Belajar Filantropi dari Nabi Ibrahim dan Ismail

Oleh : Ismail Wahid
Dosen dan Pemerhati Agama

Perayaan Idul Adha ini tentu tidak mungkin dapat dipisahkan dari sosok seorang Nabi dan putranya yang diabadikan kisahnya dalam Al Qur’an. Dia adalah Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Kedua orang mulia ini telah menjadi ikon atau simbol keteladanan dalam ketaatan, pengorbanan dan kesabaran. Ketaatan Ibrahim AS terhadap panggilan Allah SWT dan perintah-Nya untuk mengorbankan anaknya sendiri (walau pun akhirnya diganti Allah dengan seekor domba), tidak mungkin terjadi kecuali muncul dari keimanan dan kecintaannya kepada Allah yang melebihi segala galanya. Keimanan yang kuat akan mampu mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sebagaimana kejadian Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail. Oleh karena itu, Allah memberikan balasan terhadapnya dan dimasukan ke dalam golongan orang orang yang muhsin (berbuat baik). Selengkapnya bisa dilihat pada Firman Allah SWT, Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Ash Shaffaat : 110).

Apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail, memberikan penegasan bahwa keimanan seseorang tidaklah cukup dengan kelakar dan pengakuan semata, tetapi keimanan itu membutuhkan sebuah pembuktian, pengorbanan dan ujian. Oleh karenanya, salah satu nilai yang dapat diambil dari peringatan Idul Adha ini adalah kemampuan untuk berkorban dan berbagi kepada sesama. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”. (QS. Al Kautsar : 2)

Dalam ayat ini, Allah menyandingkan perintah shalat dengan pelaksanaan kurban. Ini artinya bahwa Islam sangat memperhatikan kesalehan sosial di samping kesalehan individual. Kedua kesalehan ini, sangat berkaitan satu sama lain, bahkan keduanya menjadi barometer terhadap kebenaran keimanan seseorang. Pantaslah bila siapa saja yang mampu untuk melaksanakan kurban, tetapi ia enggan atau tidak mau berkurban, maka Rasulullah SAW. Melarangnya mendekati tempat shalat beliau, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadits, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai ke lapangan (untuk berkurban) tetapi tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat (‘Id) kami”. (Ahmad, Ibnu Majah dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim).

Berita Lainnya

Cita-cita Tidak Sebatas di Angan-angan

1 dari 329

Ketika seseorang melakukan pemotongan kurban, maka pada saat itu juga ia harus sadar untuk memotong darinya sifat namimah (kehewanan). Hilangkan darinya sikap takabur, tamak, rakus, seta sikap individualisme. Bahkan Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran : 92).

Pada bagian lain, Rasulullah SAW pun menerangkan dalam berbagai hadits untuk melakukan ibadah sosial, untuk berbagi kepada sesama, diantaranya, seperti sedekah, dapat menolak bala, sabda beliau, “Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala, tidak pernah bisa mendahului sedekah”. (As-Sayuri). Sementara dari hadits yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Sabda beliau, “Obatilah penyakitmu dengan sedekah”. (as Suyuthi, dihasankan oleh Al-Bani). Dalam hadits yang lain, dijelaskan bahwa sedekah dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah sedekah, sebab sedekah bisa memanjangkan umur”.

Demikianlah pendidikan filantropi yang ingin ditanamkan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail, serta dipertegas oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Sejarah telah mencatat keberhasilan salafus saleh dalam pendidikan filantropi, sehingga berbagai krisis sosial dan kemasyarakatan dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, ayat yang menerangkan pelaksanaan ibadah kurban, Allah tutup dengan firman–Nya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikian Allah telah menundukannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah–Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang berbuat baik”. (QS. Al Hajj : 37).

Dengan semangat Idul Kurban ini, mari tingkatkan kesadaran diri untuk berkurban dan berbagi kepada sesama, sehingga apa yang digambarkan Rasulullah SAW tentang kondisi umat Islam yang bagaikan bangunan yang saling menguatkan dan memperkokoh, bisa terwujud dalam masyarakat.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya