Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Refleksi Satu Abad NU
Hidup NU Mati Muhammadiyah

×

Refleksi Satu Abad NU<br>Hidup NU Mati Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “DR KH Idham Chalid Ulama Politisi Banjar di Kancah Nasional”

Pada 16 Rajab 1344 H silam bertepatan 31 Januari 1926 adalah hari lahir organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dengan demikian di tanggal yang sama pada 1444 H ini, NU sudah berusia 100 tahun dalam hitungan tahun hijriyah. Mewarisi tradisi kesultanan-kesultanan Nusantara, NU menjadikan penanggalan hijriyah sebagai patokan hitungan. Lihat saja haulan para ulama, habaib, awliya dan sebagainya, bahkan haulan orang awam, selalu dihitung dengan tahun hijriyah.

Memasuki usia NU yang 100 tahun, ada hal yang menggembirakan, yaitu makin dekatnya hubungan antara NU dengan Muhammadiyah, padahal puluhan tahun silam kedua organisasi ini sempat bersitegang dan bergesekan gara-gara masalah khilafiyah. Bahkan ada yang mengatakan, sekarang ini banyak orang yang hidupnya secara NU, ketika meninggal secara Muhammadiyah. Maksudnya, banyak warga NU yang seumur hidupnya dan dalam menjalankan amal-ibadahnya, mengacu kepada ajaran atau aliran NU. Tetapi ketika meninggal dunia, mereka dibawa dan dishalatkan ke masjid Muhammadiyah yang dengan sendirinya mengikuti tatacara penyelenggaraan jenazah ala Muhammadiyah. Fenomena seperti ini ditemui di banyak daerah, termasuk di Kota Banjarmasin. Masjid Al-Jihad Banjarmasin boleh dikatakan setiap hari penyelenggarakan jenazah, banyak diantara orang yang menshalatkan dan jenazah yang dishalatkan adalah warga NU.

Perbedaan tipis

Jika diamati, tidak ada perbedaan mendasar antara penyelenggaraan jenazah ala NU dengan Muhammadiyah. Yang berbeda, paling-paling posisi jenazah. Penyelengaraan di NU, kepala jenazah laki-laki berada di posisi kiri imam dan makmum, perempuan posisi kepala di kanan. Di Muhammadiyah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan semua posisi kepalanya di sebelah kanan imam dan makmum. Penyelenggaraan di Muhammadiyah tidak ada doa, kecuali doa saat shalat jenazah saja, dan tidak ada pula kalimat penyaksian, seperti, “Isyhadu anna hadzal mayyit min ahlil khair” dan sejenisnya, yang dijawab, “khair-khair” oleh jemaah. Sesudah salam langsung dibawa ke mobil ambulance. Shalat jenazah orang NU sering dilaksanakan antara adzan dan iqamah shalat Zuhur, atau sebelum shalat Ashar. Sedangkan di Muhammadiyah umumnya dilaksanakan sesudah shalat Zuhur dan sesudah Ashar. Jadi, perbedaannya sangat tipis. Karena itu warga NU legowo anggota keluarganya dishalatkan di Masjid Muhammadiyah.

Baca Juga:  Peran Internet Of Things Dalam Menyongsong Kemajuan Smart City di Indonesia

Tetapi di luar urusan teknis, dapat diduga banyaknya warga NU memilih Masjid Muhammadiyah untuk penyelenggaraan jenazah, lebih karena urusan sosial ekonomi. Dengan dibawa dan diselenggarakan di masjid dan ala Muhammadiyah, urusan menjadi sederhana, tidak ribet, dan biaya ringan sesuai kemampuan. Tidak perlu menyebarkan amplop untuk peserta shalat jenazah, membeli kain kafan, memanggil tukang mandi jenazah, ambulance dan sebagainya, semua sudah satu paket. Jenazah diambil ke rumah duka oleh petugas, dan diumumkan pula secara online. Masjid Al-Jihad juga memfasilitasi warga tidak mampu, dengan bukti surat keterangan Ketua RT. Jika si mati atau keluarga tidak punya tanah alkah pekuburan, juga disediakan alkahnya. Semua dibawa dengan mobil ambulance yang cukup mewah (Innova dan Alphard), yang selagi hidup belum tentu pernah menikmatinya. Bagi keluarga, fasilitasi dan bantuan seperti ini sangat dibutuhkan, mengharukan dan tidak ternilai harganya. Teknis dan biaya kematian cukup jadi masalah bagi keluarga kurang ma
mpu. Hidup sulit mati pun susah.

Sama tapi tak serupa, fenomena begini juga merambah dunia pendidikan. Betapa banyak warga NU yang bersekolah di Muhammadiyah, dari pendidikan pra sekolah sampai pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Warga NU sama sekali tidak fanatik dan memilah-milih, ketika melihat sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah lebih berkualitas dan manajemennya bagus, ke sanalah mereka sekolah atau kuliah. Tidak heran lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah berkembang pesat.

Keadaan begini berbeda dibanding masa silam, khususnya era 1930 hingga 1970-an. Menurut penelitian Dr Ahmad Fedyani Saifuddin (1986), dosen UI Jakarta asal Alabio, di era itu gesekan antara NU dengan Muhammadiyah di Kalsel cukup keras. Jangankan jenazah warga NU dishalatkan di Masjid Muhammadiyah, orang NU shalat di Masjid Muhammadiyah saja seolah tabu, juga sebaliknya. Sampai urusan kawin “silang” antara warga kedua organisasi ini pun dihindari. Riset serupa oleh Rahmadi, akademisi Fakultas Ushuluddin UIN Antasari (2014), menemukan fakta kerasnya gesekan antara warga kedua organisasi yang dulu disebut Kaum Tuha dan Kaum Muda, hingga berdarah-darah dan memakan korban. Musyawaratut-Thalibin (MTh), sebuah organisasi kaum intelektual muslim Kalsel yang berdiri 1931 dan berusaha menjembatani dan merukunkan perbedaan, tidak sepenuhnya berhasil, sampai MTh bubar.

Baca Juga:  Partai Politik Mulai Bersiap Hadapi Pilkada 2020

Dekat dan cair

Sebenarnya sejak lama hubungan NU-Muhammadiyah semakin mencair dan mengarah kepada titik-titik persamaan. Buya Hamka (Muhammadiyah) dan KH Idham Chalid (NU) adalah dua tokoh yang berbeda ormas, tetapi sangat dekat, akrab, dan tidak mempermasalahkan perbedaan khilafiyah. Mereka elastis dan pandai sekali beradaptasi. Jika Hamka jadi imam shalat Subuh di masjid NU, beliau pakai ushalli dan membaca doa qunut. Bila Idham shalat Subuh di masjid Muhammadiyah, beliau tidak pakai ushalli dan qunut, begitu seterusnya untuk ibadah lainnya.

Jelang Muktamar NU dan Muktamar Muhammadiyah 1989, yang sama-sama diselenggarakan di Kota Yogyakarta, bahkan ada usulan agar warga atau tokoh NU yang berminat boleh menjadi anggota dan pengurus Muhammadiyah atau sebaliknya. Adalah KH Jusuf Hasyim, salah seorang tokoh NU dan Paman Gus Dur yang lebih dahulu menawarkan diri. Beliau ingin agar banyak warga NU berkeanggotaan ganda, sebagai anggota NU sekaligus anggota Muhammadiyah. Apabila Muhammadiyah mau, maka Pak Ud, sebutan Jusuf Hasyim, menjadi orang pertama dengan keanggotaan ganda.

Menanggapi usulan Pak Ud, sejumlah tokoh Muhammadiyah kala itu seperti Prof Dr H Amien Rais dan Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif menyambut baik. Alasan Syafii Maarif, trauma perpecahan masa lalu yang juga dikompori penjajah Belanda, tidak perlu dilanjutkan. Memang menyatukan kedua organisasi tidak mudah, memerlukan waktu. Tetapi setidaknya keinginan dan semangat ke arah itu harus ada dan tetap dipelihara. Sebagaimana Idham Chalid dan Buya Hamka, Prof KH Hasyim Muzadi dikenal sebagai tokoh NU yang dekat dengan Muhammadiyah, dan Prof Dien Syamsuddin sangat dekat dengan NU. MUI sebagai rumah besar ormas Islam juga memuat tokoh-tokoh agama kedua organisasi. Hanya belakangan usulan Pak Ud itu tidak kedengaran lagi tindak lanjutnya. Namun secara faktual, sudah amat banyak warga NU yang menjadi anggota atau pengurus Muhammadiyah, dan mungkin juga sebaliknya. Orang NU yang setuju pemikiran dan gerakan Muhammadiyah banyak. Orang yang dianggap Muhammadiyah, tetapi menjalankan tradisi amalan NU, tidak sedikit.

Baca Juga:  Driver Ojol, Antara Simpati dan Solusi

Sekarang pola berpikir umat, baik dalam rumpun NU maupun Muhammadiyah semakin maju. Tingkat pendidikan semakin tinggi, wawasan semakin luas. Di sisi lain tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dan umat Islam, internal dan eksternal, berat dan kompleks. Dalam kondisi demikian, semua organisasi keagamaan Islam sudah waktunya bersatu padu, bahu membahu. Perbedaan furu’iyah-khilafiyah sudah waktunya dikesampingkan. Tidak perlu lagi kita mempersoalkan Salafi, Wahabi, Aswaja, Syiah dan segala macam. Tidak ada guna dan untungnya juga dibesar-besarkan, tidak habis-habis dan menguras energi saja. Ujung-ujungnya hanya menimbulkan konflik dan perpecahan. Musuh yang sebenarnya justru tertawa gembira.

Perbedaan sudah terjadi sejak puluhan abad silam, justru persamaannya lebih banyak. Sepanjang suatu amalan memiliki dasar silakan, tidak baik sesama umat saling menyalahkan dan merasa benar sendiri. Lebih elok umat Islam di berbagai organisasi melakukan kerja-kerja positif-produktif, amar ma’ruf dan nahi munkar terpadu. Memajukan agama dan umat lewat organisasi lebih efektif ketimbang sendiri-sendiri. Ali bin Abi Thalib berkata, kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan