Urban Farming, Bisnis Menarik Sedikit Dilirik Milenial

PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Menjadi pertani milineal, terlebih di tengah kota yang dikenal dengan istilah urban farming, sebuah bisnis menarik, namun masih sedikit yang melirik.

Menurut Ketua Kelompok Usaha HidroponiK “Maestro Borneo Putra Farm”, Marselinus Pradana, kebutuhan sayuran segar organik pangsa pasarnya masih menjanjikan, terutama di Kota besar seperti Palangka Raya.

“Saya sejak usia 26 tahun sudah terjun ke bidang pertanian perkotaan, meski berlatar belakang S1 Pertambangan,” papar mas Marse, panggilan akrabnya, Rabu (6/12/2023).

Setelah berusaha selama 3 tahun digeluti bersama tiga karyawannya, baru menampakkan keberhasilan, walau hanya dengan mandiri, tanpa mengharapkan bantuan Pemerintah atau pihak investor.

Diungkapkan awal tertarik usaha pertanian perkotaan, akibat berhenti dari bekerja di perusahaan pertambangan, saat ingin menikah cari-cari pekerjaan atau usaha yang menjanjikan. Belajar dari kebutuhan sayur yang banyak di Kota Palangka Raya, khususnya tanaman organik, tertarik untuk menanam secara hidroponik.

“Pada awalnya memang sulit, dan gagal, tetapi paling tidak tidak sampai bangkrut, karena belajar dari internet. Untuk modal awal dijelaskan hanya sekitar Rp 3 juta, untuk buat pipa paralon, peralatan, pestisida, bibit dan pupuk,” ujar lelaki berusia 31 tahun ini.

Ia bersama istrinya semula mengusahakan unit pipa hidroponik di depan rumah, kini meningkat lebih dari 7.000 lubang tanam di areal lahan kosong.

Berita Lainnya
1 dari 2,436

Marse pun menuturkan, aktivitas sehari-hari mulai pukul 05.00 pagi, mulai urusa semai bibit, pemeriksaan kadar pupuk di tangki, memindah bibit dari semai, dan tahap berikutnya, hingga panen dan pengantaran ke langganan, tidak lah ringan, namun dinikmati saja.

Pria ini masih menanam dua jenis tanaman hidroponik, yakni pacoy dan selada. Pacoy dipanen 28-35 hari setelah tanam, dan selada antara 38-48 hari. Isi tiap paket pacoy dua rumpun per ikat/vag, dan untuk selada satu rumpun, yang dijual seharga Rp 7.000 per vac. Pihaknya mampu menyuplai hingga 70 per hari.

“Kelompok saya agar panen tiap hari telah diserang, dengan cara menebar bibit tiap hari, guna memenuhi kebutuhan langganan warung tempat mereka menitip produksi sayuran,” paparnya.

Dia pun mengungkapkan,
tantangan usaha urban farming cukup banyak, terutama pada awalnya saja, disebabkan banyak yang tidak menekuni.

Marse menyarankan ke generasi milenial, bila terjun ke pertanian hidroponik, harus siap mental, tingkatkan terus pengetahuan dan ketrampilan, jangan cuma percaya YouTube, atau medsos,

Terpisah Kepala Badan Statistik Kalteng Eko Marsoro mengatajan bisnis Urban Farming atau usaha pertanian perkotaan, baru tercatat 141 unit usaha (UTP).

Dari data itu, terbanyak di Kota Palangka Raya meliputi 43 unit usaha urban Farming atau 30 ,40 persen, sebagian lagi ada di Kabupaten Sukamara, Barito Timur, Gunung Mas terdapat 3 unit usaha, meliputi 12,30 persen.(drt/KPO-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya