80 Persen Ekspor Kalsel Berupa Bahan Mentah dan Setengah Jadi

Menurut Birhasani, jika hilirisasi industri dikembangkan, tentunya akan membawa lompatan kemajuan bagi ekonomi kita. Selama ini, hilirisasi industri telah memberikan multiplier effect yang luas, baik itu penerimaan negara melalui ekspornya maupun penyerapan tenaga kerja yang bertambah.

BANJARMASIN, KP – Dalam upaya mendorong pertumbuhan sektor industri dan perdagangan dalam negeri, diperlukan kesadaran masyarakat Indonesia khususnya warga Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk bangga menggunakan produk-produk bangsanya sendiri.

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, H Birhasani, demi mendorong sektor tersebut, diantaranya dapat dilakukan dengan program Hilirisasi Industri, yakni perkembangan industri yang menghasilkan bahan baku (Industri Hulu) menjadi industri yang mengolah bahan menjadi barang jadi (Industri Hilir).

“Ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat kita terhadap produk impor, sekaligus sebagai langkah mengurangi defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, kebanggaan produk dalam negeri tersebut tentunya harus ditunjukkan dengan membeli produk daerah atau produk dalam negeri sendiri.

Ia menambahkan, dengan menggunakan produk bangsa sendiri, maka industri dalam negeri akan tetap bergerak, terus berproduksi, permintaan menjadi tinggi, serapan tenaga kerja juga meningkat, yang tentunya pendapatan masyarakat dan daya beli pun juga membaik.

Berita Lainnya
1 dari 854

“Jika masyarakat sadar tentang hal itu, maka omzet perdagangan menjadi positif dan akan lebih baik lagi,” ucap Birhasani.

Di sisi lain, ia mengungkapkan, ekspor Kalsel sekarang lebih 80 persen hanya berupa bahan mentah dan setengah jadi. Harus segera beralih ke produk jadi, agar nilai ekspornya menjadi jauh lebih tinggi.

Menurut Birhasani, jika hilirisasi industri dikembangkan, tentunya akan membawa lompatan kemajuan bagi ekonomi kita. Selama ini, hilirisasi industri telah memberikan multiplier effect yang luas, baik itu penerimaan negara melalui ekspornya maupun penyerapan tenaga kerja yang bertambah.

“Hilirisasi kepada produk jadi itu, misal dari karet berupa SIR menjadi produk berupa ban. Contoh lainnya, seperti pengolahan sawit mentah hingga menjadi minyak goreng, kosmetik atau yang lainnya. Indonesia kan salah satu produsen terbesar karet dan minyak di dunia,” jelasnya.

Semua ini, lanjut Birhasani memang memerlukan waktu dan kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dengan investor. Investasi ke depan harus berorientasi kepada hilirisasi, jangan hanya terhenti di sektor hulu.

“Semuanya wajib dimulai dari sekarang. Pelaku usaha harus berani masuk ke pasar nasional bahkan internasional.

Kita akan terus mendorong hingga bisa terwujud, agar perekonomian kita terus meningkat,” imbuhnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya