ISTILAH MENUNGGANG NAGA

Oleh : ANDI NURDIN LAMUDIN

Di dalam ilmu persilatan gerakan bukan hanya mengandalkan tenaga fisik semata. Apalagi jika sebenarnya di dalam kondisi manusia yang paling parah dan kritis, maka ada dua kemungkinan apakah tenaganya atau napasnya. Namun yang namanya mati itu jika tidak bernapas. Napas adalah yang keluar masuk pada hidung. Maka inti kehidupan pada hal yang fisik adalah napasnya. Napas itulah tempat keluar masuk udara yang disaring pada paru-paru, yang kemudian menjadi bagian dari darah merah,yang kemudian dipompa oleh jantung pada seluruh tubuh.Kemudian karena itulah anggota tubuh dapat bergerak.

Ketika itu Busong, murid daripada Kimmo Taisu, pada cerita Kho Ping Ho, mrngalami sakit parah dan kelelahan pada perjalanan mengikuti gurunya menuju gunung yang tinggi. Padahal gurunya hanya menempuh dengan hitungan jam saja, sedang Busong hampir tiga hari baru sampai kepuncak gunung itu. Itu adalah syarat untuk diangkat sebagai murid oleh Kimmo Taisu. “Duduklah muridku dan atur napas, kemudian tahan dan kendalikan. Makin lama makin baik, ikuti jalan napas itu sampai menuju sendi-sendi tubuh. Karena perjalanan bathin di dalam mengikuti jalan napas itu sampai ke dekat pori-pori, tidak ubahnya seperti seseorang yang menunggang naga”. Sampai akhirnya ternyata setelah satu jam lebih, terasa tubuh dan tenaga bertambah, karena rasa lelah dan nyeri-nyeri sudah hilang dari tubuh Busong.

Berita Lainnya

Mengolah Sampah untuk Meraih Nilai Tambah

Penanganan Polusi Udara Di Ibu Kota Makin Semrawut

1 dari 937

Cara melatih napas adalah sebuah teknik daripada persilatan di dalam mengatur energi tubuh. Ini tidak lain sebagai “kekuasaan terhadap diri sendiri”. Atau menguasai alam mikrokosmos. Hal itu banyak diajarkan oleh Kho Ping Ho pada cerita silat. Negara Jepang sebagai Negara beladiri “karate” atau hanya mengandalkan tangan untuk menguasa hidup, juga tidak lepas dengan berbagai cara teknik pernapasan. “Karena dengan menguasai jalan napas, maka sama saja dengan menguasai jalan hidup”.

Dimana titik-titik akhir kehidupan, dapat dilihat pada napasnya. Apalagi jika pada akhir hayat itu menyebut, “Tiada Tuhan selain Allah”. Mereka yang menguasai napas itu sangat jelas sekali, jika udara yang merupakan energy pada pernapasan itu,merupakan ciptaan Tuhan atau katakan juga makhluq yang banyak tidak diketahui manusia. Hanya ada di dalam ilmu pengatahuan IPA, serta jika oksigen itu, dapat dikatakan atom atom yang bergerak yang merupakan sistim yang lebih halus lagi. Mengetahui napas itu sendiri sangat mengerti jika di dalam napas dan udara juga bisa terjadi penyebab penyakit virus, yang menyebabkan penyakit batuk, pilek dan flu bahkan Covid-19. Karena itu mereka mendapat hidayah untuk menguasai napas itu sendiri, seperti dapat mengendalikan jalan hidupnya.

Namun sebagai orang yang beriman, hal istilah “menunggang naga” akan membuka tabir yang lebih tinggi lagi mengenai istilah “menunggang buraq”. Apalagi jika pada bulan Rajab yang mulia ini, ternyata hal itu kembali menjadi topik utama di dalam pembicaraan kehidupan seorang Rasul terakhir di zaman ini. Tentunya dengan menunggang buraq itu, maka sampailah Nabi Muhammad SAW menuju langit ketujuh. Lalu apakah buraq itu sendiri? Sedangkan Jibril juga menggiring nabi yang mulia itu. Artinya ada tiga hal di dalam perjalanan itu sendiri. Yaitu Nabi Muhammad SAW, buraq dan malaikat Jibril.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya