Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Hampir Hilang RUNE Menanjakkan Kembali Nasi Astakona

×

Hampir Hilang RUNE Menanjakkan Kembali Nasi Astakona

Sebarkan artikel ini
Hal 9 3 Klm Astakona
ASTAKONA- Rune bersama peduli budaya bertekat mengawal kehadiran kembali Nasi Astokona yang setiap acara Syukuran dan selamatan kini sudah ditinggalkan dan tampak kini warisan leluhur tersebut mulai dilestraikan. (KP/Istimewa)

Apa yang ditinggalkan dan ceritakan kalau bukan warisan budaya untuk anak cucu, karenannya mulai sekarang berkewajiban melestarikan pemotongan Astakona di setiap ada acara syukuran dan selamatan

BANJARMASIN, KP – Koordinator komunitas Rune H Sukhrowardi mengaku bertekat untuk terus mengawal budaya pemotongan Nasi Astokona hadir dalam sebuah acara syukuran yang selama ini hampir hilang dan jarang dijumpai lagi.

Kalimantan Post

“Kita bukan rasis ya, tetapi saat ini budaya potong nasi Astakona dalam acara syukuran hampir jarang ditemui sehingga sebagai warga Banjar ingin mengawal kembali mengahirkan nasi Astako yang hampir punah,’’ucap Sukhrowardi yang juga Anggota DPRD Kota Banjarmasin H Sukhrowardi kepada awak media, di Cofe Tradisi, Kamis (23/02/2022) sore.

Sukro juga mengakui sejak beberapa tahun hampir jarang ditemui Astakona, karenannya sebelum hilang warisan budaya leluhur ini hendaknya bisa kembali dibiasakan dikenalkan anak cucu kelak.

“Apa yang kita tinggalkan kepada anak cucu dan ceritakan kalau bukan warisan budaya, karenannya kita sebagai generasi muda tentu saja berkewajiban melestarikan budaya kedepannya,’’ucap Sukro yang memulai memotong nasi tumpeng persembahan Sri Anida.

Padahal, ujar budayawan Sri Naida, Astakona adalah suatu istilah dari sastra Indonesia lama yang berarti segi banyak. Nasi astakona merupakan gambaran dari banyaknya sajian dari yang dihidangkan pada suatu tempat, khusus dari talam yang bertumpang ‘banyak’ tiga atau lima susun.

Namun, katanya, banyaknya sajian itu merupakan sebuah kesatuan hidangan yang terdiri atas tiga komponen pokok makanan, yaitu nasi, lauk pauk, dan buah – buahan. Hidangan nasi astakona berasal dari tradisi kesultanan banjar untuk suatu upacara tertentu atau santap bersama dengan adanya tamu kehormatan. Namun dalam kurun waktu selanjutnya disajikan dalam acara ‘bededapatan’, yaitu santap bersama bagi pengantin setelah bersanding di pelaminan (betataian).

Baca Juga :  Takbir Keliling Banjarmasin Disorot, DPRD Minta Jangan Jadi Ajang Hambur-Hamburkan Anggaran dan Proyek EO

Demikian juga pencicipan nasi astakona. Secara simbolis penyendokkan pertama nasi astakona diambil dengan sendok kayu oleh seorang tokoh wanita tua dan menyerahkannya kepada tamu kehormatan.

Kemudian, bilamana dalam acara penganten, nasi tersebut diserahkan kepada kedua pengantin, selanjutnya diikuti oleh hadirin sesuai dengan kedudukan dan situasinya. Astakona sejak lama lazim tidak mempergunakan alat makan seperti sendok dan garpu karena di situ tersedia pula air tempat cuci tangan dan serbet kain. 

Filosofis

Nasi astakona sesungguhnya memiliki makna filososfis dalam tata kehidupan orang banjar, hal itu dapat dilihat dan dihayati pada beberapa sarana dan bagian – bagian penyajian.

Talam dalam jumlah tiga atau lima menunjukkan jumlah yang ganjil, dimana dalam setiap bilangan dan sarana masyarakat banjar selalu menggunakan angka ganjil.

Makanan terdiri dari tiga komponen pokok (nasi dari beras/padi yang tumbuh di tanah, lauk pauk dari ikan yang hidup di air, dan buah-buahan yang tinggi di udara) adalah menggambarkan keterikatan hidup manusia dengan tanah, air, dan udara.

Dalam beberapa momen tertentu orang banjar selalu mendahulukan peranan orang tua (termasuk pengambilan pertama secara simbolik nasi astakona) sebagai lambang penghormatan terhadap orang yang memiliki kelebihan dalam hal usia, pengalaman, kewibawaan, dan afdhol (keutamaan dan barakat. (nau/K-3)

Iklan
Iklan