Aktivitas Ibadah Dibatasi Tapi Proyek Tetap Beroperasi?

Oleh : Ummu Fahreza
Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan

Lagi-lagi kebijakan penguasa melukai hati mayoritas pemilik keyakinan negeri ini. Bagaimana tidak? Ditengah kekhusukkan menyambaut Idul Adha mereka seakan di ‘kurbankan’, dibebankan tanggung jawab untuk menghentikan lonjakan pandemi.

Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan untuk meniadakan shalat Idul Adha 1442 H di masjid maupun di lapangan terbuka yang dapat menimbulkan kerumunan pada zona yang diberlakukan PPKM Darurat.

Hal ini disampaikan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas usai menggelar rapat bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Polri, Kementerian Ketenagakerjaan, Dewan Masjid Indonesia (DMI), serta Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat (2/7/2021).

Sebagaimana diketahui, kebijakan PPKM Darurat diberlakukan sejak Sabtu 3 Juli hingga 20 Juli 2021 mendatang. Didalamnya, terdapat beberapa aturan baru yang lebih ketat. Salah satunya adalah menutup beberapa sarana publik dan sektor pekerjaan, termasuk penutupan rumah ibadah dan kegiatan konstruksi.

PPKM Darurat ini pun meliputi peraturan kerja di rumah (WFH) 100 persen untuk sektor-sektor nonesensial. Di sisi lain, sektor esensial dapat menerapkan work from office (WFO) sebanyak 50 persen dengan protokol kesehatan.

Kegiatan yang dibuka 100 persen adalah pelaksanaan kegiatan konstruksi atau projek pembangunan. Dengan catatan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat, pemerintah berharap cara ini akan efektif untuk mengendalikan situasi. Setidaknya, dengan belasan poin yang diatur dalam PPKM Darurat ini, aktivitas masyarakat bisa lebih diperketat, sehingga peluang perluasan penyebaran virus Corona yang variannya terus bertambah ini bisa lebih dikendalikan lagi.

Yang jadi pertanyaan, apakah dengan menutup tempat ibadah dan aktivitas Idul Adha kali ini akan mampu meredam lonjakan covid? Anehnya, justru kegiatan kontruksi diperbolehkan beroperasi 100 persen.

Sebagian pihak pesimis kebijakan tersebut bisa menjadi solusi jitu untuk mengendalikan situasi. Pasalnya, sejauh ini hampir tidak terlihat konsistensi dan keseriusan pemerintah dalam menangani pandemi ini. Masyarakat terkadang masih melihat kentalnya conflict of interest di level pemangku kebijakan. Sehingga, kebijakan terkait pandemi sering bertabrakan dengan kebijakan lain yang diterapkan.

Sebagai contoh, sebelumnya pemerintah sempat menetapkan pembatasan aktivitas ibadah dan menutup rumah ibadah. Namun di saat yang sama, tempat publik lain seperti pasar, mal, tempat makan, dan tempat wisata justru dibiarkan tetap buka. Kalau begini, bagaimana mau mendisiplinkan masyarakat?

Lebih jauh, ketidak-konsistenan itu telah berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Sekiranya penguasa menjalankan seluruh peran dan fungsinya dengan benar-sesuai ajaran Islam, rakyat akan berusaha mentaatinya.

Berita Lainnya
1 dari 292

Karena itu mestinya negera mengevaluasi dan mengoreksi kebijakannya agar sesuai aturan Allah. Bukan malah berkiblat pada kebijakan negara Adidaya nan kufur dan makin mengikatkan leher padanya.

Apa yang terjadi saat ini memang sangat menyedihkan. Inilah akibatnya ketika hidup jauh dari pengaturan syariat Islam. Semua kebijakan hanya didasarkan pada asas kemanfaatan karena lahir dari produk pemikiran yang dangkal dan sering kali justru membuka jalan penjajahan.

Alih-alih membawa masyarakat ke luar dari semua permasalahan, semua solusi yang diambil justru makin menjauhkan umat dari penyelesaian yang hakiki. Bahkan makin menjerumuskan mereka pada masalah yang lebih kompleks lagi.

Karenanya, umat betul-betul perlu dan harus melakukan perubahan. Yakni perubahan fundamental atas asas pengaturan kehidupan mereka. Dari yang berbasis akal pikiran atau kemanfaatan, menjadi pengaturan hidup yang berbasis akidah dan aturan Islam.

Aturan ini tak hanya berbicara aspek paradigmatis, tetapi memberi paduan praktis dan konstruktif. Hingga berbagai problem kehidupan manusia dari A sampai Z-nya akan mampu diselesaikan dengan ujung yang membahagiakan.

Termasuk saat manusia diuji dengan wabah. Islam memberi tuntunan terbaik bagaimana menghadapinya, baik di level individu, keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Dengan sistem ekonomi Islam dan keuangannya yang kokoh dan tersentral, sistem pendidikan dan informasi yang membangun dan mencerdaskan, juga ditopang dengan sistem administrasi yang memudahkan, serta sistem hukum lain yang menguatkan, semua problem wabah bisa di-cover dengan baik dan sangat cepat.

Bahkan saat negara harus mengambil kebijakan darurat, masyarakat tak akan seperti sekarat, apalagi hingga tercegah dari ibadah. Karena sejak awal, masyarakat sudah siap dan level kesejahteraan mereka tak berada dalam kondisi kolaps.

Sungguh patutlah merenungkan firman Allah SWT, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.” (QS Ath-Thalaq : 2—3).

Ketakwaan yang sempurna dengan hanya berhukum pada aturan Allah SWT semata, inilah yang hilang dan menjadi sebab utama munculnya berbagai kemudaratan yang tak berkesudahan.

Maka yakinlah, dengan takwa juga yakni kesiapan menjalani hidup berdasarkan tuntunan akidah dan syariat Islam sejatinya akan memperoleh sebenar-benar jalan keluar. Syiar-syiarnya pun akan kembali tegak. Bahkan, umat ini dipastikan akan kembali meraih kemuliaan. Wallu’alam

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya