Bertanggung Jawab terhadap Sampah, Manfaatkan Bank Sampah Digital

Oleh : Martha Herlinawati Simanjuntak
Pemerhati Masalah Lingkungan

Penanganan sampah sejak dari rumah merupakan satu hal krusial yang hendaknya dimiliki setiap anggota masyarakat sehingga sampah bisa tertangani sejak dari sumbernya.

Pengelolaan sampah tersebut dimulai dengan membudayakan proses pemilahan sampah dari sampah organik, anorganik dan residu sehingga bisa diberikan perlakuan yang tepat terhadap sampah tersebut tanpa harus menumpuknya di tempat pemrosesan akhir.

Timbunan sampah yang tidak tertangani dengan benar hanya akan terbuang ke lingkungan dan akhirnya mencemari lingkungan baik di darat maupun di laut.

Untuk itu, kesadaran, kepedulian dan tanggung jawab masyarakat terhadap sampah harus dibentuk sehingga pemilahan sampah menjadi suatu budaya bagi masyarakat.

Tanggung jawab masyarakat terhadap sampah mulai dibangun dengan pelibatan aktif masyarakat dalam penyaluran sampahnya ke bank sampah digital. Itu yang dilakukan Griya Luhu, suatu bank sampah digital yang didirikan oleh Ida Bagus Mandhara Brasika.

Ida yang merupakan dosen di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana di Provinsi Bali membangun bank sampah digital untuk mempermudah dan memberikan kenyamanan kepada masyarakat untuk mulai mengumpulkan, memilah dan mengantarkan sampah-sampah yang bisa didaur ulang ke bank sampah.

Bank sampah Griya Luhu berbeda dengan bank sampah lain karena bank sampah ini merupakan bank sampah digital melalui aplikasi yang bisa diunduh di telepon pintar masing-masing nasabah bank sampah.

Kegiatan bank sampah telah dimulai Ida sejak 2017. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 di bidang teknologi lingkungan di Imperial College London, Ida kembali ke Indonesia dan memulai Griya Luhu, suatu start-up di bidang eko-preneur yang fokus pada pengelolaan sampah yang bekerja sama dengan masyarakat setempat.

Griya Luhu bertujuan untuk mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan dengan menggunakan teknologi digital.

Griya Luhu mendorong integrasi teknologi digital dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pemilahan sampah di rumahnya. Dengan demikian, masyarakat menjadi subyek penggerak sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Namun, perkembangan bank sampah itu bisa dibilang stagnan atau hampir tidak ada pada 2017. Selama beberapa tahun, hanya ada tiga bank sampah saja yang terbentuk sampai tahun 2019. Saat itu, bank sampah masih dikelola secara konvensional atau manual.

Ketika pandemi Covid-19 melanda, semua bank sampah tutup di tahun 2020. Ida mulai berpikir keras. Dia menyadari meskipun ada pandemi Covid-19, namun masyarakat tetap menghasilkan sampah. Ketika bank sampah tutup justru akan menjadi masalah baru karena tidak ada lagi tempat penyaluran untuk sampah-sampah tersebut.

Akhirnya, Ida keluar dengan ide membuat aplikasi Griya Luhu sebagai bank sampah digital.

Lulusan S1 Meteorologi di Institut Teknologi Bandung itu menyadari ada beberapa kendala yang dihadapi bank sampah dengan sistem manual terutama sistem administrasi yang sulit. Dengan banyaknya jenis sampah dan orang yang berdatangan membawa sampah, maka proses pencatatan akan memakan waktu dan rumit.

Sementara dengan aplikasi bank sampah digital yang sudah ada di tangan masing-masing warga, warga sudah langsung memilah sampah berdasarkan jenis sampah dan mengetahui harga yang sudah tercantum untuk setiap item sampah. Warga itu menjadi nasabah bank sampah yang bisa memantau tabungan terkait banyaknya sampah yang telah dikumpulkan dan uang yang dihasilkan dari menjual sampah tersebut.

Ketika warga mengirim sampah ke bank sampah digital sama dengan mereka menabung sampah yang akan dinilai dengan nominal rupiah sehingga dapat menjadi sumber rupiah.

Dengan adanya bank sampah digital, selain membuat administrasi menjadi semakin mudah, masyarakat juga semakin nyaman dan diharapkan dapat menarik lebih banyak minat masyarakat untuk menyalurkan sampahnya ke bank sampah.

Tidak hanya itu saja, dengan data yang terukur maka dapat diketahui banyaknya sampah yang dikelola dengan benar. Itu akan menjadi masukan bagi pengambil kebijakan terkait penanganan sampah di wilayahnya.

Tujuan dari mengumpulkan sampah di bank sampah digital sebenarnya adalah menciptakan perubahan perilaku masyarakat di mana masyarakat saling bertanggung jawab terhadap sampahnya yang dimulai dengan memilah sampah.

Berita Lainnya
1 dari 292

Bank sampah digital di Gianyar, Provinsi Bali tersebut telah berjalan kurang dari setahun karena dimulai sekitar September atau Oktober 2020, dan hingga saat ini sudah ada 63 bank sampah dan sudah mencapai sekitar 18 desa/kelurahan, dengan 4.000 nasabah.

Ida yang mendapat penghargaan Tokoh Muda Paling Menginspirasi Kabupaten Gianyar mengakui masih banyak yang belum terlibat dalam kegiatan bank sampah. Oleh karena itu, pihaknya menargetkan lebih banyak nasabah bank sampah di Gianyar.

Di Gianyar, sampah dihasilkan sebanyak 421 ton per hari. Komposisi sampah di wilayah Gianyar mencakup di antaranya 60 persen sampah organik, dan 20-35 persen sampah berupa plastik, kertas, logam dan kaca.

Dengan estimasi 128,4 ton sampah yang bisa didaur ulang per hari, maka jika dijadikan uang dengan perkiraan 1 kilogram sampah sama dengan Rp1.000 maka ada uang senilai Rp128.400.000 yang terbuang per hari, jika sampah itu tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, sampah tersebut bisa menjadi sumber uang dengan menjualnya ke bank sampah digital.

Sampah organik sendiri bisa dikembalikan ke alam dengan cara diolah menjadi kompos, atau dikumpulkan dalam suatu lubang di tanah, dan akan terjadi pembusukan alami dengan sendirinya.

Sementara sampah anorganik yang bisa didaur ulang seperti plastik, kertas dan logam bisa dikumpulkan dan dijual ke bank sampah. Sampah anorganik itu akan dikembalikan ke industri untuk diolah lebih lanjut sehingga tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Ida menuturkan aplikasi bank sampah digital tersebut sudah digunakan di tingkat desa, dan dibuat sederhana sehingga mudah digunakan warga termasuk ibu-ibu di daerah yang mungkin literasi digitalnya rendah.

Selain ibu-ibu, anak-anak muda juga bisa memanfaatkan aplikasi bank sampah digital. Dari sejak kecil, mereka bisa belajar untuk peduli lingkungan, memilah sampah dan menabung sampah di bank sampah, hingga nantinya sampah yang terkumpul yang bisa didaur ulang itu akan dibeli dengan rupiah di bank sampah.

Dalam hal itu, bank sampah digital melatih masyarakat bertanggung jawab dan memilah sampah dengan benar.

Pada proses kerjanya, masyarakat memilah sampah di rumah sendiri berdasarkan tipe-tipe sampah yang tertera di aplikasi. Semua sampah itu bisa didaur ulang.

Sampah yang sudah dipilah itu dibawa ke titik pengumpulan di desa atau bank sampah untuk dikumpulkan, dicatat dan dinilai dalam nominal rupiah.

Selanjutnya, Griya Luhu akan mengangkut sampah itu ke gudang, kemudian memilahnya dengan lebih detail sebelum dibawa ke industri untuk proses daur ulang atau pemanfaatan kembali.

Ida mengatakan Griya Luhu bekerja sama Universitas Udayana dan Pemerintah Kabupaten Gianyar dan sedang membuat suatu peta digital untuk Kabupaten Gianyar yang akan berisi lokasi-lokasi bank sampah.

Masyarakat nantinya bisa menggunakan peta digital itu untuk mengetahui sejumlah informasi penting antara lain keberadaan bank sampah, narahubung yang bisa dihubungi di bank sampah tersebut, jam buka bank sampah, dan jumlah sampah yang sudah dikelola sehingga memudahkan pengelolaan dan penyaluran sampah ke bank sampah serta pendataan jumlah sampah yang sudah ditangani dengan baik.

Pemerintah Indonesia sangat peduli dengan masalah sampah karena sampah yang tidak terkelola dengan baik akan bisa mencemari lingkungan.

Sampah juga bisa menghasilkan gas rumah kaca seperti karbondioksida dan metana. Peningkatan gas rumah kaca di atmosfer akan berpengaruh pada peningkatan suhu udara atau pemanasan global, yang dapat berujung pada perubahan iklim.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar mengatakan kerja sama dengan melibatkan semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat dalam kolaborasi skala besar menjadi salah satu upaya untuk menangani masalah sampah.

Edukasi dan membangun kesadaran publik terhadap budaya memilah sampah menjadi salah satu langkah konkrit yang terus dilakukan.

Dengan membentuk masyarakat yang disiplin memilah sampah, maka diharapkan akan terbangun gaya hidup untuk pengelolaan sampah yang baik.

Berbagai upaya untuk mengelola sampah dengan benar didukung sepenuhnya oleh pemerintah termasuk mendidik masyarakat untuk memilah sampahnya.

Pelibatan peran aktif masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengelola sampahnya akan menjadi suatu kekuatan bagi bangsa dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kelangsungan hidup di muka bumi jika dilakukan secara kolaboratif dan dengan komitmen bersama.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya