Oleh : Ummu Arsy
Perempuan terus menjadi perbincangan dalam kancah kehidupan, dimana perempuan terus didorong dan aktif di sektor publik. Kehadiran sosok perempuan sangat diperlukan dalam meningkatkan perekonomian di keluarga, maupun bagi negara. Perempuan dan anak dianggap sosok yang menanggung beban paling berat akibat ketidaksetaraan yang terjadi di dunia.
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan rata-rata hanya 47 persen secara global, jauh di bawah laki-laki yang berada pada angka 72 persen. “Ini menjadi tantangan bersama, mengingat partisipasi angkatan kerja perempuan berada pada angka yang rendah, bahkan sebelum pandemi,” ujar Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Lenny N Rosalin saat G20 Empower menggelar 1st Side Event dengan tema “Creating Safer Workplace for Women Post Covid-19 Pandemic”, Selasa (29/3/2022).
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Ida Fauziyah dalam kesempatan yang sama mengatakan, pemerintah Indonesia terus mendorong G20 untuk meningkatkan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di seluruh dunia, melalui berbagai intervensi progresif untuk menurunkan kesenjangan partisipasi perempuan di dunia kerja. “Indonesia percaya dengan memajukan kesetaraan gender akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya untuk perkembangan perekonomian G20,” JAKARTA, investor.id, 23 Maret 2022.
Dan Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi bagian dari pelaksanaan G20 Presidensi Indonesia 2022, dengan menyelenggarakan side event Women20 (W20) yang berfokus pada upaya memperjuangkan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. W20 mengharapkan pemerintah hingga pimpinan negara mampu menempatkan isu pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender sebagai pusat diskusi global, terlebih dalam masa pemulihan ekonomi pasca Covid-19.
“Kami sangat mengapresiasi komitmen dari berbagai negara dalam rangka mendukung perempuan mencapai potensi mereka sebagai bagian dari pengentasan berbagai isu global yang terus berkembang hingga saat ini, salah satunya terkait kesehatan yang dibahas saat ini. Kami pun percaya, aksi nyata dapat mendorong pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender untuk berevolusi secara global,” kata Chair of W20, Hadriani Uli Silalahi, di Banjarmasin, Banjarmasin, InfoPublik Rabu (23/3/2022).
Sistem kapitalis sekuler yang berperan saat ini dalam perekonomian global menjadikan semua dinilai dengan materi sehingga perempuan akan dianggap berdayaguna kalau menghasilkan materi. Ditambah lagi isu gender yang menginginkan perempuan mendapatkan hak yang sama diruang publik. Agama dianggap memunculkan budaya patriarki yang menjadi penghalang kaum perempuan keluar rumah untuk menghasilkan materi, dimana Perempuan dianggap kaum lemah dan laki-laki kaum kuat, sehingga terjadilah perbedaan dalam ruang publik.
Perempuan Berdaya
Perempuan dan laki-laki adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan perbedaan fisik dan memiliki kelebihan masing-masing. Islam dengan aturan yang sempurna telah jelas pembagian peran dan tugas masing-masing. Syariat Islam menunjukan bahwa derajat laki-laki dan perempuan sama di hadapan Allah SWT. “Dan barang siapa mengerjakan amal saleh, baik lelaki atau perempuan, sedang dia beriman, mereka akan masuk surga dan mereka pula tidak akan dianiayai (atau dikurangkan balasannya) sedikit pun”. (QS. An-Nisa : 124).
Perbedaan peran dan kewajiban laki-laki dan perempuan bukan untuk membedakan derajat di hadapan Allah. Laki-laki bukan pula yang lebih kuat, begitu juga perempuan bukan pula yang lebih lemah. Sistem kehidupan Islam memposisikan kewajiban utama seorang muslimah adalah ummun wa rabbatul bait. Peran strategis dan politisnya itu dipastikan akan berjalan optimal karena Islam memberi jaminan finansial, keamanan, pendidikan, dan kesehatan yang memadai melalui penerapan syariat Islam kafah, seperti sistem ekonomi dan keuangan Islam, sistem sanksi Islam, dan sebagainya.
Dalam Islam perempuan yang tidak bekerja keluar rumah, akan tetap mendapatkan kedudukan tinggi dengan menjalankan kewajiban sesuai syariat Allah, seperti sebagai ibu pengatur urusan keluarga, mendidik anak-anak. Kalaupun harus keluar rumah, bukan untuk menanggung penafkahan keluarga, tetapi untuk menjadikan umat paham dengan Islam.
Sistem Islam yang mampu memberdayakan perempuan sebagai ibu dan melahirkan generasi dalam membangun peradaban Islam, tanpa harus menjadi pekerja dengan isu gender saat ini. Wallahu’alam.













