Ritel Gulung Tikar Siapa Bertanggung Jawab?

Oleh : Nurhikmah J
Pemerhati Masalah Ekonomi

Selama pandemi, perekonomian dunia porak poranda dan tak mampu bertahan menghadapinya. Banyak perusahaan gulung tikar, termasuk perusahaan ritel, baik yang besar maupun yang kecil.

Berdasarkan data yang didapat dari oke.zone.com, lima buah ritel raksasa tumbang di masa pandemi. Ritel tersebut di antaranya: Gramedia, Golden Truly, Centro, Matahari dan Giant. (economy.okezone.com, 1/6/2021)

Tutupnya perusahaan ritel yang notabenenya besar tentu akan berdampak pada jumlah pengangguran yang semakin meningkat. Meningkatnya pengangguran ini tentu akan berdampak pula pada angka kemiskinan, kriminalitas, gizi buruk, perceraian dan sebagainya.

Imbas yang paling dirasakan dari ditutupnya Giant adalah meningkatnya angka pengangguran. Data Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia menyebut, mulanya Giant memiliki karyawan 15.000 orang. Namun, setelah mengalami kerugian sejak dua tahun lalu, perusahaan mulai mengurangi karyawan, sehingga sudah setengahnya keluar.

Kini, setelah dihantam pandemi Covid-19, Giant resmi akan menutup seluruh tokonya. Sehingga, sisanya sebanyak 7.000 orang akan di-PHK. (cnbcindonesia.com, 28/5/2021)

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey mengemukakan, selama sembilan bulan (April—Desember 2020), sebanyak 1.200 toko atau rata-rata 4—5 toko ritel tutup per hari. Pada periode Januari—Maret 2021, tercatat 90 toko ritel atau 1—2 toko tutup per hari. Totalnya, sekitar 1.250—1.300 toko ritel di Indonesia tutup. (insight.konten.co.id, 6/5/2021)

Akar Masalah Ritel Gulung Tikar

Penutupan toko Giant milik PT Hero supermarket dan toko ritel lainnya menjadi tanda-tanda makin terpuruknya perusahaan ritel Indonesia. Adanya pandemi menjadi salah satu penyebab yang ikut andil mengubah perilaku belanja sebagian masyarakat dari offline menuju online. Keberadaan e-commerce pun dianggap sebagai penyebab terbesar tutupnya toko-toko ritel. Benarkah demikian?

Staf Ahli Aprindo (Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia) Yongky Susilo mengungkapkan bahwa memang pertumbuhan e-commerce cepat sekali, tetapi keuntungannya masih sangat kecil. Dari total revenue ritel di Indonesia, yang berasal dari belanja online sekitar 2—3 persen saja. Total ritel di Indonesia memiliki nilai mencapai Rp8.000 triliun, sementara e-commerce baru mencapai Rp120 triliun.

Menurut Yongky, terpuruknya sektor ritel utamanya dipengaruhi oleh krisis global yang juga berimbas pada Indonesia. Hal ini pun dialami oleh negara-negara lainnya. Kondisi ini membuat masyarakat menurunkan konsumsi ke produk yang lebih murah dan cenderung mengurangi konsumsinya. Termasuk di dalamnya fast moving consumer goods (FMCG) yang disodorkan toko ritel ikut mengalami penurunan.

Ketidak stabilan ekonomi dalam negeri yang ditandai dengan defisit neraca perdagangan, kebijakan impor yang mematikan produsen lokal, serta inflasi yang menyebabkan melemahnya mata uang rupiah yang menyebabkan harga barang dan jasa cenderung meningkat. Jika harga barang/jasa tinggi, tentu akan menurunkan daya beli masyarakat.

Selain itu, pendapatan masyarakat yang makin berkurang pun akan menurunkan daya beli. Apalagi ditambah angka pengangguran yang tinggi, tentu menyebabkan daya beli masyarakat makin turun drastis lantaran masyarakat tak memiliki uang untuk membeli barang yang harganya tinggi. Inilah yang menyebabkan toko ritel besar tak memiliki pembeli.

Oleh karena itu, fenomena tutupnya toko ritel bukan disebabkan karena pandemi yang mengubah perilaku belanja dari offline menuju online. Melainkan karena krisis global yang menghantam seluruh negara. Adapun pandemi hanyalah sebagai pemicu makin terjerembapnya krisis ekonomi yang berujung pada krisis multidimensi.

Berita Lainnya
1 dari 296

Krisis Global Akibat Sistem Kapitalisme

Penyebab terjadinya krisis global yang mendera dunia dan tak berkesudahan adalah akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme di hampir seluruh negara. Sistem ini pula yang paling bertanggung jawab atas berlarutnya pandemi. Karena kapitalisme telah melegalkan penanggulangan wabah di bawah korporasi multinasional yang tak memiliki kepentingan lain selain profit bagi perusahaannya.

Apalagi bagi negara dunia ketiga, negara berkembang yang sangat bergantung pada negara maju dalam pembangunan ekonominya, paling parah terkena dampaknya. Kenapa bergantung? Karena sumber APBN negara berkembang hampir seluruhnya berasal dari pajak dan utang. Pajak dari korporasi multinasional milik negara maju dan utang dari negara maju/lembaga keuangan dunia yang disetir oleh negara maju.

Namun jangan salah, sumber APBN yang bertumpu pada pajak dan utang bukan berarti negara berkembang miskin sumber daya alam dan tak memiliki aset ekonomi. Negara berkembang memiliki semua itu, bahkan melimpah ruah. Akan tetapi, atas nama liberalisasi dan privatisasi ala sistem kapitalisme, seolah korporasi asing berhak memiliki sumber daya alam mana pun.

Sang tuan rumah seolah tak memiliki hak melarang asetnya diambil jika perampok datang untuk mengambil barangnya. Tuan rumah pun tak memiliki hak untuk melakukan negosiasi harga dan barang mana saja yang boleh diambil dan tidak. Semua ini bisa terjadi karena si tuan rumah hanyalah “boneka” yang disimpan sang perampok demi memuluskan kepentingan.

Kekayaan alam yang dikuasai oleh perusahaan asing menjadikan manfaatnya tak sampai pada umat. Kebutuhan rakyat jadi tak terpenuhi dengan tuntas dan layak.

Lihatlah tarif listrik yang terus naik, BBM, PDAM, hingga harga pangan pokok yang terus tinggi, semuanya adalah akibat sektor tersebut dikuasai oleh asing.

Ditambah APBN yang bertumpu pada pajak, sehingga pemerintah terus menyasar rakyat agar bayar pajak. Padahal, beban hidup rakyat sudah makin berat di tengah pandemi dan kebijakan yang tak berpihak pada mereka. Seperti UU Omnibus Law Cipta Kerja yang sangat terlihat keberpihakannya pada pengusaha.

Jelas saja keuangan negara tidak beres, jangankan untuk membayar pajak, untuk makan pun sebagian rakyat kesulitan memenuhinya dengan layak. Semua ini menyebabkan negara tak memiliki dana untuk menanggulangi pandemi, karena utang pun nyatanya digerogoti oknum-oknum hingga tak tersisa. Akhirnya, rakyat dibiarkan sendiri mengurus urusannya. Wajar saja wabah makin menjangkiti.

Inilah derita hidup dalam sistem kapitalisme, pandemi tak mau pergi, kehidupan pun akan makin terimpit. Perusahaan ritel dan lainnya yang kolaps adalah ulah sistem yang bukan berasal dari pencipta.

Sistem Islam Selamatkan Dunia dari Gempuran Sistem Kapitalisme

Sudah terlalu lama rakyat menderita di bawah penerapan sistem kapitalisme. Sudah terlalu lama negeri-negeri muslim membungkuk pada negara maju yang menjajah tanpa disadari oleh sebagian masyarakat di negeri-negeri muslim, karena penjajahan yang dilakukan adalah penjajahan gaya baru dengan cara yang lebih halus dalam bentuk perjanjian dan sebagainya. Telah nampak kemudaratannya bukan hanya berdampak pada kehidupan umat manusia, tapi pada seluruh alam raya beserta isinya. Akibat kerakusan mereka, lingkungan dan hewan turut merasakan dampaknya.

Andai saja sistem kehidupan diatur oleh Islam, penanggulangan wabah tak akan berlama-lama. Sebab, satu nyawa saja bagi kaum muslim, harganya setara dengan seluruh dunia dan isinya. Misi menyelesaikan pandemi akan didorong dengan spirit menyelamatkan umat manusia, bukan sekadar menyelamatkan ekonomi dunia.

Andai dunia mau tunduk pada aturan Islam, pandemi dan juga krisis global atas izin Allah SWT akan cepat berakhir. Oleh karena itu, wahai kaum muslim, sungguh dunia membutuhkan Islam dalam mengatasi kekacauan yang dibuat oleh sistem bobrok kapitalisme. Dunia membutuhkan Islam agar umat manusia kembali menghirup udara sejuk yang menyegarkan jiwa raganya.

Maka dari itu, perjuangan mewujudkan kehidupan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiah yang mengikuti metode kenabian adalah perkara yang mendesak untuk dilakukan. Karena sistem Islam hanya akan bisa tegak secara sempurna dengan institusi pelindungnya yakni Khilafah Islamiah yang mengikuti metode kenabian tersebut. Tidakkah rindu diatur dengan sistem Islam yang notabenenya berasal dari Allah Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan? Wallahu a’lam bis shawab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya