Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Pegiat Sasirangan Bersaing Tampilkan Karya Terbaik di HUT ke-500 Banjarmasin

×

Pegiat Sasirangan Bersaing Tampilkan Karya Terbaik di HUT ke-500 Banjarmasin

Sebarkan artikel ini
IMG 20260517 WA0046 2 scaled e1779017627697
Lomba Desain Motif Sasirangan Dalam Rangka Harjad Kota Banjarmasin ke-500 Tahun di Rumah Kemasan, Minggu (17/05/2026). (Kalimantanpost.com/Repro Humas Pemko Banjarmasin)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) kembali menggelar Lomba Desain Motif Sasirangan (LDMS) Tahun 2026.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya nyata pemerintah untuk terus melestarikan sekaligus mengembangkan kain sasirangan sebagai warisan budaya khas Banjar yang sarat nilai sejarah.

Kalimantan Post

Lomba yang mengusung tema “Melestarikan Budaya Maharagu Warisan Sasirangan di 500 Tahun Banjarmasin Maju Sejahtera” itu berlangsung di Aula Rumah Kemasan Disperdagin Kota Banjarmasin, Minggu (17/05/2026).

Suasana acara berlangsung meriah dengan diikuti para pegiat sasirangan dari berbagai kalangan, mulai dari pengrajin pemula hingga para juara lomba tahun-tahun sebelumnya.

Kegiatan tersebut dibuka Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR didampingi Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj Neli Listriani. Turut hadir Plt Kepala Disperdagin Kota Banjarmasin Noorsyahdi, para dewan juri, serta sejumlah tamu undangan dan pegiat industri kreatif lokal.

Pelaksanaan lomba ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Banjarmasin untuk menjaga eksistensi Sasirangan di tengah perkembangan zaman. Tidak hanya sebagai produk tekstil, Sasirangan juga dipandang sebagai simbol identitas budaya masyarakat Banjar yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Setiap peserta menampilkan desain motif terbaik yang telah mereka persiapkan sejak satu bulan sebelumnya. Beragam karya dengan perpaduan warna, bentuk, dan filosofi budaya Banjar tersaji dengan kreativitas yang tinggi, menunjukkan bahwa sasirangan terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.

Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj Neli Listriani menjelaskan bahwa pada tahun ini lomba dibagi menjadi dua kategori, yakni reguler dan best of the best. Pembagian kategori tersebut dilakukan agar peserta pemula maupun para juara terdahulu memiliki ruang yang sama untuk berkompetisi secara sehat.

Baca Juga :  Ratusan Mahasiswa Kepung DPRD Kalimantan Selatan, Soroti Pendidikan dan Transparansi Program MBG

“Ini dalam rangka 500 tahun Kota Banjarmasin, kami mengadakan lomba desain motif sasirangan dengan dua kategori, yaitu reguler dan best of the best,” ujar Neli.

Ia menjelaskan, kategori best of the best diperuntukkan khusus bagi para pemenang utama pada lomba-lomba sebelumnya. Mereka kembali dipertemukan untuk menghasilkan karya terbaik dari yang terbaik dalam momentum istimewa peringatan lima abad Kota Banjarmasin.

“Kalau sebelumnya biasanya hanya reguler saja, sekarang ada best of the best karena sudah banyak pemenang juara utama tahun-tahun sebelumnya, jadi pada momentum 500 tahun ini, sesama pemenang kami lombakan kembali untuk mencari motif yang memang terbaik dari yang terbaik,” jelasnya.

Menurut Neli, usia 500 tahun Banjarmasin merupakan momentum penting untuk menghadirkan karya sasirangan yang semakin berkualitas dan memiliki nilai artistik yang lebih tinggi, namun tetap berpegang pada nilai budaya dan sejarah asal-usul sasirangan.

“500 tahun bukan perjalanan yang singkat, di usia 500 tahun Banjarmasin, kami ingin memiliki motif yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, namun tetap tidak meninggalkan budaya asal munculnya sasirangan,” katanya.

Sementara itu, kategori reguler dibuka untuk memberi kesempatan kepada para pengrajin baru agar dapat menunjukkan kreativitas dan inovasi mereka. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan talenta-talenta baru yang akan memperkaya khazanah desain sasirangan di masa mendatang.

Dalam proses penilaian, peserta tidak hanya dinilai berdasarkan keindahan desain semata. Dewan juri juga menilai filosofi, makna motif, pemilihan warna, serta kemampuan peserta menjelaskan konsep yang melatarbelakangi karya yang mereka buat.

“Kami mengundang budayawan, ahli sejarah, dan desainer sebagai dewan juri, pengrajin juga harus bisa menjelaskan filosofi kain yang dibuat, alasan pemilihan warna, hingga penempatan motif pada pakaian,” tutur Neli.

Baca Juga :  Ribuan Warga Banjar Padati Halalbihalal KBB di Kraton Majapahit, Paman Birin Sebut Jaga Warisan Budaya, Jangan Bacakut Papadaan

Ia menambahkan, peserta diperbolehkan melakukan berbagai kreasi dan pengembangan motif, namun tetap harus mengacu pada 13 motif dasar sasirangan khas Banjar, seperti gagatas, gigi haruan, dan berbagai motif tradisional lainnya.

Menurutnya, sasirangan bukan sekadar kain dengan nilai estetika tinggi, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam budaya Banjar. Dahulu, sasirangan digunakan sebagai media pengobatan tradisional dan hanya dikenakan oleh kalangan kesultanan.

Kini, sasirangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat luas dan berkembang menjadi produk unggulan daerah. Namun demikian, nilai sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya harus tetap dijaga agar tidak hilang ditelan modernisasi.

Melalui Lomba Desain Motif Sasirangan Tahun 2026 ini, Pemerintah Kota Banjarmasin berharap sasirangan semakin dikenal luas, terus berkembang secara kreatif, serta tetap menjadi identitas budaya yang membanggakan bagi Kota Seribu Sungai di usia yang ke-500 tahun. (nug/KPO-3)

Iklan
Iklan