PPDB, Perjuangan Sekolah Favorit Vs Sekolah Kurang Murid

Oleh : H. Ahdiat Gazali Rahman
Kepala Sekolah SMAN 1 Amuntai

Setiap akhir Juni, ditandai dengan berakhirnya tahun pelajaran, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan memprogramkan kembali proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk dibina sesuai dengan jenjangnya, anak yang baru sekolah akan masuk TK, yang lulus TK akan mencari SD/sederajat, lulusan SD akan mencari SMP/sederajat, lulus SMP akan mencari sekolah SLTA (SMA,SMK, MA).

PPDB adalah upaya sekolah menapatkan murid untuk dibina, agar menjadi manusia yang dapat dihandalkan sesuai jenjangnya. Dan visi misi yang diemban suatu lembaga pendidikan. Dalam rangka menarik calon peserta didik baru, masing-masing sekolah menempuh jalan masing-masing, ada yang berusaha sesuai dengan ketentuan pemerintah, baik dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Namun ada yang sedikit melenceng dari aturan, bahkan berbenturan dengan aturan, seperti jadwal mulai penerimaan, daya tampung bagi sekolah favorit seolah tak terbatas dibanding dengan ruang kelas belajar yang terbatas. Disisi lain, ada sekolah yang setiap tahun terus mengelami penurunan jumlah siswa. Hal ini disebabkan oleh sejarah sekolah, lokasi sekolah karena kebijakan pemerintahan lalu, atau karena faktor lain yang tak mungkin bisa diatasi oleh sekolah itu sendiri, misalnya letak sekolah, mutu guru, jumlah penduduk, selera masyarakat dalam memilih sekolah.

Harapan Pemerintah

Pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin, agar semua sekolah mendapatkan murid yang cukup, dengan mengatur penerimaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 1 tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan, dalam Pasal 12 ayat (1), “PPDB untuk SD, SMP, dan SMA dilaksanakan melalui jalur pendaftaran PPDB. Sebagaimana tertuang dalam ayat; (2) Jalur pendaftaran PPDB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Zonasi; b. Afirmasi; c. Perpindahan tugas orang tua/wali; dan/atau d. Prestasi”. Keempat jalur diberikan kepada masing-masing sekolah, agar setiap sekolah mampu menggapai jumlah siswa sesuai yang diinginkan, dan di sisi lain pemerintah sangat mengharap jangan sampai ada dan ditemukan anak tidak melanjutkan pendidikannya (putus sekolah) sebelum melaksanakan wajar 12 tahun.

Persoalan muncul karena semua orang tua ingin anaknya bersekolah di sekolah terbaik. Sayangnya, pemerintah belum mampu menyediakan kebutuhan tersebut, hanya sebagian kecil sekolah yang menjadi favorit bagi masyarakat, mungkin karena sekolahnya tua, banyak menghasilkan lulusan yang mumpuni, banyak lulusan yang jadi penguasa atau penguasaha. Atau memang karena visi dan misi sekolah sesuai dengan kondisi dan keinginan masyarakat.

Sekolah Favorit

Berita Lainnya
1 dari 292

Sekolah favorit atau sekolah unggul merupakan sekolah yang didambakan bagi siswa dan orang tua siswa, pandangan masyarakat anaknya dapat sekolah di sekolahan favorit memberikan prestise dan kebanggaan tersendiri. Untuk itu orang tua akan berupaya menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit. Sekolahan favorit dapat dilihat dengan salah satu indikatornya, yakni sekolah yang banyak diminati dan sering dijadikan pilihan pertama. Sekolah yang memiliki prestasi di bidang akademik maupun non akademik banyaknya kejuaraan yang diikuti, tentunya konsekuen dengan aturan dan tata tertib yang dibuat sesuai dengan budaya sekolahnya. Berdasarkan kriteria di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian dari sekolah favorit adalah sekolah yang memiliki peminat banyak dan dijadikan pilihan pertama dan mampu mengedepankan output yang berkualitas dan berprestasi. Karena banyak peminat sekolah favorit, sudah barang tentu dukungan apakah materi atau dukungan lain, oleh orang tua siswa yang punya kemampuan, maka sudah selayaknya sekolah favorit harus memberikan batasan yang jelas tentang berapa jumlah siswa yang bisa diterima di sekolah tersebut, dengan memperhatikan ketersediaan jumlah sekolah dan siswa pada sekolah umpan (jika sekolah favoarit itu jenjang menengah atas). Diknas dan mereka yang terkait dalam penyusunan sebuah aturan harus jeli melihat jumlah lulus SMP dan sederajat di lingkungan sekolah itu agar sekolah lain yang dianggap belum favorit tetap kebagian siswa. Mungkin dengan meninggikan persyaratan yang diperlukan ketika memasuki ke sekolah tersebut. Sekolah favorit berjuang membatasi jumlah siswa yang akan masuk disekolahnya, bagaimana berusaha siswa yang masuk ke sekolah hanya sesuai dengan daya tampung yang tersedia, tidak memaksakan nafsu untuk menerima sebanyak mungkin siswa, sehingga sekolah lain tidak kebagian siswa. Perjuangan berbagi dengan sekolah lain, sehingga malahirkan apa selalu dikatakan oleh tokoh kita, “ringan sama dijeinjing berat sama dipikul”.

