Biasakan Konsumsi Garam Beryodium

Banjarmasin, KP – Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin M, dr Machli Riyadi SH MH, menghimbau masyarakat agar membiasakan mengkonsumsi garam beryodium dalam setiap memasak makanan.

Menurutnya melalui {KP} belum lama ini, kekurangan akibat yodium selain bisa berdampak terhadap kesehatan dan tingkat kecerdasan, tapi juga bisa mengganggu masa pertumbuhan anak.

” Pemerintah hingga kini terus berusaha untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia karenanya guna menunjang upaya ini setiap pemerintah daerah wajib melaksanakan penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Garam Yodium (GAKY),” ujarnya.

Kendati diakuinya, khusus di Kota Banjarmasin sampai sekarang belum ditemukan kasus yang diakibatkan kekurangan garam beryodium. Seperti, penyakit gondok atau terganggunya masa pertumbuhan anak hingga menjadi kerdil.

Keberhasilan ini ungkapnya, salah satunya mungkin berkat terus digalakkannya ‘kampanye’ pemakaian garam beryodium kepada masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah khususnya sekolah dasar.

Dijelaskannya Kadis yang dikenal ramah ini, , Pedoman Penanggulangan GAKY oleh pemerintah telah diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor : 63 tahun 2010.

Adapun tujuan penanggulangan GAKY di daerah adalah untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman bagi aparat pemerintah daerah, produsen dan konsumen akan pentingnya penanggulangan GAKY.

Sekaligus lanjutnya, dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sesuai sasaran di dalam tujuan pembangunan milenium dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) khususnya di bidang kesehatan.

Dikemukakan, dalam kerangka penanggulangan GAKY setiap daerah diwajibkan menyusun perencanaan penanggulangan GAKY yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.

Berita Lainnya
1 dari 3.201

“Untuk tingkat Kabupaten/Kota Tim Koordinasi Penanggulangan GAKY dibentuk oleh Bupati atau Walikota, sedangkan di tingkat Provinsi oleh Gubernur,’’ ujarnya.

Ia menengarai, hingga kini tidak menutup kemungkinan berbagai merek garam yang tidak mengandung yodium masih banyak beredar di pasaran kota Banjarmasin.

Mengantisipasi hal itu, Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin melalui laboratorium sudah melakukan penelitian tes iodina terhadap merek gram yang tidak mengandung yodium tersebut.”Garam yang mengandung yodium umumnya dengan ciri berwarna ungu tua,” katanya.

Lebih jauh dijelaskan, penelitian pada garam jika tidak berubah warna menjadi ungu/ungu muda, maka garam tersebut tidak beryodium. Sebaliknya garam beryodium warnanya berubah menjadi ungu tebal.

Menurutnya, selain tidak menutup kemungkinan masih beredarnya garam tidak beryodium, masyarakat kiranya perlu mengerti dan memahami pemakaian atau cara mengkonsumsi garam hingga cara menyimpannya.

Sebab menurut katanya menjelaskan, garam yang semula beryodium bisa saja menjadi tidak beryodium apabila cara penyimpanan dibiarkan terbuka, sehingga mudah menjadi basah dan membuat kadar yodiumnya bisa menguap.

“Jadi agar tidak hilang atau menguap kadar yodium pada garam disimpan dengan cara tertutup atau ditempatkan pada toples plastik dan lebih baiknya lagi terbuat dari kaca,” ujarnya.

Menyinggung cara pemakaiannya Machli menjelaskan, pemberian garam sebaiknya pada saat makanan atau sayuran sebelum disantap. Biasanya disebut garam meja.

Sebaliknya jangan membubuhkan garam ketika menghaluskan bumbu atau memasak makanan atau sayuran pada saat sedang dimasak.

“Karena pada saat kita sedang memasak sayuran atau makanan itu kadar yodium yang mengandung pada garam akan menjadi menguap,’’ demikian kata Machli Riyadi. (nid/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya