Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Tashkent Hadirkan Museum Peradaban Islam Terbesar di Dunia

×

Tashkent Hadirkan Museum Peradaban Islam Terbesar di Dunia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260426 WA0032 e1777170701859
Suasana museum Peradaban Islam terbesar di Tashkent menjembatani gap sejarah lintas generasi melalui perpaduan koleksi artefak asli dan sentuhan teknologis berbasis AI. Kalimantanpost.com - Foto/Rofi

TASHKENT, Kalimantanpost.com – Petualangan Kalimantan Post di Asia Tengah terus berlanjut. Kali ini kami berkunjung ke Tashkent, jantung ibukota negara berpopulasi 37 juta jiwa, Uzbekistan. 

Di Tashkent terdapat pusat warisan budaya Islam yang menaungi makam pertama kota tersebut, Abu Bakar Muhammad Kaffal Sashi bernama Hazrati Imam Complex ya g terletak di kota tua distrik Olamazor. Kompleks ini mencakup masjid, madrasah berusia ribuan tahun dan yang terbaru adalah Museum Peradaban Islam Terbesar di Dunia ” Center for Islamic Civilization (CISC). 

Kalimantan Post

Museum yang dibuka secara resmi pada 17 Maret 2026 oleh Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev telah diakui sebagai Museum Peradaban Islam Terbesar di dunia oleh Guiness Book of Record dengan spesifikasi bangunan tiga lantai, membentang sepanjang 161 meter dan lebar 118 meter, dengan total luas mencapai 42.000 meter persegi. 

IMG 20260426 102932

Kalimantan Post didampingi Izzat, wakil pengurus CISC serta Muhammad, General.Director UzTourist dan dipandu oleh seorang relawan yang juga guru bahasa Inggris, Sitora Husinova , kami seperti menelusuri lorong waktu 3000 tahun sejarah Islam dan peradaban ilmu pengetahuan yang lahir di negara Uzbekistan. 

Begitu melangkah masuk, pengunjung akan langsung memahami mengapa proyek senilai sekitar USD 200 juta yang digagas Presiden Shavkat Mirziyoyev ini langsung menarik perhatian dunia. Dirancang sebagai perpaduan museum, pusat riset, dan simbol budaya modern,dalam narasi sejarah yang luar biasa megah dari Gerbang Timurid hingga Kaligrafi “Iqra”.

Pemandu relawan menjelaskan bahwa setiap sudut bangunan ini memiliki makna simbolis yang dalam. Delapan tahun proses pembangunan menghasilkan perpaduan harmonis antara gaya klasik era Kekaisaran Timurid dengan teknologi modern. Empat gerbang utamanya, yang melambangkan persatuan seluruh wilayah Uzbekistan, memiliki tiang setinggi 34 meter yang merupakan replika dari gerbang madrasah bersejarah Mirzo Ulugbek di Samarkand. Kaligrafi ayat pertama Al-Qur’an yang diwahyukan, “Iqra” (Bacalah), menghiasi pintu masuk utama, sebuah pesan simbolis yang mengingatkan pentingnya membaca sebagai jendela ilmu. 

Baca Juga :  Wamen Agraria-ATR Sebut Reforma Agraria Untuk Mewujudkan Kemakmuran Rakyat

Saat menelusuri galeri-galeri bertema, mulai dari “Peradaban Pra-Islam”, “Renaisans Pertama”, “Renaisans Kedua”, hingga “Uzbekistan Modern” , kami dibuat terkesima oleh konsep pendekatan CISC yang futuristik dan tidak hanya memajang artefak bergaya museum konvensional; di sini, kami diajak berdialog langsung dengan sejarah.

Teknologi realitas virtual (VR), augmented reality (AR), dan kecerdasan buatan (AI) menghidupkan naskah-naskah kuno abad ke-9. Di “Hall of Honor”, avatar digital dari ilmuwan legendaris seperti Ibnu Sina (Avicenna), Imam Bukhari dan Al-Khawarizmi “datang” berbicara di hadapan kami lewat panel sentuh interaktif dan siap diberikan pertanyaan apa saja tentang kehidupan mereka.

Bahkan, pengunjung muda dapat bersenang-senang di “kapsul waktu” interaktif dan museum anak yang dirancang khusus, memastikan bahwa pencerahan ilmu pengetahuan diwariskan lintas generasi. 

Wakil Pengurus CSIC, Izzat menekankan kepada bahwa CISC adalah simbol kebangkitan intelektual “New Uzbekistan”. Dalam kurun waktu setahun terakhir, pusat ini berhasil memulangkan lebih dari 2500 artefak asli Uzbekistan yang tersebar di penjuru dunia melalui kerja sama dengan rumah lelang internasional seperti Christie’s dan Sotheby’s,disamping kerjasama dengan warga yang memiliki koleksi pribadi peninggalan leluhurnya. 

Lebih lanjut menurut Izzat, kehadiran kantor perwakilan lembaga dunia seperti Oxford Centre for Islamic Studies dan ICESCO di dalam kompleks ini mengukuhkan statusnya sebagai pusat intelektual global yang baru.

“Baru sebulan buka sejak Maret 2026, pengunjung CISC telah mencapai lebih dari 150.000 pengunjung, dan kami menunggu kunjungan warga Indonesia disini” ujar Izzat dengan ramah. 

Puncak dari tur kami adalah “Quran Hall” atau Aula Al-Qur’an, yang oleh Sitora disebut sebagai “jantung spiritual dari pusat ini”. Di bawah kubah megah, langit-langitnya dihiasi hologram yang mereproduksi peta bintang di langit Tashkent, dipercantik dengan 90 kristal Swarovski dan lebih dari 650 titik lampu. Ditengah kubah Qur’an hall terdapat mahakarya yang paling memikat yaitu Mushaf berdarah Utsman bin Affan (Utsman Quran) . 

Baca Juga :  Milad ke-22 Ambapers, Zulfadli Gazali Sebut Alur Barito Bebas Pasang Surut, Dongkrak Ekonomi Regional dan Stabilitas Inflasi Kalsel

Naskah suci Utsman bin Affan dari abad ke-7 ini, diyakini sebagai salah satu manuskrip Al-Qur’an tertua di dunia dan telah diakui UNESCO, menjadi mahkota dan pusaka paling berharga yang dimiliki CISC. Di sekelilingnya, terdapat 114 manuskrip Al-Qur’an langka lainnya dari berbagai era dinasti Islam, masing-masing mewakili jumlah surat dalam Al-Qur’an.

Pada jam tertentu, di hall ini digelar sajian permainan lampu hologram berlafaz Surah Al ‘Alaq yang menggema seolah keluar dari Utsman Qur’an dengan indah dan dalam.suasana gelap bertemaram cahaya Qur’ani pengunjung seakan dibawa ke masa Rasulullah menerima wahyu Jibril yang pertama. 

Bagi anda  yang tertarik untuk berkunjung ke Museum Pusat Peradaban Islam di Tashkent, siapkan tiket masuk warga asing mulai USD 25 untuk kelompok tour dengan durasi 2 jam atau tur individu durasi full day sebesar usd 45 hingga usd 65. Jangan lupa siapkan energi karena perlu waktu 2-3 jam menelusuri lorong waktu dirumah para leluhur ilmu pengetahuan dunia ini. (Rrz/KPO-1)

Iklan
Iklan