Gencatan Senjata Israel-Palestina dan Posisi Dunia Islam

Oleh: Mariana, S.Pd
Guru MI. Al Mujahidin II Banjarmasin

Sangat memilukan dan menyedihkan mendengar kabar dan berita di media sosial bahwa saudara di Pelestina mendapatkan serangan dari Israel, tak tega melihat mereka di bantai dan disiksa. Berlangsung lama kejadian ini membuat hati ikut merasakan kepedihan mereka.

Media mengabarkan bahwa ada gencatan senjata diberlakukan di Jalur Gaza setelah Mesir dan Qatar menengahi kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk menghentikan 11 hari pertumpahan darah. Kedua pihak, baik Palestina maupun Israel, sama-sama mengklaim kemenangan. Jika melihat pola-pola sebelumnya, gencatan senjata dijadikan terminal sementara bagi serangan-serangan Israel berikutnya.

Meski dukungan terhadap Palestina dan semangat kaum muslim Palestina terhadap agresi Israel sangat luar biasa, Oleh karena itu, ia mengatakan untuk jangan terlalu kaget atau bereuforia dengan gencatan senjata, karena ini bukan indikator kemenangan. Baik warga Palestina maupun Israel bisa menghela napas sejenak. Walaupun, penduduk Palestina baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak memiliki semangat jihad dan tidak takut untuk menjemput syahid.

Adanya gencatan senjata ini tidak bisa dikatakan sebagai indikator keberhasilan kampanye dukungan kepada masyarakat Palestina. Masyarakat tahu betul akar masalah krisis Palestina ini, yaitu krisis yang dipertahankan terus menerus oleh negara penjajah karena memiliki kepentingan ekonomi dan politik di dunia Islam.

Salah satu media ideologis di Palestina menyatakan adanya gencatan senjata ini memperlihatkan bahwa entitas Yahudi menghadapi dilema. Mereka menyaksikan bagaimana agresi tersebut membangunkan seluruh Palestina sebagai satu kesatuan.

Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza terjadi pada dini hari, tetapi masih ada ketegangan di Yerusalem Timur di mana polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat.

Gencatan senjata yang ditengahi Mesir mulai berlaku pada dini hari Jumat setelah 11 hari pemboman Israel tanpa henti di daerah kantong yang dikepung dan ribuan roket diluncurkan ke Israel oleh Hamas. Kantor berita Aljazeera melaporkan bahwa dari pendudukan Yerusalem Timur, penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh polisi Israel tidak terduga dan mencerminkan betapa rapuhnya gencatan senjata itu.

Agresi itu menyebar dalam kerumunan di Umm al-Fahm, Baqa al-Gharbiyya, Segitiga, Lod, Ramla, Haifa, Akka, Yerusalem, dan kota-kota Tepi Barat lainnya. Penjajah Yahudi melihat bagaimana peristiwa itu mulai membangunkan bangsa Islam, sehingga menuntut penghapusan rintangan dan penghalang yang mencegah kemenangan Palestina.

Aksi di semua negara muslim mulai menuntut untuk berbaris ke Masjidil Aqsa, terutama di negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan Irak; menyerukan jihad dan berperang untuk membebaskan tanah yang diberkahi.

Semua ini dan lainnya, menurut media itu, telah mendorong Amerika untuk bergerak untuk menghentikan agresi entitas Yahudi setelah melihat bumi berguncang di bawah kaki para penguasa boneka muslim, dan teror mulai menjalar di hati para penguasa pengkhianat yang bekerja untuk melindungi entitas Yahudi.

Peristiwa (gencatan senjata) baru-baru ini telah mengonfirmasi kerapuhan entitas Yahudi dan pasukannya, karena sekelompok kecil berhasil melumpuhkannya. Karena yang mempertahankan penjajahan adalah para agen penguasa muslim yang memenjarakan umat dan pasukannya dari mendukung Palestina dan Masjidil aqsa

Dapat disaksikan oleh dunia betapa umat Islam merindukan suatu hari ketika tentara mereka bergerak untuk membebaskan Palestina dan berdoa di Masjidilaqsa yang diberkati, dan apa yang mencegah mereka dari melakukan itu adalah penguasa mereka, aparat keamanan mereka, dan perbatasan yang mereka buat

Berita Lainnya

Peran Digital Native pada Digital Leadership

Melek Digital Gara-gara Covid-19

1 dari 330

Peristiwa baru-baru ini telah menginjak proyek-proyek kolonial seperti solusi dua negara yang berbahaya dan perdamaian dengan entitas Yahudi. Tidak ada cara untuk menghadapi entitas Yahudi kecuali dengan kekuatan dan mobilisasi bangsa dan tentaranya.

Penderitaan Palestina dan semua negara muslim terutama disebabkan oleh ketiadaan Islam dan negaranya. Sampai didirikan, upaya harus terus dilakukan untuk memobilisasi tentara dan mendesak mereka untuk bergerak membebaskan Palestina, dan bekerja untuk menjaganya.

Tanah Palestina sesungguhnya merupakan tanah wakaf milik kaum Muslim. Bukan hanya milik bangsa Arab atau bangsa Palestina saja. Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin al-Khathab ra pada tahun 15 H. Beliaulah yang langsung menerima tanah tersebut dari Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Umariyah, yang di antara isinya yang berasal dari usulan orang-orang Nasrani, yaitu agar orang Yahudi tidak boleh tinggal di dalamnya.

Namun, sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh tahun 1924, akhirnya Bumi Palestina jatuh ke tangan Zionis Yahudi, sang agresor dan penjajah. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada tahun 1948 dengan menduduki 77 persen tanah Palestina dan setelah mengusir 2/3 (dua pertiga) rakyat Palestina dari tanah mereka. Yang tersisa tinggal 156 ribu jiwa (17 persen) dari total warga entitas Israel saat didirikan. Itu pun mereka seperti warga asing di tanah mereka sendiri.

Di bawah pendudukan dan kekejaman Zionis Yahudi sang penjajah, penderitaan adalah hal yang sudah sangat ‘akrab’ dengan bangsa Palestina. Sejak pendudukan Israel tahun 1948, sudah ratusan ribu orang Palestina tewas dibantai. Puluhan ribu luka-luka dan cedera bahkan cacat. Ratusan ribu kehilangan rumah, tempat tinggal dan pekerjaan. Ribuan wanita dilecehkan kehormatannya bahkan diperkosa. Ribuan anak-anak menjadi yatim-piatu.

Di luar itu, sejak 1967 kelompok Zionis radikal telah menyerang Masjid al-Aqsha lebih dari 100 kali. Padahal, bagi kaum Muslim, al-Aqsha adalah salah satu masjid agung. Al-Quds adalah tempat yang amat mulia, tanah wahyu dan kenabian. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun Kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana”. (HR at-Tirmidzi).

Al-Quds pun merupakan tanah kiblat pertama bagi kaum Muslim sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS. al-Baqarah [2]: 144).

Selain itu, Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi SAW untuk dikunjungi. Rasulullah SAW pun bersabda, “Sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat. Sekali shalat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1.000 shalat. Sekali shalat di Masjid al-Aqsha sama dengan 500 shalat”. (HR ath-Thabarani dan al-Bazzar).

Karena itulah, ketika pada tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan al-Quds sekaligus membantai sekitar 30.000 kaum Muslim di sana dengan sadis, keinginan untuk menguasai kembali al-Quds tidak pernah padam di dada para penguasa Muslim saat itu. Akhirnya, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim saat itu, berhasil membebaskan kembali al-Quds yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun (1099–1187) oleh kaum Salibis.

Karena itu untuk mengembalikan al-Quds dan membebaskan kembali Palestina dari cengkeraman kaum Zionis Yahudi saat ini, apa yang dilakukan oleh Salahuddin al-Ayyubi patut diteladani. Tidak lain jihad. Jihadlah jalan satu-satunya bagi pembebasan al-Quds dan Palestina.

Jika ada kemauan politik dari para penguasa Arab dan Muslim, sebetulnya jihad untuk mengusir kaum Zionis Yahudi bukan perkara yang sulit dilakukan. Namun faktanya, setelah pendudukan Palestina oleh kaum Zionis Yahudi berjalan lebih dari 70 tahun, mengharapkan para penguasa Arab dan Muslim mau mengerahkan pasukan mereka untuk berjihad membela Palestina ibarat jauh panggang dari api.

Apalagi tragedi Palestina hanyalah pengulangan belaka dari ratusan bahkan ribuan tragedi yang menimpa umat Islam di seluruh dunia. Jelas, Palestina bukan tragedi pertama, bahkan mungkin bukan yang terakhir, yang menimpa umat Islam. Sebelum ini, bahkan hingga kini, masih sedang berlangsung tragedi pembantaian umat Islam di Myanmar (Burma), di Xinjiang, Cina, di Kashmir, India dll.

Dengan seabreg penderitaan umat di berbagai belahan dunia saat ini, jelas umat makin membutuhkan Islam yang dipimpin oleh seorang Pemimpin Islam. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan permasalahn umat dengan menerapkan Islam secara kaffah. Waalahu ‘alam bishowab

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya