Banjarbaru, KP – Melalui inovasi pemanfaatan alat pencacah, Dinas Kehutanan Kalsel berhasil mengolah ratusan kilogram daun gugur saban pekan menjadi pupuk ramah lingkungan yang mendukung penghijauan sekaligus menekan biaya operasional.
Alat pemecah limbah daun ini sebelumnya digunakan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tanahlaut dan dipindahkan ke Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (THTI) Banjarbaru untuk mendukung produksi pupuk organik.
Program telah berjalan sekitar dua pekan dan menunjukkan hasil yang cukup signifikan.
Dalam seminggu, petugas mampu mengumpulkan sekitar 400 kilogram daun kering. Jika dihitung dalam satu bulan, jumlahnya mencapai sekitar 1,4 ton bahan baku.
Prosesnya, limbah daun yang dihancurkan dijemur terlebih dahulu, sebelum kemudian di campur kotoran sapi dan EM4 dan molase. Selanjut disungkup.
Setelah melalui proses, limbah daun tersebut dapat menghasilkan sekitar 700 kilogram kompos.
Dengan tingkat rendemen sekitar 70 persen, produksi kompos diperkirakan mencapai hampir satu ton setiap bulan.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, mengatakan kompos yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman rehabilitasi hutan dan lahan (RHL).
“Termasuk berbagai tanaman yang berada di lingkungan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia ini,” kata Aya, sapaan karib kadishut.
Langkah ini dinilai sangat efektif karena selain menjaga kebersihan lingkungan, juga mengembalikan unsur hara ke tanah secara alami.
“Dari alam kembali ke alam,” timpalnya.
Selain memberikan manfaat ekologis, program ini juga berdampak pada efisiensi anggaran.
Penggunaan kompos hasil produksi sendiri secara otomatis mengurangi kebutuhan pembelian pupuk kimia maupun pupuk kandang dari luar.
Pengelolaan kompos tersebut dilaksanakan oleh koperasi internal dinas kehutanan, sehingga menciptakan siklus pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan.
Adapun konsep yang diusung adalah dari “alam kembali ke alam” yakni memanfaatkan limbah organik untuk mendukung keberlanjutan ekosistem.
Ke depan, produksi kompos ini direncanakan tidak hanya memanfaatkan daun dari lingkungan kantor dan taman hutan, tetapi juga dari kawasan perkantoran lain di sekitarnya.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, langkah ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Nantinya, kami akan mengurus perizinan edar agar kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat, sekaligus menjadi contoh praktik pengelolaan sampah organik yang edukatif dan ramah lingkungan,” tukas Aya. (mns/K-2)