Masyarakat sudah terlanjur menilai tidak semua sekolah dapat dikatakan menjadi sekolah favorit, karena berbagai macam kendala, seperti letak sekolah, peran orang tua siswa, managemen yang dikembangkan pimpinan sekolah, perhatian dan keseriusan para guru dan tetangga kependidikan di suatu sekolah, kemampuan keuangan sekolah dan keterbatasan lain, berakibat belum mampu memberikan pelayanan maksimal pada peserta didik, pelayanan pada peserta didik terasa kurang, sehingga lahirlah istilah “sekolah biasa”, sekolah tidak favorit, yang dalam PPDB selalu terjadi kekurangan siswa.

Sekolah Kekurangan Siswa

Sebagian sekolah ini berstatus kurang siswa, karena berada di pinggiran kota, jika berada di kota sekolah gagal bersaing dengan sekolah lain disekitarnya, kurang prestasi, kurang perhatian, atau korban kebijakan pemerintahan sebelumnya, yang menempatkan beberapa sekolah berada dalam satu zona yang sama dalam satu kota, sehingga kesulitan penerapan sistem zona, karena terbatas sekolah umpannya, sangat sedikit jika dibandingkan dengan sekolahnya, sekolah yang kurang siswa akan selalu berjuang bagaimana daya tampung yang disediakan oleh sekolah terisi semua, tak ada kelas yang kosong karena kurang siswanya. Dalam PPDB, biasa sekolah seperti ini akan memberikan hal tertantu yang lebih berani dibandngkan sekolah favorit, mulai dari bebas uang bangku jika dulu, hingga memberikan baju dan sepatu, dan kemudahan lain agar siswa dapat tertarik untuk masuk menjadi siswanya.

Jika dalam satu wilayah terdapat sekolah favorit dan sekolah kurang siswa, mereka harus mau berjuang bersama-sama, sekolah favorit berjuang bagaimana menyakinkan masyarakat dan warga sekolahnya bahwa siswa yang mereka terima hanya sesuai kepasitas yang ada sesuai ketentuan yang ditentukan Diknas, tidak melebihi, dengan upaya menambah ruang kelas baru, dan dengan ihlas hati menyerahkan menyarankan agar siswa yang tidak dapat tertampung di sekolahnya bersedia masuk menjadi siswa di sekolah yang kurang siswa. Sekolah yang kurang siswa harus berjuang untuk menjadi sekolah yang dicintai masyarakt sekitarnya, berjuang untuk menarik minat orang tua dan siswa agar bersedia menjadi siswa binaannya, setiap saat selalu bertikad dan berjuang untuk menjadi lebih baik. Semua element yang ada di sekolah kurang murid, harus menyadari bahwa tindakan mereka akan berdampak positif dan negartif terhadap perkembangan peserta didik. Dari itu semua harus berjuang agar hal-hal yang negatif yang dapat mendatangkan kurang simpatik ap
algi antipati oleh masyarakat dan calon siswa selayaknya wajib dihilangkan. Prilaku positif yang mendatangkan simpatik oleh masyarakat harus selalu dilaksanakan, agar terjalin hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat, karena kesamaan pandangan dalam sebuah tindakan.

Harapan

Semoga pada PPDB tahun 2021 ini tak ditemukan lagi sekolah yang berjubel menerima siswa barunya, masuk dengan berbagai cara agar bisa menempuh Pendidikan di sekolah yang di anggap favorit di zamannya, sehingga negara daerah harus terpaksa segera nenbuatkan ruang kelas barunya dan di sekolah lain terdapat ruang kelas kosong melompong, karena tak kebagian siswa barunya, berakibat kurangnya pendapat yang diperolehnya karena selama ini pendapatan selalu dihitung sesuai dengan siswanya. Jika itu yang terjadi masalah akan melebar hingga pada para pengajar yang akan menganggur, karena sedikit jam pelajaran, berimbas pada berkurangnya pendapatan gurunya.

Terjalinnya hubungan yang erat antara sekolah favorit dan sekolah kurang murid, sehinga mereka dapat saling membantu dalam mengatasi jumlah siswa yang akan menjadi peserta didik disekolah mereka, lahirnya “rasa senasip dan sepenangungan.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya