Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

KEHIDUPAN PENUH BERKAH

×

KEHIDUPAN PENUH BERKAH

Sebarkan artikel ini

Oleh : H AHDIAT GAZALI RAHMAN

Semua manusia yang hidup di dunia pasti menginginkan kehidupan yang penuh berkah, namun keiingian tersebut terkadang tidak diberingi oleh usaha manusia itu sendiri. Sedangkan Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar Ra’d : 11)

Kalau mengkhususkan tentang kehidupan bangsa, daerah, komunitas, keluarga atau secara pribadi. Apakah sudah merubah diri menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, masa, zaman atau malah lebih jelek dari tahun berikutnya. Jika belum, tentu merubah ke yang lebih baik maka wajar kehidupan bangsa dari tahun ketahun, dari masa kemasa, atau zaman ke zaman selalu merasa kekurangan jauh kemampuan.

Setiap Muslim pasti mendambakan kehidupan yang penuh keberkahan. Berkah, dalam bahasa Arab disebut barakah, yakni kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). Keberkahan ini selalu menjadi idaman setiap muslim, dan Islam sangat menganjurkan hal, maka setiap berjumpa sesama muslim dianjurkan mengucapkan salam, yang berarti mendoakan hidup penuh kedamaian, kasih sayang, dan keberkahan. Hidup penuh berkah menjadi limpahan kebaikan dan selalu mendapat petunjuk Allah SWT.

Islam menganjurkan agar hidup penuh berkah, ada beberapa yang harus dilaksanakan. Menurut Iman Maghazi al-Syarqawi, hidup penuh berkah itu dapat diaktualisasikan dengan meneladankan enam sikap dan sifat terpuji.

  1. Membiasakan sifat malu yang positif. Malu (al-haya’) adalah kunci keutamaan sebab rasa malu membuat Muslim bersikap hati-hati untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW pernah memberi nasihat kepada para sahabatnya. “Hendaklah kalian merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” Para sahabat menimpali, “Alhamdulillah, kami sudah merasa malu kepada Allah, ya Rasul.” Rasul lalu menyatakan, “Tidak, kalian belum merasa malu. Orang yang betul-betul merasa malu di hadapan Allah hendaklah menjaga kepala berikut isinya (pikiran positif), menjaga perut berikut isinya (makanan dan minuman yang halal dan thayib), dan mengingat mati serta musibah. Siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, hendaklah meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang sudah melakukan itu semua, berarti telah betul-betul memiliki rasa malu.” (HR Tirmidzi).
  2. Bersyukur karena ia merupakan kunci peningkatan rezeki. Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, syukur merupakan pujian dan pengakuan hamba terhadap nikmat Allah yang disertai rasa cinta dan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana firmanNya, “Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku”. (QS. Ibrahim : 14)
  3. Tutur kata dan komunikasi yang baik (al-kalam al-thayyib). Hal ini merupakan kunci terbukanya hati dan pikiran. Komunikasi dan tutur kata yang baik adalah sedekah. Sedekah yang paling ringan dan mudah adalah memberi senyuman kepada sesama. Nabi Muhammad pernah mewarkan kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan, maka kalian akan dapat saling mencintai?”. Nabi SAW bersabda, “Tebarkanlah salam di antara kalian”. (HR Muslim).
  4. Berbakti kepada kedua orang tua. Sikap ini merupakan kunci keridhaan dan kesuksesan hidup. Keridhaan dan doa orang tua merupakan pintu masuk segala kebaikan dan keberkahan hidup.
  5. Menghiasi diri dengan sifat qanaah (merasa berkecukupan). Sifat ini merupakan kunci kekayaan. Orang yang bersifat qanaah tidak akan serakah dan egois sehingga ia tidak mudah tergoda oleh kekayaan duniawi.
  6. Konsisten dan teguh pendirian (al-mudawamah wa al-istiqamah) dalam berdoa. Doa adalah kunci segala kebaikan dan ketenteraman jiwa. Doa adalah kekuatan dan energi spiritual hamba kepada Allah. Dengan doa, seorang Muslim mengembalikan segala persoalan kepada Allah SWT.
Baca Juga:  Kaum Milenial Harus Miliki Makna Semangat Sumpah Pemuda

Tidak akan dapat melakukan itu semua jika kita menyakini Iman, berilmu agama, melaksanakan Amal sesuai petunjuk Al Qur’an dan Al hadis, sehingga kita dapat dikatagurekan orang yang bertaqta, itu semua akan menjadi alat untuk menuju kehidupan berkah sebagaimana janji Allah SWT, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al A’raf : 96).

Meraih hidup penuh berkah harus senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus mendekatkan diri dengan sesamanya melalui kesalehan personal, ritual, dan kesalehan sosial serta moral.

Iklan
Iklan