Iklan
Iklan
HEADLINE

Masyarakat Diminta Waspada Penyakit LSD pada Sapi

×

Masyarakat Diminta Waspada Penyakit LSD pada Sapi

Sebarkan artikel ini
WASPADA LSD - Komisi II DPRD Kalsel melakukan konsultasi solusi pencegahan masuknya penyakit LSD pada sapi ke Kementerian Pertanian RI, kemarin, di Jakarta. (KP/dprdkalsel)

Jakarta, KP – Sekretaris Komisi II DPRD Kalsel, HM Iqbal Yudiannoor menghimbau masyarakat jangan lengah dan tetap waspada dengan distribusi sapi antar pulau, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.


“Jadi masyarakat jangan lengah dan tetap waspada dengan distribusi sapi antar pulau,” kata Iqbal Yudiannoor usai konsultasi ke Kementerian Pertanian RI, kemarin, di Jakarta.


Hal ini terkait maraknya pemberitaan wabah penyakit Lumpy Skin Desease (LSD) dan kebijakan Kementan untuk melarangan pengiriman sapi antar pulau agar penyebarannya tidak semakin meluas cukup meresahkan masyarakat.


“Memang belum ditemukan kasus di Kalsel, tetapi masyarakat harus tetap waspada,” ujar politisi Partai Amanat Nasional (PAN).


Apalagi kebutuhan daging sapi di wilayah Kalsel berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel masih dipasok dari luar daerah, dimana kebutuhan daging sapi pada 2022 mencapai 6,9 juta kilogram atai setara 52.000 ekor sapi.


“Ini menjadi perhatian khusus untuk mengambil langkah kongkrit agar kebutuhan daging terpenuhi, namun tetap aman dari wabah penyakit LSD,” ujar Iqbal Yudiannor yang memimpin rombongan Komisi II DPRD Kalsel.


Menyikapi lonjakan permintaan sapi, terutama untuk kebutuhan hewan kurban, Iqbal Yudiannoor menghimbau agar pedagang sapi lebih cermat dalam memilih sapi dari daerah mana saja yang akan dimasukkan ke Kalsel.


“Apalagi, sebagai daerah yang dinyatakan sebagai zona hijau jangan sampai dimasuki oleh sapi-sapi yang memiliki penyakit,” jelas wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalsel VI, meliputi Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru.


Selain distributor dan penjual, pembeli juga harus cermat memilih dan memilah sapi yang akan dibeli, karena biasanya sapi yang terjangkit LSD ditandai dengan adanya benjolan di kulit.


“Ini disebabkan vektor yang ditransfer nyamuk atau lalat,” tambah Iqbal Yudiannoor.


Karenanya, ia mendorong dinas terkait di Kalsel untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, agar aman mengkonsumsi daging sapi yang terkena penyakit LSD dan lainnya.


“Jangan sampai daging sapi yang kita konsumsi juga daging yang berpenyakit dan berkualitas buruk,” katanya.


Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Ir Bambang mengapresiasi keseriusan wakil rakyat dalam mengantisipasi peredaran virus LSD pada sapi sebagai wujud perhatian yang nyata untuk masyarakat.


“Ke depan, DPRD dan pemerintah daerah diharapkan dapat ikut serta memberikan edukasi kepada masyarakat di Kalsel,” kata Bambang.


Berdasarkan data per Juli 2022 sudah tidak ditemukan lagi sapi yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).


“Kami berharap untuk LSD pun juga begitu, semoga tidak ada kasus sapi yang terjangkit penyakit kulit tersebut,” tegasnya. (lyn/KPO-1)