Vaksin Sinovac.
Tidak mudah Indonesia membeli vaksin Sinovac dari perusahaan biofarmasi asal China itu, karena banyak yang menyangsikan vaksin tersebut. Karena, pernyataan vaksin itu belum diuji tahap ketiga oleh perusahaannya sendiri, yang diutarakan juru bicara vaksinasi Covid-19 dari BPOM Lucia Rizka menyatakan, tingkat efikasi vaksin Sinovac belum diketahui, lantaran proses uji klinis tahap ketiga belum selesai. Oleh karena itu, BPOM masih menunggu hasil analisis data efikasi vaksin buatan Sinovac, mengingat pembelian vaksin yang belum diketahui tingkat efikasinya sangat berisiko. Pasalnya, belum tentu jutaan dosis vaksin yang telah didatangkan bisa digunakan. Sebab jika ternyata tingkat efikasinya rendah, vaksin tersebut tidak bisa digunakan karena tak cukup ampuh menstimulasi antibodi untuk menangkal virus. Isssu lain bahkan mengatakan 20 negara yang memesan vaksin dari produsen global itu telah membatalkan kontrak pembelian.

Kegigihan para pejabat akhirnya berhasil, pada 6 Desember vaksin telah datang keIndonesia. Sisanya sebanyak 1,8 juta dosis vaksin siap pakai tiba pada Januari 2021. Selain itu, pada 2021, Sinovac juga akan mengirim 45 juta dosis bahan baku vaksin Covid-19 yang tiba secara bertahap selama dua gelombang. Untuk lebih memberikan semangat kepada masyarakat dan mereka yang teribat dalam pembelian vaksin, maka setiap kedatangan vaksin ke suatu daerah di kawal ketat.

Berita Lainnya
1 dari 215

Pelaksanaan Vaksinasi
Setelah berakhir tarik ulur, jengah sanggah dalam pembelian vaksin Sinovac selesai dengan hasil pemerintah tetap membeli vaksin buatan Cina tersebut. Pertengan Desember diujicobakan, dimulai dari pemerintah pusat, yakni Presiden Joko Widodo, untuk menjadi contoh dan rujukan pada masyarakat Indonesia, bahwa vaksin itu memeng baik dan perlu untuk semua masyarakat. Namun apa yang terjadi berbagai tanggapan dan issu ketika proses vaksinasi dilakukan pada Presiden, ada yang beranggapan vaksin tidak semua disuntikan pada Jokowi, disertai video pemberian vaksin oleh petugas pada Jokowi, yang terlihat seolah vaksin tidak semuanya disuntikan pada Presiden. Disusul dengan berbagai kejadian yang melibatkan pekerja vaksin oleh pihak petugas kepada mereka yang divaksin sebagai catatan banyaknya isu hoax yang terlanjur beredar di masyarakat lewat media massa, diantaranya : 1. Seorang tenaga medis wanita di Portugal mendadak meninggal dunia. Sebelumnya ia diberikan suntikan virus Corona Pfizer. Ia meninggal tepat pada tahun
baru atau sekitar 48 jam setelah menerima vaksin. Wanita bernama Sonia Acevedo (41) bekerja di bidang pediatri di Institut Onkologi Portugis di Porto; 2. Video vaksinasi pakai jarum palsu; 3. Pesantren di Jember, santrinya jadi korban vaksin Covid-19; 4.  Video ratusan santri terkapar usai disuntik vaksin; 5. Ulama Aceh haramkan vaksin Covid-19; 6. Dokter dan perawat di RS Purwakarta tolak disuntik vaksin

Itulah sederet hoax yang terlanjur tersebar lewat masyarakat, sehingga sempat menimbulkan ke bingungan dalam masyarakat, itu semua telah dibantah dan semua dianggap hoax, namun yang disayangkan, sekarang beredar dua hal yang menyangkut vaksin Covid-19, yang benar-benar terjadi karena dikabarkan secara resmi oleh press. Diantaranya : 1. Pernyataan penolakan oleh tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Ribka Tjiptaning soal vaksin Covid-19, yang mengatakan beliau dan keluarga tak bersedia divaksin dan rela membayar denda, yang penting tidak dilakukan vaksin pada dirinya dan keluarganya. Walaupun harus menjual mobilnya, untuk biaya membayar denda, jika denda diberlakukan; 2. Usai vaksinasi pertama, Kadis Kesehatan Kota Banjarmasin Positif Covid-19, Machli Riyadi telah mengikuti program vaksinasi nasional dengan disuntik vaksin Sinovac pada 14 Januari 2021. Dan sekarang beliau sakit dan dirawat di rumah sakit.

Dua peristiwa ini bukan hoax, dan kejadiannya benar-benar terjadi, pertanyaannya bagaimana posisi kita yang akan melakukan Vaksinasi? Apakah mendapatkan solusi bagi kesehatan atau berlaku sebaliknya setelah melakukan vaksinasi?

Harapan
Jangan ada pemaksaan oleh negara, daerah untuk masyarakat agar bersedia divaksinasi. Lakukan vaksinasi secara sukarela, kemudian Sebelum dilakukan vaksinasi sebaiknya dilakukan screening Covid-19 atau swab test pada mereka. Jika dalam screening Covid-19 dinyatakan negarif, baru dilakukan vaksinasi. Dengan demikian masyarakat yang divaksinasi, merasa benar-benar mendapatkan perlindungan dari negara/pemerintah, bukan sebaliknya. Sekarang bangsa ini telah menemukan cara mengetahui penularan Covid-19 dengan air liur, UGM siap meluncurkan inovasi terbaru “GeNose”, yaitu berupa alat yang mampu mendeteksi dan mendiagnosis apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak hanya dengan hembusan nafas.  “GeNose” bekerja secara cepat dan akurat mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk, karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama nafas seseorang. Nafas orang diambil diindera melalui sensor-sensor dan kemudian diolah datanya dengan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk pendeteksi
an dan pengambilan keputusan. Selain unsur kecepatan dan keakurasian. “GeNose” didesain sangat handy sehingga dapat dioperasikan oleh seseorang secara mandiri dan efisien. Alangkah eloknya jika vaksinasi dilakukan bersama test dengan menggunakan “Genose” buatan bangsa ini.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya